Tadi malam, aku nonton sinetron "Rafika". Bukannya aku penggemar berat sinetron (walaupun sekarang lagi mengikut sinetron "Alisa" dan sebelumnya "Yasmin" yang sudah tamat), tapi daripada bengong menunggu kantuk, lebih baik nonton TV dan tayangan apalagi yang ada di stasiun televisi sekarang selain sinetron? Jadi, sambil baca Harry Potter dan Relikui Kematian, aku menyetel RCTI yang sedang menayangkan "Rafika".
Sebenarnya sih aku juga ingin melihat, seberapa liter airmata lagi yang mau ditumpahkan, karena sejak episode 1 (tadi malam adalah eps. 3), si Rafika ini selalu menangis, menangis, dan MENANGIS! Rasanya tiap 5 atau 10 menit, Rafika menangis lagi dan lagi. Herannya, matanya tetap cemerlang dan tidak bengkak!
Jadi, ceritanya si Rafika (aku tidak mau cerita dari eps.1, terlalu panjang...) itu berusaha mengambil hati ibu mertuanya yg sangat membencinya dengan membuatkan bubur manado kesukaan si ibu. Dasar emang si ibu benci sama dia, itu mangkok bubur ditepiskan sampai jatuh ke atas meja makan (hebatnya, tidak tumpah lho!). Si ibu mengomel dan mencaci usaha Fika utk mengambil hatinya, lalu mau beranjak pergi ada acara diluar rumah. Datanglah si kakak ipar Fika (kakak dari suaminya, anak si ibu mertua juga dong...), yg menyarankan si ibu utk mengganti sepatunya dng warna hitam supaya matching dng tampilan si ibu, dan meminta Fika yg mengambil. Sebelumnya, si kakak ipar sudah "mengerjai" sepatu hitam si ibu di lemari sepatu. Fika yg mengira ini kesempatan baik utk menyenangkan hati si ibu, bergegas pergi mengambil, dan dipakai si ibu. Baru sampai teras, si ibu terjatuh sampai anak tangga paling bawah (cuma 3 anak tangga sih hehe...) karena tumit sepatu yg sudah "dikerjain" tadi tentu saja langsung patah. Si ibu lalu dibawa kerumah sakit.
Di RS, seorang dokter memberitahukan kondisi si ibu kepada anak lelakinya (suami Fika). Karena aku tidak pay attention di detik2 ini , aku tidak mendengar persis bagaimana kondisi si ibu. Yg jelas, aku menangkap soal kondisinya diperparah oleh pengapuran tulang (?) yg memang sudah diidap si ibu. Lalu si suami bertanya kepada dokter, kenapa ini bisa terjadi? Si dokter menjawab dng meminta si suami utk memperhatikan sepatu yg dikenakan si ibu. Si suami mengangkat sepatu si ibu dan melihat tumitnya yg patah sebelah, dan bingung, ragu2 bertanya apakah maksud si dokter ada yg mengerjain sepatu si ibu? Si dokter bilang ke si suami utk mengingat2 apakah ada org2 di rumah yg tidak senang dng si ibu dan mencoba mencelakainya. Lalu tentunya semua tudingan tertuju ke Rafika seorang, dikaitkan dng kejadian bubur dan fakta bahwa si ibu mertua memang benci dng Rafika, dan hasilnya, Rafika di usir dari rumah mertuanya.
Merasa ada yg aneh tidak?
Biar kujelaskan apa yg ada di otakku pas nonton adegan diatas.
1. Si suami yg superbodoh bertanya ke si dokter APA YG TERJADI? Hellooo...jelas2 yg terjadi adalah ibunya jatuh kan! Dan dia bertanya demikian SETELAH si dokter menjelaskan kondisi si ibu, bukan sebelumnya. Maksudnya apa sih bertanya apa yg terjadi, ke si DOKTER, yg jelas2 tidak ada ditempat kejadian (jatuhnya si ibu) berlangsung? Memangnya si dokter adalah detektif atau polisi yg bisa mereka-reka kejadian kriminal?
2. Si dokter hebat yg mungkin pekerjaan sampingannya adalah detektif sekaligus jaksa sekaligus hakim. Dengan hebatnya, dia mengarahkan si suami utk memeriksa sepatu si ibu yg patah, lalu menyimpulkan bahwa patahnya tumitnya itu pasti disengaja (dikerjain tumitnya), lalu tentunya ada yg bermaksud mencelakakan si ibu dng cara demikian. Dan semua itu diungkapkan TANPA menyebutkan kalau keliatannya patahan tumit sepatu itu tidak wajar, terlalu rapi (karena dikerjain bukan patah karena beban tubuh). Kurasa si dokter ini mungkin pernah jadi ahli forensik semacam di serial CSI juga.
3. Dan berkaitan dng point no.2 diatas, kok bisa sih si dokter menyimpulkan demikian? Tumit sepatu yg patah bisa terjadi dng berbagai alasan :
- sudut penempatan kaki yg tidak tepat menyebabkan beban tubuh di titik yg salah sehingga tumit sepatu yg kecil tidak mampu menahan beban tubuh sehingga akhirnya patah
- si ibu mungkin pas turun tangga kurang hati2, sama dng point diatas juga hasilnya
- memang tumit sepatunya sudah rapuh, dipakai berjalan beberapa langkah juga akan patah
- dan lain lain alasan
4. Seorang dokter, menurutku, tidak pada tempatnya menyampaikan hal2 diluar konteks seperti itu. Mustinya, dia cukup menjelaskan kondisi kesehatan si ibu setelah terjatuh, lalu pertanyaan si suami soal apa yg terjadi (mungkin maksudnya apa yg menyebabkan si ibu terjatuh), bisa dijawab dng bijak atau malah dia bisa jawab tidak tahu, toh dia tidak ada disitu pas si ibu terjatuh kan? Apapun opini yg dimilikinya, apapun dugaannya dia (mungkin dia "ngeh" bahwa si ibu terjatuh gara2 tumit patah), tidak sepatutnya disampaikan ke keluarga si ibu. Bukan tugasnya, dan tidak pada tempatnya. Apalagi sampai menjadikan keluarga si ibu berprasangka yg bukan bukan.
Aku pernah kok mengalami tumit sepatuku patah di kantor yg berkarpet empuk, karena cara berdiriku salah. Lalu apakah aku berpikir : "Wah ada yg mengerjain tumit sepatuku nih, ada yg mau aku celaka nih...."? TIDAK KAN???
Seharusnya, ada cara lain utk menggiring si suami dan keluarganya utk berpikir bahwa ini gara2 Rafika sampai si ibu terjatuh, tanpa melibatkan si dokter / jaksa/ hakim / detektif / CSI itu. Kan bisa saja, dibuat adegan si suami tanpa sengaja melihat sepatu si ibu yg tumitnya patah lalu membuat kesimpulan sendiri dlm otaknya. Gampang kan? Dan tidak perlu membodohi seluruh pemirsa sinetron tersebut. Atau memang pemirsa sinetron Indonesia (dianggap) sebodoh itu, sampai tidak akan "ngeh" dng anehnya adegan tersebut?
Entahlah.
Yg jelas, menurutku, akting Carissa Putri sebagai Rafika kok agak mengecewakan ya. Kebanding waktu dia jadi Maria di Ayat-Ayat Cinta, ini mah ga ada apa-apanya. Mana setiap 5 menit adegannya nangis melulu. Nangis yg bercucuran airmata lho, bukan cuma berkaca-kaca. Terlalu banyak airmata, menurutku. Malah jadi tidak mengharukan, tapi menyebalkan.
Tapi kok aku tetap mau nonton ya?
Karena aku mau melihat lebih banyak adegan tidak masuk akal dan membodohi lainnya hehehe...Supaya bisa kucela-cela nantinya :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar