Beberapa minggu lalu, aku kebetulan nonton suatu acara reality show di salah satu stasiun TV swasta yg berjudul "Orang Ketiga".
Tadinya kukira ini adalah semacam reality show tentang pasangan kekasih yg salah satunya berselingkuh atau sejenisnya. Ternyata, well, tidak sepenuhnya salah. Acara ini ternyata adalah semacam penyelidikan terhadap seseorang yg diminta utk diselidiki oleh klien acara ini. Alasannya pun bisa bermacam, terserah si klien.
Kenapa diberi judul Orang Ketiga?
Kalau aku tidak salah tangkap, Orang Ketiga maksudnya disini adalah orang diluar para "pelaku" (klien dan org yg dilaporkannya), yakni presenter dan kru acara ini. Mereka harus berlaku se"fair" mungkin, tidak menyampaikan opini mereka sendiri, melainkan hanya mengumpulkan fakta-fakta utk mencari tahu apa sesungguhnya yg terjadi dengan si orang yg dilaporkan klien.
Jadi mungkin untuk mudahnya, kucontohkan saja salah satu episode yg kutonton :
Ada seorang perempuan, umurnya mungkin tidak lebih dari 22 tahun (karena katanya masih kuliah S-1 dan wajahnya juga masih terlihat sangat muda), katakanlah bernama Ani. Si Ani ini melaporkan temannya, misalnya si Santi, yang katanya akhir-akhir ini berlaku aneh. Menurut Ani, Santi ini tadinya adalah teman dekatnya, tapi beberapa bulan terakhir ini Santi seperti menghindari Ani dan tidak berkontak-kontak sedekat biasanya. Santi penasaran dan ingin mencari tahu kenapa. Dan menurut Ani, sepupunya yg tinggal serumah dengannya (misalnya namanya Dewi, wajahnya dikaburkan sepanjang acara) menceritakan kepada Ani bahwa sudah beberapa kali Santi datang kerumah Ani pada saat Ani tidak ada dirumah. Kebetulan si Dewi ini memang tinggal di rumah Ani juga.
Info tambahan, Ani ini tinggal bersama Ayahnya dan Dewi.
Ani jadi curiga, lalu meminta tim Orang Ketiga utk membuntuti gerak gerik Santi. Ternyata dari hasil penyelidikan tim Orang Ketiga (OT), Santi (wajahnya juga dikaburkan) itu datang ke rumah Ani pada saat Ani tidak ada, dan menemui ayahnya. Tapi mendapati Dewi ada dirumah, si Santi jadi kaget, beralasan dia mencari Ani tapi tidak ada dan buru2 pergi. Padahal, beberapa saat sebelumnya, Ani baru menelpon Santi dan memberitahu dia (Ani) lagi di Bandung dan tidak ada dirumah, dan Santi mengaku lagi mau pergi ke rumah saudaranya.
Sampai disini, pemirsa rasanya sudah bisa menebak kejadian berikutnya, atau menebak apa sebenarnya yg terjadi.
Di salah satu potongan rekaman video tersembunyi (di pena kamera -> pencam) yg diletakkan Dewi diruang tamu atas permintaan tim OT, ternyata Santi datang lagi pada saat Ani tidak ada dirumah lagi (memang Ani sengaja tidak ada dirumah utk memancing Santi datang), dan bertemu si bapaknya Ani (wajah si bapak dikaburkan juga), lalu ada pembicaraan singkat memastikan tidak ada orang dirumah dan soal transferan ke rekeningnya Santi, sebelum si bapak menggendong (!) Santi ke kamar.
Nah, sudah ketebak kan, apa yg terjadi?
Ani yg diperlihatkan rekaman ini tentunya emosi berat. Apalagi sebelumnya ia bersama tim OT sudah membuntuti Santi dan ayahnya Ani ke sebuah hotel yg mana diperlihatkan Santi dan ayahnya Ani baru keluar setelah beberapa jam dari hotel tersebut. Apa yg terjadi di dalam hotel, entahlah.
Jadi akhirnya, Ani menggerebek ayahnya sendiri dan Santi, didalam kamar ayahnya. Terjadilah adegan jerit menjerit, teriak2, si Santi yg tadinya mencoba memeluk Ani mungkin utk minta maaf tapi akhirnya marah2 mengatakan Ani tidak mengerti, Ani yg menjerit2 marah kepada ayahnya dan temannya sendiri, si ayah yg berteriak2 melihat ada kamera dan lain lain.
Wah, rasanya reality show yg seru sekali ya..! Penuh bumbu sensasional, affair tersembunyi, dan mungkin juga tindak pidana kesusilaan!
Tapi, ada pertanyaan yg menggantung di benakku setelah menontonnya :
1. Kenapa Ani mau dan rela liputan ini ditayangkan? Ingat, wajahnya Ani tidak dikaburkan, hanya wajah Ayahnya, Santi, dan Dewi. Ini liputan yg sensasional, apakah Ani karena sudah emosi tidak peduli lagi bahwa jutaan pemirsa di Indonesia sekarang tahu bahwa Ayahnya berselingkuh dengan teman kuliahnya sendiri?
2. Ini adalah siaran rekaman. Dan menilik kejadiannya, tentunya ini kejadian yg sangat bikin shock siapapun yg terlibat didalamnya, apalagi Ani si anak yg mendapati ayahnya sendiri melakukan hal tersebut. Tapi, pada saat adegan2 terpisah dimana Ani memberikan komentar2, ada saat2 dimana dia terlihat datar2 saja. Padahal dia lagi menceritakan suatu hal yg sangat BESAR dalam hidupnya bukan? Bahwa ayahnya ternyata tidur dengan teman kuliahnya sendiri?
3. Pada saat Ani menggerebek kedalam kamar ayahnya, Santi bersembunyi dibawah selimut sebelum ketahuan oleh Ani yg menarik paksa selimut itu setelah tidak mendapati Santi di kamar mandi dlm kamar tidur tersebut. Anehnya, Santi dan ayahnya Ani berpakaian lengkap loh....hehehe...Kukira sampai disini, semua pemirsa pasti sudah berasumsi kalau Santi telah melakukan hubungan seksual dng si ayah Ani, dan tentunya baik Santi maupun ayahnya Ani tidak menyangka akan digerebek. Jadi, kok sempat2nya mereka berpakaian lengkap yah? Atau mereka memanfaatkan beberapa detik sebelum membuka pintu utk berpakaian lebih dulu? Hmm...
Menurutku, ini jenis tayangan yg agak aneh. Dan rasanya orang2 yg melapor itu juga aneh. Kalau mereka mau menyelidiki tentang orang2 terdekatnya yg dirasa berkelakuan aneh, kenapa tidak mencari jasa penyelidik swasta saja? Hasilnya bisa diandalkan, dan tidak diliput lalu ditayangkan diseluruh Indonesia. Kenapa mereka memilih utk menghubungi tim reality show ini? Bukankah kejadian2 yg terjadi kebanyakan adalah hal2 memalukan yg sebenarnya pastinya ingin ditutupi dari mata masyarakat? Kenapa malah mereka merelakan di ekspose ke muka publik seperti itu? Apakah mereka dibayar? Numpang ngetop masuk TV?
Atau sebenarnya semua kejadian ini cuma rekayasa saja, alias tidak benar2 terjadi?
Ada satu episode lagi yg juga mengherankanku. Tentang seorang perempuan yg mencurigai kakaknya sendiri. Dia curiga kakaknya bukanlah seorang penerjemah bahasa asing seperti yg diakui kakaknya kepadanya. Katanya dia pernah mencoba menanyai kakaknya tapi kakaknya menghindari menjawab dengan detil. Lalu dia meminta tim OT utk menyelidiki.
Hasilnya, setelah dikonfrontasi dengan berbagai rekaman video, kakaknya mengaku (dengan berteriak histeris) bahwa dia adalah penari striptease. Kakaknya marah kepada si adik, dng mengatakan adiknya tidak mikir darimana kakaknya bisa membiayai hidup mereka berdua. Kenapa si adik harus melibatkan orang luar dari stasiun TV pula, hanya utk tahu hal ini. Dan sebagainya.
Menurutku, memang benar kata2 si kakak. Terlepas dari apa pekerjaannya, si adik mustinya bisa menanyakan secara pribadi ke si kakak. Atau mencoba membuntuti si kakak sendiri, tidak perlu sampai minta tim OT yg jelas2 adalah dari stasiun TV dan akan ditayangkan. Pada saat nonton saja, aku sampe ikut berseru : "Iya dong mikir dong mikirrr....", pada saat si kakak berteriak2 kepada adiknya yg tidak berpikir lebih jauh bagaimana si kakak selama ini bisa menghidupi mereka berdua.
Diakhir acara, si adik menangis dan bilang dia meminta kakaknya berhenti bekerja demikian, dia tidak perlu semua barang2 dan lain2, dia minta kakaknya mencari pekerjaan lain yg "halal".
Sampai disini aku merasa si adik tentunya masih sangat muda (kalau diliat mukanya, umurnya mungkin 20 maksimal), dan amat sangat naif, kalau bukan pura-pura naif. Rasanya, tidak ada perempuan yg mau bekerja "haram" kalau memang bisa. Tapi, nasib dan keadaan tidak segampang itu bukan? Dan lagi, selaam ini si adik sudah menikmati berbagai kemudahan hidup berkat kakaknya, kenapa kok baru terpikir sekarang gitu lho, apa sih sebenarnya kerjaan kakaknya? Lagipula, sekali lagi, sebagai adik, kenapa tidak berusaha mencari tahu sendiri langsung ke kakaknya sebenarnya apa kerjaan kakaknya? Menurutku, si adik kurang berusaha mendekat kakaknya, sampai perlu melibatkan orang luar pula.
Jadinya, aku tidak bersimpati pada si adik. Aku malah bersimpati pada si kakak. Kalau jadi si kakak, mungkin aku marah sekali pada adik yg tidak tahu diri ini. Walaupun wajahnya si kakak dikaburkan, tapi wajah si adik sebagai klien acara ini tidak mungkin dikaburkan, dan pastinya beberapa penghuni Jakarta ini kenal dng si adik, dan apa yg ada di otak mereka pada saat lain kesempatan mereka bertemu dia, atau malah bertemu kakaknya?
"Oh dia nih yg kakaknya penari striptease itu..."
"Oh kakaknya penari striptease nih...mau ga ya klo gw bayar buat nari di acara bachelor party gw?"
"Wah...kakaknya penari striptease nih...jangan2 bisa di"pakai" juga nih?"
"Eh...ini kan yg kakaknya penari striptease itu...hm, sapa tau dia juga ikut jejak kakaknya nih?"
Memang semua itu pikiran2 negatif, dan mungkin pikiranku negatif juga.
Tapi please deh, ini Jakarta gitu lho, itu sebabnya kubilang si adik memang sangat naif sekali bahkan bodoh sampai mau menjadikan dirinya "korban" sukarela dng ikut reality show seperti ini. Dan wajar saja si kakak marah besar karena pastinya orang2 yg kenal dng mereka selama ini tapi tidak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaannya, sekarang menjadi tahu, thanks to her idiot sister.
Orang bisa bilang, mungkin ini sudah jalannya, siapa tahu inilah tanda dari Diatas buat si kakak merubah pekerjaannya. Well, itu positive thinkingnya.
Entah kenapa kok aku malah merasa reality show Orang Ketiga ini malah jadi seperti media resmi dan terbuka utk dengan sah ikut "mencampuri" kehidupan pribadi orang, dengan bantuan orang terdekatnya pula. Sungguh menyakitkan. Entah apa imbalan yg didapat para klien, selain kemasyhuran mendadak (tapi bukan oleh hal terhormat) dan sakit hati berkepanjangan dan menyebabkan terlukanya hati orang-orang dekatnya. Karena toh semua rekaman ditayangkan dengan seijin orang2 yg terlibat didalamnya.