Tampilkan postingan dengan label production. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label production. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2009

Kapan Kita Memberikan Jasa Gratis?

Kusadur dari artikel When To Work for Nothing oleh Michele Goodman.

Kita memberikan jasa gratis bila:

Kita tak punya klien atau portfolio. Ambil proyek jangka pendek yang dapat selesai dalam beberapa hari. Bila lebih lama daripada itu, kemungkinan waktu kita akan tersita untuk menyelesaikan pekerjaan gratis padahal kita juga memiliki pekerjaan yang ada bayarannya.

Klien idaman kita cekak. Misalnya majalah indie yang hanya bisa membantu kita dengan eksposure atas karya-karya kita tetapi bisa membuka jalan ke pekerjaan yang ada bayarannya. Pastikan saja kalau kita (tetap) tidak membuang terlalu banyak waktu mengerjakan project yang hanya memberikan manfaat dalam bentuk eksposure.

Kita menyumbangkan waktu untuk tujuan mulia. Misalnya untuk kerja sosial. Walaupun begitu, usahakan bahwa kita tetap memiliki kontrak -- meskipun informal -- yang menyatakan dengan jelas apa yang bisa dan tak akan bisa kita lakukan, dan kapan.

* * *

Namun, bila kita ditawarkan pekerjaan dalam bentuk pembayaran sebagai berikut, sebaiknya kita tak ambil pekerjaan tersebut:

Kredit untuk hasil pekerjaanmu (dan tak ada dalam bentuk lainnya). Kredit yang ditawarkan dalam hal ini tentu saja hanyalah berupa pencantuman nama saja. Sebagai catatan: kecuali bila dibayar untuk suatu pekerjaan, tentu saja kita berhak atas kredit/pencantuman nama pada hasil pekerjaan tersebut.

Situs bidding pekerjaan. Tentu saja seperti proses bidding lainnya, akan condong ke pihak yang menawar paling rendah. Lebih baik investasikan waktu dan usaha pengembangan bisnis pada cara lama: mengenal para pemilik usaha dan profesional lainnya.

Dibayar sesuai spesifikasi. Adalah buruk bagi para freelancer untuk bekerja pada klien yang ingin kita membuat karya lebih dahulu sesuai spesifikasi yang mereka inginkan sebelum mereka memutuskan cukup puas untuk membayar. Hasil yang lebih sering didapat dari ini adalah bayaran yang jauh lebih rendah dari yang sepantasnya didapatkan.

"When you agree to work free, you reinforce people’s misguided ideas that the self-employed are independently wealthy hobbyist. Don’t degrade your profession by letting a cheap client take advantage of you."

Jumat, 13 Februari 2009

Awali Dari Bawah

Siapa sih yang sekarang ini tidak bisa lepas dari alas kaki yang disebut sepatu? Siapa pula yang bisa menyangkal bahwa sepatu tidak berguna? Ya memang kalau sehari-harinya memakai sandal, setidaknya orang-orang di kota dan di desa wajar menggunakan sepatu. Setidaknya orang kebanyakan memiliki minimal satu pasang sepatu. Aku sendiri memiliki setidaknya dua pasang boots; dua pasang keds; dua pasang sneakers; total: enam pasang.

Padahal aku cuma memiliki sepasang kaki -- yang artinya dalam satu waktu yang sama aku cuma bisa memakai sepasang sepatu. Konsumtif? Tidak juga. Setidaknya aku tidak menilai diriku konsumtif dalam hal persepatuan.

Namun bukan itu yang ingin kubahas kali ini.

Harus kita akui kalau sekarang ini sepatu telah berkembang menjadi industri yang penting bagi kita. Ada banyak produsen merk luar negeri membuat produk sepatunya di Indonesia. Saking pentingnya sepatu, sesuatu yang sehari-hari berada di bawah dan kadang kita lupakan (kecuali kalau kita menginjak "ranjau darat") , bahkan seorang menteri pun ikut mengurus sepatu. Yap, maksudku adalah Menteri Perindustrian yang sekarang ini. 

Trend yang hendak diterapkan pemerintah kita kali ini sepertinya adalah anjuran (atau keharusan?) untuk menggunakan produksi dalam negeri dengan memulai dari bawah. Benar-benar dimulai dari bawah. Dimulai dari memakai sepatu buatan dalam negeri.

Sejak dari beberapa waktu yang lalu kali ini pemerintah berusaha menggerakkan perekonomian kita dengan cara yang terkadang membuatku bertanya-tanya: Adakah strategi pemerintah ataukah hanya sekedar taktik yang berubah-ubah dengan pertimbangan kepentingan jangka pendek?

Entahlah.

Tapi imbauan/peraturan ini menarik: Memulai mencintai produksi dalam negeri dengan diawali dari bawah. Dari kaki. Dimulai dari sepatu.

Menggunakan sepatu buatan dalam negeri digambarkan seakan-akan sebagai nasionalisme dan patriotisme yang membuatku ingin tertawa. Setidaknya aku sebagai seorang warga negara Republik Indonesia, bukannya tidak ingin menggunakan sepatu produksi dalam negeri. Hanya saja sebagai seorang konsumen, tentunya aku ingin membelanjakan uangku pribadi untuk membeli produk dengan kualitas yang memadai yang terjangkau!

Aku mendukung ajakan yang ini: Menggunakan produksi dalam negeri.

Aku cuma ingin memberi catatan kecil: Pastikan produknya berkualitas dengan harga yang terjangkau!

Senin, 12 Januari 2009

Mengapa Ajakan "Boikot Produk Israel!" Tak Akan Berdampak

Izinkan aku sedikit sinis dengan mengajukan pertanyaan: "Ada berapa banyak produk Made in Israel yang kau gunakan sehari-hari?"
Pribadi, aku tahu jawabannya: Zero. Nothing.
Sesadar-sadarnya aku mengecek negara produsen produk impor yang kupakai sehari-hari -- ataupun yang jarang aku pergunakan tapi aku beli -- sering mengacu pada satu negara: Cina. Atau Taiwan.

Beberapa barang mungkin diproduksi di Malaysia atau Thailand.
Bahkan bila dikumpulkan dalam beberapa tahun terakhir, produk impor yang kugunakan adalah berasal dari negara Cina, Taiwan, dan kawasan regional ASEAN.
Jadi, ketika ada demonstrasi besar-besaran pada hari Minggu kemaren dengan ajakan memboikot produk Israel, aku cuma tertawa.

Aku tidak tahu apakah kau yang membaca ini ikut serta dalam "kemeriahan pawai" tersebut tetapi yang aku tahu, impact dari aksi kalian itu tidaklah signifikan. Untuk mengatakan aksi kalian itu sia-sia, rasanya berlebihan (walau mungkin beberapa kalangan akan menjustifikasi penilaian alternatif seperti ini).

Yang cukup menggelitik, TAK ADA SEORANGPUN yang berani secara terang-terangan mengajak memboikot penggunaan produk barang atau jasa negara sekutu Israel yang terkuat: Amerika Serikat. Justru kebungkaman orang soal satu ini membuatku merasa miris.

Lalu aku melakukan tindakan yang logis, mengajukan pertanyaan mengapa: "Mengapa tidak ada seorang di antara ribuan orang berpawai yang mengajak untuk memboikot produk Amerika?" Disusul dengan tindak lanjut logikal, mencoba menjawab sendiri pertanyaan tadi.

"Mungkin kita gampang berteriak BOIKOT ISRAEL DAN PRODUKNYA tapi tidak BOIKOT ISRAEL DAN AMERIKA DAN PRODUKNYA karena... Kita dijajah oleh Amerika tapi tidak (secara eksplisit) oleh Israel."

Ajakan boikot yang satu itu TAK AKAN TERCETUS oleh penduduk Indonesia yang berpikiran waras karena jelas tidak ada seorang pun yang bisa konsekuen mengikuti boikot itu.

Jelas saja, sebagian besar (atau bahkan semua!) kalian yang membaca tulisanku ini MENGGUNAKAN PRODUK AMERIKA.

Membacanya melalui desktop atau laptop? Apa OS-nya? Microsoft Windows? MacOS? Itu produk Amerika.

Kalau mencari tugas atau apapun di internet pakai search engine Google? 100% hasil orang Amerika.

Punya iPod? iPhone? Produk Amerika.

Suka nongkrong di Starbucks, makan Burger King atau McDonalds? Itu SANGAT AMERIKA.

Kalau weekend sering konvoi pakai moge Harley-Davidson? Representasi jiwa kebebasan Amerika.

Nonton bioskop di Blitz atau jaringan 21? Paling juga film Holywood (yang juga Amerika).

Aku bisa menulis panjang sekali produk dan jasa dari Amerika apa saja yang kita gunakan di dalam negeri. Bahkan hidup kita di Indonesia tak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan Amerika. Bisa dibilang, jiwa, semangat, dan budaya Amerika sudah berkelindan dengan kita di Indonesia.

Tapi hal yang sama akan sangat sulit dilakukan untuk Israel dan produk mereka karena bahkan setelah break dari menulis ini untuk berpikir keras tentang produk Israel, aku tetap tidak menemukan apapun yang bisa kusebutkan tentang produk Israel yang ada di Indonesia.

Itulah sebabnya mengapa pawai dan ajakan untuk memboikot produk Israel di Indonesia tidak ada dampaknya -- dan merupakan waste of creative energy! (Ups, kalimat berbahasa Inggris -- yang dipakai sebagai bahasa nasional Amerika Serikat.)

=====

P.S.: Tolong koreksi aku bila ada kesalahan.