Hari ini semua koran lokal Banten mengangkat tema soal pilkada gubernur dan wakil gubernur.
Karena tertarik dengan berita terbaru soal politik lokal, tentu saja aku memberi beberapa koran lokal yang cukup punya nama di sini -- berdasarkan pengamatan amatiran bahwa banyak lapak dan kios koran yang menjual merk lokal tersebut -- untuk kubawa pulang dan kubaca. Kabar berita soal pilitik dan kekuasaan (plus hal-hal terkait ancaman terhadap demokrasi) sangat mudah dijual sebagai laporan utama koran, yang berarti oplah koran tersebut akan meningkat pula. Pada masa sekarang, peningkatan sirkulasi koran sangat dibutuhkan para pelaku bisnis berita, bukan?
Yang menjadi hal menarik bagiku adalah betapa berbedanya isi (dan mutu?) dari sebuah koran lokal bila dibandingkan dengan koran nasional, sebut saja KOMPAS.
Artikel opini dan op-ed yang ada di koran lokal membuatku merasa tertantang untuk mencoba menuliskan sendiri sesuatu untuk dimuat. Tak perlu kujelaskan kenapa, kita semua seharusnya cukup tahu saja.
Ditambah beberapa kalimat dalam sebuah artikel koran lokal pada hari ini membuatku penasaran apakah editor koran lokal ini bekerja dengan baik dan bertanggung jawab. Misalnya dengan menyebutkan bahwa pilkada berjalan pada tanggal 22 Oktober 2011 tetapi menceritakan bahwa ada keluarga inti yang pergi bersama-sama mencoblos di TPS.
Yang benar saja!
Bagaimana mungkin pilkada baru tanggal 22 Oktober 2011, lalu koran lokal pagi tersebut juga baru beredar ke konsumen pada tanggal 22 Oktober 2011, bisa ada artikel yang mengisahkan persiapan sebuah keluarga untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Tidakkah merasa aneh dengan deskripsi yang disebutkan, KARENA tidak mungkin terjadi. Masa sebuah koran bisa mengisahkan sebuah peristiwa sepenting pilkada pada hari pilkada itu berlangsung? Timeframe-nya tidaklah sesuai dan ini terasa menggangu. Kecuali wartawan yang menuliskan artikel tersebut bekerja dengan mesin waktu. Sesuatu yang tidak mungkin.
Apakah ada penjelasan lain soal ini?
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Oktober 2011
Selasa, 08 Desember 2009
Rokok Yang Aman
Ini menarik, mengutip dari artikel koran Tribun Jabar hari Senin, 7 Desembar 2009, halaman 10.
= = = = = = =
Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)
Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.
Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.
Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.
Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.
"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.
Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.
Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.
"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.
Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.
Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.
"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.
= = = = = = =
Menurutmu?
= = = = = = =
Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)
Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.
Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.
Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.
Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.
"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.
Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.
Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.
"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.
Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.
Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.
"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.
= = = = = = =
Menurutmu?
Label:
doa,
herbal,
manfaat rokok,
nasional,
pondok pesantren,
pontren,
rokok,
Tasikmalaya,
Tribun Jabar
Langganan:
Postingan (Atom)