Rabu, 30 Desember 2009
Rest In Peace: Gus Dur
Tadi sore ada kabar tentang meninggalnya Gus Dur. Turut berduka cita.
Seorang lagi tokoh yang penuh warna di Indonesia telah pergi. Bisa-bisa sebentar lagi tokoh yang beredar bisa-bisa berwarna biru semua.
Gus Dur, memang aku tak pernah beruntung bertemu dirimu. Aku juga mungkin tak selalu setuju dengan gaya dan pernyataanmu. Aku juga rasanya pernah merasa antipati pada figurmu yang sepertinya dimanfaatkan dan membiarkan dirinya dimanfaatkan.
Tapi aku merasa bahwa pada dasarnya dirimu orang baik.
Juga, kuharap amalmu diterima Tuhan yang akan menerima tiap amal kita, menerima jiwamu seperti Dia menerima jiwa kita manusia yang punya baik dan salah.
Semoga istirahatmu tenang untuk selamanya.
Amin.
Senin, 28 Desember 2009
Rekor Yang Tak Pantas
Alasan kenapa begitu banyaknya peserta nikah massal adalah -- berdasarkan keterangan pejabat berwenang -- karena ternyata banyak pasangan yang telah menikah di daerah tersebut tapi tak mendaftarkan dan tak memiliki surat nikah resmi karena berbagai macam alasan, terutama karena tak ada biaya untuk itu. Jadi banyak peserta yang memanfaatkan acara ini untuk mendapatkan surat nikah resmi karena tak dipungut biaya. Acara ini bisa begitu ramai karena para peserta juga membawa anak bahkan cucu(!) ke lokasi. Sungguh meriah.
Begitu banyaknya peserta, dikatakan di berita itu, bahkan petugas MURI dan panitia sempat kesulitan mencatat jumlah peserta sebenarnya.
Kemudian ditunjukkan Piagam MURI yang dipegang dan dipamerkan dengan penuh kebanggaan oleh pejabat dan/atau pihak-pihak terkait(?).
Bodoh.
Di balik penghargaan Piagam MURI itu yang dipegang dan dipamerkan dengan bangga karena merasa berprestasi, sangat menohok perasaan bahwa orang-orang itu tidak menyadari bahwa selembar kertas itu juga berarti bukti buruknya kondisi bertahun-tahun di sana.
Bayangkan, sepasang suami-istri bisa sampai punya cucu tapi tak memiliki surat nikah resmi yang berarti keturunan mereka selama ini tak dianggap negara sebagai keturunan sah dari pernikahan tersebut dan biarpun mungkin pernikahan mereka diakui agama tapi menurut negara mereka dianggap tidak sah dan itu sama saja dengan pasangan kumpul kebo.
Selembar kertas Piagam MURI untuk rekor pelaksanaan nikah massal dengan peserta terbanyak itu bukanlah prestasi bila alasan pesertanya adalah karena ketiadaan biaya untuk menempuh prosedur resmi dengan biaya yang tercantum sesuai peraturan negara.
Itu dapat diartikan bahwa begitu banyaknya orang yang tidak mampu untuk mengikuti peraturan dari negara karena memberatkan secara ekonomi. Itu dapat diartikan bahwa banyak orang miskin di sana.
Itu dapat diartikan bahwa kesadaran untuk pencatatan pernikahannya sesuai peraturan yang berlaku di negara ini tidak dianggap penting oleh masyarakat. Itu dapat diartikan bahwa entah kesadaran -- mungkin, tingkat pendidikan? -- orang dewasa yang menikah di sana kurang memadai.
Itu dapat diartikan bahwa petugas dan pejabat instansi terkait abai terhadap peraturan atau undang-undang yang berlaku. Tidak ada pengertian dan usaha dari pejabat sebelumnya untuk menerobos kebuntuan akibat peraturan yang dirasa memberatkan banyak anggota masyarakat. Itu dapat diartikan pejabat yang sebelumnya tidak peka dan sudah selayaknya tidak diberikan renumerasi atau bahkan mungkin pensiun karena tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
Seharusnyalah pejabat pelaksana penyelenggara negara bertindak lebih baik dan proaktif serta berani melakukan terobosan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam hal ini penghargaan MURI ini adalah untuk (akhirnya) ketanggapan pembuat keputusan di bidang pencatatan pernikahan daerah. Bukan untuk orang-orang terdahulu dan jelas bukan untuk pemerintah daerah yang dulu dan sekarang.
Kemiskinan, pengabaian undang-undang, ketidakpedulian, mendapat "penghargaan" yang dibanggakan.
Bukti ketidakcerdasan?
Selasa, 08 Desember 2009
Rokok Yang Aman
= = = = = = =
Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)
Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.
Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.
Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.
Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.
"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.
Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.
Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.
"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.
Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.
Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.
"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.
= = = = = = =
Menurutmu?
Selasa, 03 November 2009
Pesimis Atas Indonesia, Wajarkah?
Begitu banyak pendapat orang dalam peristiwa ini tak perlulah rasanya diulang lagi di dalam posting ini.
Hanya saja yang kurasa perlu diutarakan adalah, menilik sejarah penegakan hukum dan langkah korektif terhadap penyimpangan yang dilakukan banyak oknum terutama high-level profile di institusi penegakan hukum di Indonesia, tidak akan mengejutkanku bila ternyata orang-orang yang dicurigai melakukan penyimpangan itu tidak akan mendapat sanksi yang memenuhi rasa keadilan kita.
Selasa, 20 Oktober 2009
Bisakah Kita Optimis?
Selain kenyataan bahwa acara ini akan menyebabkan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta dengan potensi kemacetan parah yang tinggi, memang sebaiknya menghindari ruas jalan tertentu agar urusan kita yang tak ada kaitannya dengan upacara pelantikan ini ikut terkena imbasnya dan terganggu.
Tetapi bukan itu maksudku kali ini, karena aku ingin sebenarnya ingin mengajukan sebuah pertanyaan: Masih bisakah kita optimis mendapatkan Indonesia yang lebih baik, lebih berkeadilan sosial, dan lebih demokratis?
Sejujurnya, segala macam berita yang (rasanya terlalu banyak) kukonsumsi akhir-akhir ini membuatku semakin pesimis tentang masa depan Indonesia yang lebih baik. Saking pesimisnya, bahkan paragraf ini aku edit beberapa kali dan keseluruhan posting kali ini aku ubah agar tidak mengandung hal-hal yang berpotensi menyeretku ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Atau perbuatan tidak menyenangkan. Atau hal lainnya yang mungkin tak jelas apa tapi tetap dijadikan alasan untuk menuntut di pengadilan atau minimal pelaporan ke pihak yang berwajib.
Sebegitu mengkuatirkannya kondisi sekarang ini? Sebegitu muramnya masa depan bangsaku ini?
Entahlah. Mungkin aku hanya memandang gelas di depanku ini separuh kosong.
Sabtu, 19 September 2009
Ritual (Belanja) Tahunan

Jumat, 24 Juli 2009
About Security Checking
Some people, including me, think that these increasing checking is useless. Because they don't check thoroughly anyway. Instead of opening people's hand-carries but doesn't really check what are the contents inside, it's better for these places to equip themselves with an X-ray scanner, like the ones they have at the airports. If, the intention is really for security reason. I suspect this is only to show that hey, we security people do our work! We check people's bags, you know???
Anyway...
Enjoy this picture below, freshly taken at a place I won't disclose here.
If you can't see the funny thing about it, you're really hopeless.
Jumat, 17 Juli 2009
Aksesibilitas Terbatas?
Portal Detik, Liputan 6, dan Metro TV tak bisa diakses. Kompas bisa diakses cukup lancar. Apakah ini karena lebih banyak pengunjung yang berusaha mengakses di beberapa portal (sehingga menerima hit yang lebih banyak) membuat server mereka kewalahan? Entahlah.
Yang dapat kita harapkan bahwa situs-situs dan portal berita yang mengalami lonjakan pengunjung setelah adanya berita ini akan melakukan evaluasi dan menambah kemampuan dan kapasitas server mereka. Tentu saja ini demi kebaikan mereka sendiri yang pada akhirnya akan menguntungkan mereka dan para pemasang iklan.
Sementara itu, kita bisa saja bersiap menghadapi kegiatan pemeriksaan di hotel-hotel berbintang dan mal-mal semakin (sok) ketat seperti pengalaman kemarin-kemarin pasca ledakan bom. Begitulah sepertinya kondisi yang jamak di Indonesia. Kita harus mengalami serangan lagi baru kewaspadaan (seakan-akan) ditambah dan ditingkatkan.
Jumat, 03 Juli 2009
Masa Depan Suram
Bagaimana dengan di Indonesia? Berapa besar nilai utang kartu kredit yang macet sampai sekarang dan berapa prediksi tahun ini dan tahun depan?
Awalnya aku berharap, sebagai seorang pemakai produk keuangan Citibank, aku berharap Citigroup akan memperlakukan kastemernya lebih baik lagi. Aku mengharapkan ada peningkatan pelayanan dan perhatian dari institusi keuangan ini agar pelanggan mereka tetap setia.
Tapi sepertinya aku salah.
Yang akan dilakukan mereka kemungkinan adalah menawarkan makin banyak promosi dan program belanja; program cicilan yang makin agresif; tapi menaikkan suku bunga pinjaman dan cicilan! Bahkan iuran tahunan kartu kredit mereka kalau tak salah sudah dinaikkan efektif per Juli 2009!
Artinya kita sebagai konsumen dibujuk dan diiming-imingi promosi untuk spend more and more tetapi semua biaya dan beban dinaikkan.
Artinya kalau kita sampai berhutang kepada mereka, bayar bunganya akan semakin mencekik leher.
Mengerikan.
Jumat, 29 Mei 2009
"Orang Miskin Pasti Korupsi"
Selasa, 28 April 2009
Mano Who?
Jumat, 17 April 2009
Taxi with Receipt
Or, at least that was what requested by the other contributor, you-know-who.
Nope, no threat whatsoever from him, just a simple "Please post something, I'm so sick of seeing my own name appear again and again on the last 10 posts or something.."
Ha..ha..
So, I was very confused what to post, I have been very "dry" on ideas, I was beginning to sweat, what am I gonna post here?? And then, BANG! This thing came up! It must be a sign from the Lord above that I still have some ability to write, I haven't lost it at all.
For you who are not regular taxi-hopper, might not even remember there's a certain taxi in Jakarta called TRANSCAB, which provides not only good services, nice cars that are properly air-conditioned, and mini-TV unit inside their cars so we can enjoy some entertainment while trapped in traffic jam (and thus, ignoring the climbing figures on the meter...), they also provide receipt!
I repeat that, RECEIPT!
Why, it's something very usual for you?
Not for us here in Jakarta. Most taxis in Jakarta, I would've said ALL if I haven't experienced this just this morning, don't provide receipt. If we should charge the fee to our offices, we are forgiven to not provide the receipts, something that is going to make the accountants getting headache on justifying.
I've boarded TRANSCAB several times, and all these times I never noticed they do provide receipt, until this morning when I peeked at the meter before I paid, I saw some roll of paper right beside the meter, and I asked the driver was that paper for receipt? And he said yes, and then I asked him to print out one piece of receipt for me. Not that I'm going to charge it to my office, but what I was thinking was that : THERE! MY POST THIS MORNING! THANK GOD!!!
There is one weird thing about the time printed on the receipt, though. It said my travel time is 25 mins (08.57 - 09.22 AM), but then on lower row it said TIME is 06 mins and 21 secs. I guess the 6 mins 21 secs are the stop time, time counted when the car had to stop at redlights or other areas that it had to slow down to 0 KM/h. Probably...
So, for you who might need to have receipt to justify your trip inside Jakarta, you might want to use TRANSCAB if you see one on the street. I'm not advertising or anything, nor I suggest that this one is better on the security aspect, as I know I'd still prefer that other taxi that has the logo of a certain bird with certain color you-know-which for providing security feeling.
And, I'm done here! Hahaha....
Selasa, 03 Maret 2009
Pungutan 10% Dari Omzet?
Rabu, 25 Februari 2009
Antisipasi Rabies???
Selasa, 24 Februari 2009
Dewan Bajak Laut
Kamis, 19 Februari 2009
Bank Swiss Tak Lagi Serahasia Dulu
Kapan Kita Memberikan Jasa Gratis?
Jumat, 13 Februari 2009
Awali Dari Bawah
Sabtu, 31 Januari 2009
Buat Apa Kau Pakai?
Dia bilang sedang mengunduh iLife, sebuah aplikasi yang terintegrasi dengan operating system-nya, yang membuat BANYAK ORANG beralik ke Mac. Lalu mulailah dia mempromosikan buah itu.
Kutipan penjelasannya: "iLife itu suite program yang memenuhi kebutuhan (fun) hidup dalam berkomputasi dan berkreasi, suite yang saling terintegrasi antara iPhoto (photo creative apps), iMovie (movie creative apps), iDVD (dvd creative apps), GarageBand (music creative apps), iTunes (music movie photo management apss)! Cukup satu suite untuk semua kebutuhan!"
Ya ya ya...
Lalu aku tanya: BUAT APA KAU PAKAI? Katamu, iPhoto tak sesempurna Photoshop. Kau tak butuh bikin movie dari slideshow foto-fotomu. Kau tak bikin DVD. Kau tak bermain musik. Kau hanya butuh iTunes. Lalu kenapa harus iLife?
Untuk editan sederhana ada Picasa. Untuk management photo dan movie di media penyimpanan (dan di network) ada Picasa. Untuk buat movie dari kumpulan foto, ada Picasa. Dan Picasa GRATIS alias FREE. Sementara kau download dan pakai iLife harus BAYAR!
Katanya: "Enggak kok. Kalau beli Mac baru, iLife ini sudah terintegrasi ke OS dan included."
[D'oh, artinya kau harus beli Mac baru kalau mau iLife yang tak kena usage time limitation! Itu taktik dagang, man!]
Katanya: "Windows mana ada suite begitu."
[MANA ADA suite berkemampuan begitu dan multifitur yang GRATIS dari awal. There's always a catch! It's called computer businesss!]
Kemudian dia bilang saking bagusnya iPhoto yang terintegrasi dengan iLife, dia bisa tag beberapa foto saja lalu sisanya dikerjakan otomatis dengan face recognition software lalu dengan beberapa klik langsung diunggah ke Facebook (terintegrasi!) otomatis. Selesai dalam dua jam! TIGA RATUS buah foto!
[Crap. Picasa juga punya kemampuan face recognition. DAN PICASA GRATIS. Oke memang sistem pengenalan wajahnya belum sempurna dan aku tak tahu apakah bisa langsung unggah ke Facebook. Aku sih pakai picasaweb.com dari google. And it's FREE, right from the start. TAPI ADA BERAPA ORANG DI MUKA BUMI YANG MAU UNGGAH RATUSAN FOTO SEKALIGUS KE PROFILE FACEBOOKNYA? Hanya satu orang temanku itu yang aku tahu.]
Sekali lagi, aku sanggah: Tetap aku belum menemukan justifikasi memadai untuk non-Mac user beralih ke Mac hanya karena iLife.
Lalu mulai ke masalah software resmi dan legal. Di OS Windows mungkin suite dengan kemampuan serupa bisa setidaknya USD 500.00
Lalu balik ke iDVD terintegrasi untuk jual produk ke iTunes. Dari iPhoto bikin slideshow di iMovie lalu ubah pakai iDVD dan unggah ke iTunes untuk dibeli orang lain.
Hmm... Okay. Aku mulai cape menyanggah argumennya. Soalnya aku memulai bertanya hanya untuk menyanggah saja. Tapi dia mulai serius dan sebagai fanatik Mac, seperti juga fanatik lainnya, sangat gampang menyeberangi batas bercanda menjadi menyakiti perasaan.
Jadi aku menyerah dan menyetujui argumennya sajalah.
At least, for the time being.
Jumat, 30 Januari 2009
A Country I Won't Visit In My Lifetime
By Ephraim Nsingo
HARARE, Jan 23 (IPS) - In November 2007, Zimbabwe's then Minister of Finance, Samuel Mumbengegwi struggled through the reading of the 2008 budget, his tongue tripping over figures in the trillions and quadrillions of Zimbabwean. So embarrassed was Mumbengegwi that he even shied away from announcing the total budget figure of 7.84 quadrillion Zimbabwe dollars, then a record amount.
Now for the first time since independence, Zimbabwe has started a new year without a national budget.
"It is a mission impossible to make a budget under the current conditions," said University of Zimbabwe business lecturer and economic commentator Tony Hawkins. "The budget will be meaningless because there is a meaningless currency. In a situation where you do not have an effective government, like we do now, a budget will not make any difference."
Despite the insistence by Reserve Bank of Zimbabwe (RBZ) governor Gideon Gono that the economy has not been dollarised, most Zimbabweans are now using either U.S. dollars or South African rand for their transactions.
"This is a sign of a collapsed economy," says Hawkins. "How much will the budget amount to in local currency? During the presentation of the last budget, the minister could not remember the numbers, imagine what will happen now."
With a 100 trillion Zimbabwe dollar note now in circulation, Zimbabweans now have quintillions and sextillions in their accounts. Gono has over the past few months been introducing new notes almost every fortnight. This year's budget, if presented in local currency, would range in the millions of quintillions or sextillions.
Rodgers Matsikidze, a commercial lawyer based in Harare, told IPS that the government is now caught up between a rock and a hard place.
"The problem is that the budget would be exhausted the very day it would be tabled because of hyperinflation," said Matsikidze. "At the same time, there are no legal instruments to legalise the current government expenditures. Government is required by law to seek parliamentary approval for whatever expenditures, but this has not been the case."
Acting Minister of Finance, Patrick Chinamasa said he was "going to move a motion on the Finance Bill and the Appropriation Bill in Parliament very soon". He would not give further details on the exact date of the presentation or the currency to be used.
But a top official in his Ministry, requesting anonymity, said it was "unlikely the budget would be presented any time soon" because of the "chaos associated with the current hyperinflationary environment".
"The only logical way would be for the government to budget in US dollars on South African Rand," said the official.
"The problem is, if they budget in foreign currency, that would effectively mean the economy has been dollarised and have a lot of implications. The best way out of this would be to continue in the current quasi-fiscal approach, led by the RBZ, until the constitution of the inclusive government. It is sad the ordinary person ill continue to suffer most."
The official confirmed a 2009 budget was drafted last year, "but the figures became meaningless even before the announcement".
"We have spent the past few months changing figures, and it now seems the only way out is charging/BUDGETING in one of the stable currencies currently being used in the country. Hopes were every high that the inclusive government would be constituted by now, and put in place proper modalities to present a budget, but it looks like we will have to wait longer."
Fambai Ngirande, the Advocacy and Public Policy manager for the National Association of Non Governmental Organisations (NANGO) told IPS said the delay in publishing a budget had left Zimbabwe "sitting on a precarious time bomb", that could only be resolved through "strong governmental efforts to revitalise social service delivery and activate social safety nets fail to materialise expeditiously".
Once the mainstay of the economy, agriculture has been taken a nosedive over the last decade. Government blames declining productivity on natural causes like drought and targeted sanctions against senior government figures. Independent analysts believe the collapse is a result of the government's fast track land reform programme that displaced most productive commercial farmers.
The export of tobacco, minerals and industrial products used to be pillars of the Zimbabwean economy. In the mid 1990s, Zimbabwe used to export hundreds of millions kilos of tobacco, contributing up to 25 percent of the country's foreign currency earnings.
This came to an end when government embarked on an often violent land reform programme at the beginning of the new millennium, displacing the majority of the close to 2,000 commercial farmers specialising in tobacco production. Last year, between 50 and 70 million kilos were harvested. The last significant tobacco harvest was in 2000 when 236 million kilos of tobacco was harvested.
Capacity utilisation in the manufacturing sector is now estimated to be below 10 percent due to low capitalisation and disproportionate exchange rates. Earnings from manufacturing exports fell by 75 percent between 2007 and 2008.
The mining sector has also been brought to its knees by the continued crisis. Several gold mines have closed and platinum and chrome mines suspended operations in the last quarter of the year on the back of depressed world market prices. This downward trend led to the suspension of Fidelity Refiners and Printers – the only official buyer and exporter of minerals in Zimbabwe - from the London Bullion Market Association due to below-par gold deliveries.
"Unless the means of production are addressed, there would be no budget to talk about. The budget can only be sustainable if there are put in place sustainable means of production. This can only be possible once the issue of governance has been addressed," stressed Robertson.
The Parliament of Zimbabwe resumed sitting on Jan. 20. The new session started off with debate in the House of Assembly on the current crisis in the country, particularly the collapse of social services such as education and health. Legislators explored possibilities for tackling the current cholera outbreak, which aid agencies - working with the government - say has killed more than 2,000 people.
Indonesian says : Bisa Aja Lo, Angelina Jolie!
Angelina Jolie is one of the few who could pull it off, no doubts.

I saw her picture shot from in front of her (the left one of the three in row above) here on Yahoo! few days ago, and back then no one commented that she was wearing it backward. Not until this morning it appeared again, this time making headline on fashion world.
Well, IMHO, she could've worn it the "conventional way" like the designer meant it to be. But, she's always known as being different and stand out from the rest, so why not turn the dress backward, and save it from being "boring"?
That way, she also sported her tattoos, and that's why I love Angelina Jolie!
Kamis, 29 Januari 2009
New Indonesian Movies!
Today I got to see two premiered Indonesia movies: Glitch and Asmara Dua Diana.
Why do those two movies matter?
Well, Glitch because it's supposed to be a science fiction Indonesian film. The first one, if David Poernomo is right. Here is the excerpt:
Tanggal 26 Desember 2004, 01.58 WIB, 6 jam sebelum tsunami, terjadi berbagai kekacauan waktu (time glitch) di berbagai belahan dunia
Andi, Dara dan teten sedang dalam acara liburan mereka pada dini hari yang naas tersebut dan dalam perjalanan pulang ke Cibubur. Sesaat setelah melewatisuatu kabut yang tipis, mereka mulai tidak mengenali daerah yang mereka lalui. Dalam kebingungan mereka mulai memperlambat laju kendaraan mereka dan mulai meneliti keberadaan mereka. Apa yang mereka lihat kemudian adalah suatu hal yang tidak dapat diterima secara akal sehat. Dibawah sorotan sinar lampu mobil, berdiri megah Jam Gadang Bukittinggi, yang jaraknya kurang lebih 1008 km dari Jakarta. Mereka ada di tengah kota Bukittinggi padahal sesaat yang lalu mereka masih di Cibubur
Berbagai kejadian aneh setelah peristiwa tersebut membuat para mahasiswa ini kalang kabut menghadapi situasi yang rasanya tidak nyata. Kelelahan fisik dan mental ini membuat Andi, mahasiswa Nagoya University Jepang meminta bantuan Prof. David Leman yang memang ahli dalam Quantum Physic Research Nagoya untuk datang ke Indonesia. Dengan bantuan David, mereka mencoba memecahkan misteri yang menimpa Andi dan teman-temannya. Satu hal yang mereka ketahui adalah konon pada jaman dahulu kala leluhur mereka seperti ali Songo dll mempunyai kesaktian dapat pergi ke tempat lain atau mereka mempunyai sebuah “vortex” atau lorong waktu yang dapat mereka lewati. Pemikiran Teten yang menggelikan, Andi yang tidak percaya pada mistik serta semangat Dara, sangat membantu Prof. David untuk tetap maju menyibak tabir teori yang diperkirakan bersinggungan dengan relativitas waktu Einstein ini
Setelah melalui berbagai macam perjuangan, akhirnya mereka menemukan dimana letak vortex ini. Satu hal yang mengejutkan adalah vortex ini juga terletak diatas lembah dan jurang yang amat dalam, sehingga meloncat ke vortex juga berarti bunuh diri. Bagaimana cara Andi, Dara dan teten untuk kembali ke dunia mereka? Mungkinkah sebenarnya pada tanggal 26 Desember gempa yang melanda Aceh adalah sebuah usaha bumi untuk malahan memperbaiki kesalahan waktu yang sudah terlalu jauh bergeser?
Well, what about Asmara Dua Diana? Two words: AURA KASIH. 'Nuff said.
Selasa, 27 Januari 2009
IKLAN JADUL: The Governator

Sabtu, 24 Januari 2009
"Kalau Bisa Minta Maaf, Untuk Apa Ada Polisi?"
Anyway, aku jadi teringat kalimat itu ketika membaca koran nasional yang memuat kelanjutan kasus salah tangkap itu. Ini kutipannya:
Sejumlah polisi penyidik Polsek Bandarkedungmulyo, Jombang, Jawa Timur, yang menangani kasus pembunuhan Fausin Suyanto - yang salah diidentifikasi polisi sebagai Asrori - telah dijatuhi sanksi hukuman. Sebanyak 13 polisi itu diminta untuk segera meminta maaf kepada keluarga mantan tersangka, yang sempat dijerat pidana.
...setelah melalui sidang kode etik, hukuman yang diterima para polisi penyidik itu di antaranya sebagian tidak boleh menyidik perkara selama satu tahun dan menjalani pembinaan ulang fungsi kepolisian (reserse), sebagian dipindahkan tugas dan jabatannya dari fungsi reserse, dan sebagian lainnya dihukum tidak boleh mengemban fungsi reserse selamanya.
Polda Jawa Timur juga telah memberikan uang silaturahmi kepada ketiga korban salah tangkap tersebut. David dan Kemat menerima masing-masing Rp 20 juta, sedangkan Maman menerima Rp 10 juta.
Sekarang, ternyata kalimat si tengil A Se itu cuma berlaku di Taiwan karena di Indonesia bahkan polisi yang setelah salah dan dihukum disiplin, cukup diakhiri dengan meminta maaf saja. Tidak lupa sedikit uang untuk beli kambing atau anakan sapi...
Entahlah. Indonesia oh Indonesia...
Jumat, 23 Januari 2009
Sepotong Dialog
Sudah Baca Koran Hari Ini?

Selasa, 20 Januari 2009
Milk That Makes You(r Kid(s)) Immortal!
Or, if your kid(s) drink this particular brand of milk, they will become immortal, because automatically they are able to do anything, even activities that will probably risk their lives, like swimming in a pool without lifebuoy or anything. Probably they can jump off buildings and fly around like Superman too! Wouldn't that be very COOL? No, I mean, TOTALLY COOL?? AWESOME!!!
If I had known, I would've drunk this milk since I was toddler, so I wouldn't have had to learn swimming, which failed anyway, and by now I would've been able to swim!
Jumat, 16 Januari 2009
(Bisa Jadi) Tambahan Alasan Menolak Legalisasi Judi di Kep. Seribu (?)
Salah satu artikel menarik yang kutemukan di The New York Times, tentang perjudian di Makau, membuatku langsung teringat pada issue tentang keinginan beberapa pihak untuk melegalisasikan kegiatan perjudian dengan melokalisasikannya ke (misalnya) salah satu pulau di Kepulauan Seribu.
Aku bukan menentang ide lokalisasinya. Menurutku ini lebih baik. Kegiatan-kegiatan sejenis yang dilokalisasikan akan membuat aparat yang berwenang lebih gampang mengontrol kegiatan yang dibatasi tersebut. Lebih gampang dalam perizinan. Lebih gampang pula bagi kita mengaksesnya, tak perlu mutar-mutar di jalan dengan penunjuk jalan untuk menemukan tempat-tempat yang bisa dikategorikan "underground". Dan sederet kegampangan lainnya.
Yang membuatku prihatin adalah kebiasaan pejabat-pejabat Cina yang bisa jadi mirip dengan pejabat kita. Misalkan Li Weimin, walikota yang menggelapkan USD 12 juta dari APBD untuk berjudi. Atau berdasarkan hasil studi, dari 99 penjudi kakap, 59 diantaranya punya kaitan dengan pemerintahan: 33 pejabat pemerintahan; 19 senior manajer BUMN; 7 bendahara unit bisnis negara.
Rata-rata kekalahan pejabat USD 2,4 juta; manajer USD 1,9 juta; bendahara USD 500 ribu. Kebanyakan sudah berjudi selama empat tahun sebelum ditangkap dan dihukum. Aksi mereka bahkan sudah membuat bangkrut setidaknya 10 perusahaan milik negara.
Gila juga ya. Bahkan disinyalir kalau uang rakyat yang dihabiskan di meja judi di Makau masih lebih banyak lagi!
Nah, inilah yang membuatku membayangkan, seandainya judi dilegalkan di Indonesia dan dilokalisasi. Untuk negara seperti Cina yang tak segan menghukum mati para koruptor, kejahatan penggelapan uang negara masih bisa terjadi... Bagaimana dengan di Indonesia dimana sering sekali rasa keadilan kita terusik karena seakan-akan para koruptor justru dilindungi dan diusahakan tidak sampai dihukum berat?
Balik lagi ke mental orang per orangnya kali ya...
Kamis, 15 Januari 2009
Sinetron yang Membodohi Kita
Sebenarnya sih aku juga ingin melihat, seberapa liter airmata lagi yang mau ditumpahkan, karena sejak episode 1 (tadi malam adalah eps. 3), si Rafika ini selalu menangis, menangis, dan MENANGIS! Rasanya tiap 5 atau 10 menit, Rafika menangis lagi dan lagi. Herannya, matanya tetap cemerlang dan tidak bengkak!
Jadi, ceritanya si Rafika (aku tidak mau cerita dari eps.1, terlalu panjang...) itu berusaha mengambil hati ibu mertuanya yg sangat membencinya dengan membuatkan bubur manado kesukaan si ibu. Dasar emang si ibu benci sama dia, itu mangkok bubur ditepiskan sampai jatuh ke atas meja makan (hebatnya, tidak tumpah lho!). Si ibu mengomel dan mencaci usaha Fika utk mengambil hatinya, lalu mau beranjak pergi ada acara diluar rumah. Datanglah si kakak ipar Fika (kakak dari suaminya, anak si ibu mertua juga dong...), yg menyarankan si ibu utk mengganti sepatunya dng warna hitam supaya matching dng tampilan si ibu, dan meminta Fika yg mengambil. Sebelumnya, si kakak ipar sudah "mengerjai" sepatu hitam si ibu di lemari sepatu. Fika yg mengira ini kesempatan baik utk menyenangkan hati si ibu, bergegas pergi mengambil, dan dipakai si ibu. Baru sampai teras, si ibu terjatuh sampai anak tangga paling bawah (cuma 3 anak tangga sih hehe...) karena tumit sepatu yg sudah "dikerjain" tadi tentu saja langsung patah. Si ibu lalu dibawa kerumah sakit.
Di RS, seorang dokter memberitahukan kondisi si ibu kepada anak lelakinya (suami Fika). Karena aku tidak pay attention di detik2 ini , aku tidak mendengar persis bagaimana kondisi si ibu. Yg jelas, aku menangkap soal kondisinya diperparah oleh pengapuran tulang (?) yg memang sudah diidap si ibu. Lalu si suami bertanya kepada dokter, kenapa ini bisa terjadi? Si dokter menjawab dng meminta si suami utk memperhatikan sepatu yg dikenakan si ibu. Si suami mengangkat sepatu si ibu dan melihat tumitnya yg patah sebelah, dan bingung, ragu2 bertanya apakah maksud si dokter ada yg mengerjain sepatu si ibu? Si dokter bilang ke si suami utk mengingat2 apakah ada org2 di rumah yg tidak senang dng si ibu dan mencoba mencelakainya. Lalu tentunya semua tudingan tertuju ke Rafika seorang, dikaitkan dng kejadian bubur dan fakta bahwa si ibu mertua memang benci dng Rafika, dan hasilnya, Rafika di usir dari rumah mertuanya.
Merasa ada yg aneh tidak?
Biar kujelaskan apa yg ada di otakku pas nonton adegan diatas.
1. Si suami yg superbodoh bertanya ke si dokter APA YG TERJADI? Hellooo...jelas2 yg terjadi adalah ibunya jatuh kan! Dan dia bertanya demikian SETELAH si dokter menjelaskan kondisi si ibu, bukan sebelumnya. Maksudnya apa sih bertanya apa yg terjadi, ke si DOKTER, yg jelas2 tidak ada ditempat kejadian (jatuhnya si ibu) berlangsung? Memangnya si dokter adalah detektif atau polisi yg bisa mereka-reka kejadian kriminal?
2. Si dokter hebat yg mungkin pekerjaan sampingannya adalah detektif sekaligus jaksa sekaligus hakim. Dengan hebatnya, dia mengarahkan si suami utk memeriksa sepatu si ibu yg patah, lalu menyimpulkan bahwa patahnya tumitnya itu pasti disengaja (dikerjain tumitnya), lalu tentunya ada yg bermaksud mencelakakan si ibu dng cara demikian. Dan semua itu diungkapkan TANPA menyebutkan kalau keliatannya patahan tumit sepatu itu tidak wajar, terlalu rapi (karena dikerjain bukan patah karena beban tubuh). Kurasa si dokter ini mungkin pernah jadi ahli forensik semacam di serial CSI juga.
3. Dan berkaitan dng point no.2 diatas, kok bisa sih si dokter menyimpulkan demikian? Tumit sepatu yg patah bisa terjadi dng berbagai alasan :
- sudut penempatan kaki yg tidak tepat menyebabkan beban tubuh di titik yg salah sehingga tumit sepatu yg kecil tidak mampu menahan beban tubuh sehingga akhirnya patah
- si ibu mungkin pas turun tangga kurang hati2, sama dng point diatas juga hasilnya
- memang tumit sepatunya sudah rapuh, dipakai berjalan beberapa langkah juga akan patah
- dan lain lain alasan
4. Seorang dokter, menurutku, tidak pada tempatnya menyampaikan hal2 diluar konteks seperti itu. Mustinya, dia cukup menjelaskan kondisi kesehatan si ibu setelah terjatuh, lalu pertanyaan si suami soal apa yg terjadi (mungkin maksudnya apa yg menyebabkan si ibu terjatuh), bisa dijawab dng bijak atau malah dia bisa jawab tidak tahu, toh dia tidak ada disitu pas si ibu terjatuh kan? Apapun opini yg dimilikinya, apapun dugaannya dia (mungkin dia "ngeh" bahwa si ibu terjatuh gara2 tumit patah), tidak sepatutnya disampaikan ke keluarga si ibu. Bukan tugasnya, dan tidak pada tempatnya. Apalagi sampai menjadikan keluarga si ibu berprasangka yg bukan bukan.
Aku pernah kok mengalami tumit sepatuku patah di kantor yg berkarpet empuk, karena cara berdiriku salah. Lalu apakah aku berpikir : "Wah ada yg mengerjain tumit sepatuku nih, ada yg mau aku celaka nih...."? TIDAK KAN???
Seharusnya, ada cara lain utk menggiring si suami dan keluarganya utk berpikir bahwa ini gara2 Rafika sampai si ibu terjatuh, tanpa melibatkan si dokter / jaksa/ hakim / detektif / CSI itu. Kan bisa saja, dibuat adegan si suami tanpa sengaja melihat sepatu si ibu yg tumitnya patah lalu membuat kesimpulan sendiri dlm otaknya. Gampang kan? Dan tidak perlu membodohi seluruh pemirsa sinetron tersebut. Atau memang pemirsa sinetron Indonesia (dianggap) sebodoh itu, sampai tidak akan "ngeh" dng anehnya adegan tersebut?
Entahlah.
Yg jelas, menurutku, akting Carissa Putri sebagai Rafika kok agak mengecewakan ya. Kebanding waktu dia jadi Maria di Ayat-Ayat Cinta, ini mah ga ada apa-apanya. Mana setiap 5 menit adegannya nangis melulu. Nangis yg bercucuran airmata lho, bukan cuma berkaca-kaca. Terlalu banyak airmata, menurutku. Malah jadi tidak mengharukan, tapi menyebalkan.
Tapi kok aku tetap mau nonton ya?
Karena aku mau melihat lebih banyak adegan tidak masuk akal dan membodohi lainnya hehehe...Supaya bisa kucela-cela nantinya :D
Senin, 12 Januari 2009
Mengapa Ajakan "Boikot Produk Israel!" Tak Akan Berdampak
Pribadi, aku tahu jawabannya: Zero. Nothing.
Sesadar-sadarnya aku mengecek negara produsen produk impor yang kupakai sehari-hari -- ataupun yang jarang aku pergunakan tapi aku beli -- sering mengacu pada satu negara: Cina. Atau Taiwan.
Beberapa barang mungkin diproduksi di Malaysia atau Thailand.
Bahkan bila dikumpulkan dalam beberapa tahun terakhir, produk impor yang kugunakan adalah berasal dari negara Cina, Taiwan, dan kawasan regional ASEAN.
Jadi, ketika ada demonstrasi besar-besaran pada hari Minggu kemaren dengan ajakan memboikot produk Israel, aku cuma tertawa.
Aku tidak tahu apakah kau yang membaca ini ikut serta dalam "kemeriahan pawai" tersebut tetapi yang aku tahu, impact dari aksi kalian itu tidaklah signifikan. Untuk mengatakan aksi kalian itu sia-sia, rasanya berlebihan (walau mungkin beberapa kalangan akan menjustifikasi penilaian alternatif seperti ini).
Yang cukup menggelitik, TAK ADA SEORANGPUN yang berani secara terang-terangan mengajak memboikot penggunaan produk barang atau jasa negara sekutu Israel yang terkuat: Amerika Serikat. Justru kebungkaman orang soal satu ini membuatku merasa miris.
Lalu aku melakukan tindakan yang logis, mengajukan pertanyaan mengapa: "Mengapa tidak ada seorang di antara ribuan orang berpawai yang mengajak untuk memboikot produk Amerika?" Disusul dengan tindak lanjut logikal, mencoba menjawab sendiri pertanyaan tadi.
"Mungkin kita gampang berteriak BOIKOT ISRAEL DAN PRODUKNYA tapi tidak BOIKOT ISRAEL DAN AMERIKA DAN PRODUKNYA karena... Kita dijajah oleh Amerika tapi tidak (secara eksplisit) oleh Israel."
Ajakan boikot yang satu itu TAK AKAN TERCETUS oleh penduduk Indonesia yang berpikiran waras karena jelas tidak ada seorang pun yang bisa konsekuen mengikuti boikot itu.
Jelas saja, sebagian besar (atau bahkan semua!) kalian yang membaca tulisanku ini MENGGUNAKAN PRODUK AMERIKA.
Membacanya melalui desktop atau laptop? Apa OS-nya? Microsoft Windows? MacOS? Itu produk Amerika.
Kalau mencari tugas atau apapun di internet pakai search engine Google? 100% hasil orang Amerika.
Punya iPod? iPhone? Produk Amerika.
Suka nongkrong di Starbucks, makan Burger King atau McDonalds? Itu SANGAT AMERIKA.
Kalau weekend sering konvoi pakai moge Harley-Davidson? Representasi jiwa kebebasan Amerika.
Nonton bioskop di Blitz atau jaringan 21? Paling juga film Holywood (yang juga Amerika).
Aku bisa menulis panjang sekali produk dan jasa dari Amerika apa saja yang kita gunakan di dalam negeri. Bahkan hidup kita di Indonesia tak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan Amerika. Bisa dibilang, jiwa, semangat, dan budaya Amerika sudah berkelindan dengan kita di Indonesia.
Tapi hal yang sama akan sangat sulit dilakukan untuk Israel dan produk mereka karena bahkan setelah break dari menulis ini untuk berpikir keras tentang produk Israel, aku tetap tidak menemukan apapun yang bisa kusebutkan tentang produk Israel yang ada di Indonesia.
Itulah sebabnya mengapa pawai dan ajakan untuk memboikot produk Israel di Indonesia tidak ada dampaknya -- dan merupakan waste of creative energy! (Ups, kalimat berbahasa Inggris -- yang dipakai sebagai bahasa nasional Amerika Serikat.)
=====
P.S.: Tolong koreksi aku bila ada kesalahan.
Jumat, 09 Januari 2009
Orang Ketiga - Membantu, atau Mencampuri?
Tadinya kukira ini adalah semacam reality show tentang pasangan kekasih yg salah satunya berselingkuh atau sejenisnya. Ternyata, well, tidak sepenuhnya salah. Acara ini ternyata adalah semacam penyelidikan terhadap seseorang yg diminta utk diselidiki oleh klien acara ini. Alasannya pun bisa bermacam, terserah si klien.
Kenapa diberi judul Orang Ketiga?
Kalau aku tidak salah tangkap, Orang Ketiga maksudnya disini adalah orang diluar para "pelaku" (klien dan org yg dilaporkannya), yakni presenter dan kru acara ini. Mereka harus berlaku se"fair" mungkin, tidak menyampaikan opini mereka sendiri, melainkan hanya mengumpulkan fakta-fakta utk mencari tahu apa sesungguhnya yg terjadi dengan si orang yg dilaporkan klien.
Jadi mungkin untuk mudahnya, kucontohkan saja salah satu episode yg kutonton :
Ada seorang perempuan, umurnya mungkin tidak lebih dari 22 tahun (karena katanya masih kuliah S-1 dan wajahnya juga masih terlihat sangat muda), katakanlah bernama Ani. Si Ani ini melaporkan temannya, misalnya si Santi, yang katanya akhir-akhir ini berlaku aneh. Menurut Ani, Santi ini tadinya adalah teman dekatnya, tapi beberapa bulan terakhir ini Santi seperti menghindari Ani dan tidak berkontak-kontak sedekat biasanya. Santi penasaran dan ingin mencari tahu kenapa. Dan menurut Ani, sepupunya yg tinggal serumah dengannya (misalnya namanya Dewi, wajahnya dikaburkan sepanjang acara) menceritakan kepada Ani bahwa sudah beberapa kali Santi datang kerumah Ani pada saat Ani tidak ada dirumah. Kebetulan si Dewi ini memang tinggal di rumah Ani juga.
Info tambahan, Ani ini tinggal bersama Ayahnya dan Dewi.
Ani jadi curiga, lalu meminta tim Orang Ketiga utk membuntuti gerak gerik Santi. Ternyata dari hasil penyelidikan tim Orang Ketiga (OT), Santi (wajahnya juga dikaburkan) itu datang ke rumah Ani pada saat Ani tidak ada, dan menemui ayahnya. Tapi mendapati Dewi ada dirumah, si Santi jadi kaget, beralasan dia mencari Ani tapi tidak ada dan buru2 pergi. Padahal, beberapa saat sebelumnya, Ani baru menelpon Santi dan memberitahu dia (Ani) lagi di Bandung dan tidak ada dirumah, dan Santi mengaku lagi mau pergi ke rumah saudaranya.
Sampai disini, pemirsa rasanya sudah bisa menebak kejadian berikutnya, atau menebak apa sebenarnya yg terjadi.
Di salah satu potongan rekaman video tersembunyi (di pena kamera -> pencam) yg diletakkan Dewi diruang tamu atas permintaan tim OT, ternyata Santi datang lagi pada saat Ani tidak ada dirumah lagi (memang Ani sengaja tidak ada dirumah utk memancing Santi datang), dan bertemu si bapaknya Ani (wajah si bapak dikaburkan juga), lalu ada pembicaraan singkat memastikan tidak ada orang dirumah dan soal transferan ke rekeningnya Santi, sebelum si bapak menggendong (!) Santi ke kamar.
Nah, sudah ketebak kan, apa yg terjadi?
Ani yg diperlihatkan rekaman ini tentunya emosi berat. Apalagi sebelumnya ia bersama tim OT sudah membuntuti Santi dan ayahnya Ani ke sebuah hotel yg mana diperlihatkan Santi dan ayahnya Ani baru keluar setelah beberapa jam dari hotel tersebut. Apa yg terjadi di dalam hotel, entahlah.
Jadi akhirnya, Ani menggerebek ayahnya sendiri dan Santi, didalam kamar ayahnya. Terjadilah adegan jerit menjerit, teriak2, si Santi yg tadinya mencoba memeluk Ani mungkin utk minta maaf tapi akhirnya marah2 mengatakan Ani tidak mengerti, Ani yg menjerit2 marah kepada ayahnya dan temannya sendiri, si ayah yg berteriak2 melihat ada kamera dan lain lain.
Wah, rasanya reality show yg seru sekali ya..! Penuh bumbu sensasional, affair tersembunyi, dan mungkin juga tindak pidana kesusilaan!
Tapi, ada pertanyaan yg menggantung di benakku setelah menontonnya :
1. Kenapa Ani mau dan rela liputan ini ditayangkan? Ingat, wajahnya Ani tidak dikaburkan, hanya wajah Ayahnya, Santi, dan Dewi. Ini liputan yg sensasional, apakah Ani karena sudah emosi tidak peduli lagi bahwa jutaan pemirsa di Indonesia sekarang tahu bahwa Ayahnya berselingkuh dengan teman kuliahnya sendiri?
2. Ini adalah siaran rekaman. Dan menilik kejadiannya, tentunya ini kejadian yg sangat bikin shock siapapun yg terlibat didalamnya, apalagi Ani si anak yg mendapati ayahnya sendiri melakukan hal tersebut. Tapi, pada saat adegan2 terpisah dimana Ani memberikan komentar2, ada saat2 dimana dia terlihat datar2 saja. Padahal dia lagi menceritakan suatu hal yg sangat BESAR dalam hidupnya bukan? Bahwa ayahnya ternyata tidur dengan teman kuliahnya sendiri?
3. Pada saat Ani menggerebek kedalam kamar ayahnya, Santi bersembunyi dibawah selimut sebelum ketahuan oleh Ani yg menarik paksa selimut itu setelah tidak mendapati Santi di kamar mandi dlm kamar tidur tersebut. Anehnya, Santi dan ayahnya Ani berpakaian lengkap loh....hehehe...Kukira sampai disini, semua pemirsa pasti sudah berasumsi kalau Santi telah melakukan hubungan seksual dng si ayah Ani, dan tentunya baik Santi maupun ayahnya Ani tidak menyangka akan digerebek. Jadi, kok sempat2nya mereka berpakaian lengkap yah? Atau mereka memanfaatkan beberapa detik sebelum membuka pintu utk berpakaian lebih dulu? Hmm...
Menurutku, ini jenis tayangan yg agak aneh. Dan rasanya orang2 yg melapor itu juga aneh. Kalau mereka mau menyelidiki tentang orang2 terdekatnya yg dirasa berkelakuan aneh, kenapa tidak mencari jasa penyelidik swasta saja? Hasilnya bisa diandalkan, dan tidak diliput lalu ditayangkan diseluruh Indonesia. Kenapa mereka memilih utk menghubungi tim reality show ini? Bukankah kejadian2 yg terjadi kebanyakan adalah hal2 memalukan yg sebenarnya pastinya ingin ditutupi dari mata masyarakat? Kenapa malah mereka merelakan di ekspose ke muka publik seperti itu? Apakah mereka dibayar? Numpang ngetop masuk TV?
Atau sebenarnya semua kejadian ini cuma rekayasa saja, alias tidak benar2 terjadi?
Ada satu episode lagi yg juga mengherankanku. Tentang seorang perempuan yg mencurigai kakaknya sendiri. Dia curiga kakaknya bukanlah seorang penerjemah bahasa asing seperti yg diakui kakaknya kepadanya. Katanya dia pernah mencoba menanyai kakaknya tapi kakaknya menghindari menjawab dengan detil. Lalu dia meminta tim OT utk menyelidiki.
Hasilnya, setelah dikonfrontasi dengan berbagai rekaman video, kakaknya mengaku (dengan berteriak histeris) bahwa dia adalah penari striptease. Kakaknya marah kepada si adik, dng mengatakan adiknya tidak mikir darimana kakaknya bisa membiayai hidup mereka berdua. Kenapa si adik harus melibatkan orang luar dari stasiun TV pula, hanya utk tahu hal ini. Dan sebagainya.
Menurutku, memang benar kata2 si kakak. Terlepas dari apa pekerjaannya, si adik mustinya bisa menanyakan secara pribadi ke si kakak. Atau mencoba membuntuti si kakak sendiri, tidak perlu sampai minta tim OT yg jelas2 adalah dari stasiun TV dan akan ditayangkan. Pada saat nonton saja, aku sampe ikut berseru : "Iya dong mikir dong mikirrr....", pada saat si kakak berteriak2 kepada adiknya yg tidak berpikir lebih jauh bagaimana si kakak selama ini bisa menghidupi mereka berdua.
Diakhir acara, si adik menangis dan bilang dia meminta kakaknya berhenti bekerja demikian, dia tidak perlu semua barang2 dan lain2, dia minta kakaknya mencari pekerjaan lain yg "halal".
Sampai disini aku merasa si adik tentunya masih sangat muda (kalau diliat mukanya, umurnya mungkin 20 maksimal), dan amat sangat naif, kalau bukan pura-pura naif. Rasanya, tidak ada perempuan yg mau bekerja "haram" kalau memang bisa. Tapi, nasib dan keadaan tidak segampang itu bukan? Dan lagi, selaam ini si adik sudah menikmati berbagai kemudahan hidup berkat kakaknya, kenapa kok baru terpikir sekarang gitu lho, apa sih sebenarnya kerjaan kakaknya? Lagipula, sekali lagi, sebagai adik, kenapa tidak berusaha mencari tahu sendiri langsung ke kakaknya sebenarnya apa kerjaan kakaknya? Menurutku, si adik kurang berusaha mendekat kakaknya, sampai perlu melibatkan orang luar pula.
Jadinya, aku tidak bersimpati pada si adik. Aku malah bersimpati pada si kakak. Kalau jadi si kakak, mungkin aku marah sekali pada adik yg tidak tahu diri ini. Walaupun wajahnya si kakak dikaburkan, tapi wajah si adik sebagai klien acara ini tidak mungkin dikaburkan, dan pastinya beberapa penghuni Jakarta ini kenal dng si adik, dan apa yg ada di otak mereka pada saat lain kesempatan mereka bertemu dia, atau malah bertemu kakaknya?
"Oh dia nih yg kakaknya penari striptease itu..."
"Oh kakaknya penari striptease nih...mau ga ya klo gw bayar buat nari di acara bachelor party gw?"
"Wah...kakaknya penari striptease nih...jangan2 bisa di"pakai" juga nih?"
"Eh...ini kan yg kakaknya penari striptease itu...hm, sapa tau dia juga ikut jejak kakaknya nih?"
Memang semua itu pikiran2 negatif, dan mungkin pikiranku negatif juga.
Tapi please deh, ini Jakarta gitu lho, itu sebabnya kubilang si adik memang sangat naif sekali bahkan bodoh sampai mau menjadikan dirinya "korban" sukarela dng ikut reality show seperti ini. Dan wajar saja si kakak marah besar karena pastinya orang2 yg kenal dng mereka selama ini tapi tidak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaannya, sekarang menjadi tahu, thanks to her idiot sister.
Orang bisa bilang, mungkin ini sudah jalannya, siapa tahu inilah tanda dari Diatas buat si kakak merubah pekerjaannya. Well, itu positive thinkingnya.
Entah kenapa kok aku malah merasa reality show Orang Ketiga ini malah jadi seperti media resmi dan terbuka utk dengan sah ikut "mencampuri" kehidupan pribadi orang, dengan bantuan orang terdekatnya pula. Sungguh menyakitkan. Entah apa imbalan yg didapat para klien, selain kemasyhuran mendadak (tapi bukan oleh hal terhormat) dan sakit hati berkepanjangan dan menyebabkan terlukanya hati orang-orang dekatnya. Karena toh semua rekaman ditayangkan dengan seijin orang2 yg terlibat didalamnya.
Rabu, 07 Januari 2009
Cerita Hari Ini
Bila kita beruntung, video yang kita ambil bisa menjelaskan rangkaian peristiwa, mulai sebab hingga akibatnya. Berbeda dengan video, kita butuh penyertaan semacam narasi yang lebih gamblang untuk menjelaskan sebuah foto sehingga orang yang melihatnya bisa mengerti.
Tetapi bila kita kebetulan bisa merekam rangkaian peristiwa dalam beberapa foto, kita dapat meminimalkan kebutuhan kata-kata penyerta -- bahkan dalam beberapa hal teks penyerta tidak lagi perlu.
Berikut ini contohnya.
Note: Teks penyerta dibutuhkan pada awal rangkaian foto dan untuk menjelaskan "loncatan" rangkaian peristiwa yang tertangkap dalam rangkaian foto.

Seorang pengemudi sepeda motor menerobos celah pada median karena merasa putaran balik resmi di depannya masih terlalu jauh. Dia tidak peduli bahwa jalan pintas yang digunakannya itu berbahya bagi diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.
=====

Pengemudi lain yang melihat tindakan itu terinspirasi untuk meniru kecerobohan tersebut.
=====

=====

Pengemudi sepeda motor lain yang melaju dengan kecepatan tinggi tidak sempat menghindar sehingga tabrakan terjadi. Setelah berhasil menguasai sepeda motor sehingga tidak jatuh, dengan menepi di median, dia mendatangi si pemutar jalan ilegal.
=====

Perdebatan terjadi karena kedua belah pihak sama-sama merasa tidak bersalah.
=====

Seorang polisi lalu lintas mendatangi lokasi, menyuruh mereka menepi, lalu berusaha memediasi sengketa tersebut.
=====

Karena belum tercapai kesepakatan, petugas mengambil surat-surat kedua belah pihak dan meminta mereka menyusulnya ke pos jaga.
===============================================
Tapi sebenarnya pelanggaran lalu lintas seperti itu tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai dan kekeluargaan. Penyelesaian seperti itu belum tentu memunculkan efek jera. Sudah seharusnya pelanggaran lalu lintas -- yang adalah pengabaian disiplin berkendara -- diberi hukuman yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Justru kebiasaan penyelesaian dengan jalan damai ini menyulitkan edukasi pada pengemudi dan para pengguna jalan raya untuk berdisiplin lalu lintas.
Kesimpulan #1: Fotografi itu menarik. Usahakan selalu siap dimanapun dengan sebuah kamera! Momen yang sama tidak terjadi dua kali.
Kesimpulan #2: Seandainya berkendaraan, selalu bawa uang lebih untuk "damai" di jalan bisa terjadi kecelakan seperti ini (tidak ada cedera serius yang membutuhkan perawatan medis juga tidak memakan korban jiwa).
Selasa, 06 Januari 2009
Seandainya Saja Pelajaran Sejarah Jauh Lebih Menarik
Harus aku akui, sejarah dan PSPB hampir sama tidak menariknya -- sejak pendidikan dasar sampai menengah atas -- karena rasanya penekanannya pada aspek kronologis (penanggalan peristiwa) dan intepretasi tunggal dari sebuah peristiwa masa lalu. Memang benar sekali aksiom(?) seseorang yang pernah kubaca, bahwa sejarah masa lalu ditulis oleh pihak yang menang. Tafsir tunggal ini jugalah yang membuatku merasa pembelajaran sejarah -- dan PSPB -- adalah sebuah beban tambahan yang tidak menarik.
Mungkin hal semacam inilah yang menarikku membaca novel-novel sejarah. Ada prosa di sana, penganimasian tokoh-tokoh yang dalam buku kurikulum ajar digambarkan secara dua dimensi saja, fakta sejarah yang tercatat dan waktu terjadinya. Ada dialog (imajinatif pengarang) yang memberikan dimensi lain pada tokoh-tokoh itu: kedalaman karakter. Bagiku, novel sejarah jauh lebih memikat daripada kumpulan data yang disusun dalam buku-buku tebal yang tiap tahun harus berganti -- walaupun garis besar isinya sama -- itu. Belum lagi waktu yang diberikan untuk pendalaman suatu peristiwa dalam sejarah hanya dibatasi dalam dua kali empat puluh lima menit waktu jam belajar kita. Terlalu singkat dan padat sehingga rasanya kita hanya diberi waktu singkat dan dipaksa menjadi jago menghafal.
Yang tentu saja tidak berhasil kulakukan karena aku paling sulit menghafal tanggal. Aku lebih mudah mengingat siapa membunuh siapa di mana dan dengan cara apa. Atau bagaimana seorang tokoh dieksekusi. Atau siapa yang melakukan pengkhianatan dan siapa yang ditangkap dan dihukum karenanya. Tapi begitulah dalam buku pelajaran sejarah kita: Si bangsawan A didukung VOC menggantikan bangsawan B yang kemudian melakukan perlawanan dari pengasingan sebelum akhirnya tertangkap juga dan kemudian dihukum mati atau dibuang ke Tanah Merah (atau lokasi lainnya).
Kita diajarkan kalau si bangsawan A adalah penjahat dan pengkhianat dan si bangsawan B adalah pahlawan nasional. Segamblang sinetron Indonesia masa kini: hitam dan putih. Tidak ada abu-abu. Tidak ada catatan atau penjelasan, bisa saja si bangsawan A memilih VOC karena dengan itu ada kesempatan untuk pendidikan dan peningkatan kecerdasan -- pihak penjajah juga membuka sekolah walau kesempatan belajar sangat terbatas pada kaum tertentu -- dibandingkan saudaranya si bangsawan B yang lebih percaya cara-cara gaib mistis dan klenik serta anti terhadap inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang ilmiah.
Itulah yang membuat aku menikmati sepotong sejarah atau rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam novelisasi karena bagiku jauh lebih mudah mengingat suatu hubungan sebab akibat atau dinamika peristiwa walaupun mungkin itu hanya rekaan si pengarang belaka. Atau bisa disebut rekonstruksi peristiwa dengan bantuan imajinasi penulis.
Juga mungkin itulah mengapa aku pada akhirnya bisa menerima mengapa seorang John Patrick Ryan bisa memiliki karir sebagai analis sampai menjadi kepala CIA sebelum kemudian menjadi POTUS (President Of The United States). Kemampuan seorang pengarang seperti Tom Clancy dalam story-telling bahkan sudah mengikatku sejak kita masih berseragam putih-biru.
Sekarang ini aku berusaha mulai membaca Executive Order dalam edisi paperback bahasa Inggris yang kubeli bekas dari sebuah toko buku. Mungkin itulah yang mendorongku menuliskan ini.
Seandainya saja pelajaran sejarah sekarang lebih menarik lagi.




