Hmm...
Tadi sore ada kabar tentang meninggalnya Gus Dur. Turut berduka cita.
Seorang lagi tokoh yang penuh warna di Indonesia telah pergi. Bisa-bisa sebentar lagi tokoh yang beredar bisa-bisa berwarna biru semua.
Gus Dur, memang aku tak pernah beruntung bertemu dirimu. Aku juga mungkin tak selalu setuju dengan gaya dan pernyataanmu. Aku juga rasanya pernah merasa antipati pada figurmu yang sepertinya dimanfaatkan dan membiarkan dirinya dimanfaatkan.
Tapi aku merasa bahwa pada dasarnya dirimu orang baik.
Juga, kuharap amalmu diterima Tuhan yang akan menerima tiap amal kita, menerima jiwamu seperti Dia menerima jiwa kita manusia yang punya baik dan salah.
Semoga istirahatmu tenang untuk selamanya.
Amin.
Rabu, 30 Desember 2009
Senin, 28 Desember 2009
Rekor Yang Tak Pantas
Sebuah berita di televisi tadi sore menyebutkan tentang sebuah daerah di wilayah timur Indonesia yang mendapat penghargaan dari MURI karena tercatat sebagai penyelenggara nikah massal terbanyak di Indonesia.
Alasan kenapa begitu banyaknya peserta nikah massal adalah -- berdasarkan keterangan pejabat berwenang -- karena ternyata banyak pasangan yang telah menikah di daerah tersebut tapi tak mendaftarkan dan tak memiliki surat nikah resmi karena berbagai macam alasan, terutama karena tak ada biaya untuk itu. Jadi banyak peserta yang memanfaatkan acara ini untuk mendapatkan surat nikah resmi karena tak dipungut biaya. Acara ini bisa begitu ramai karena para peserta juga membawa anak bahkan cucu(!) ke lokasi. Sungguh meriah.
Begitu banyaknya peserta, dikatakan di berita itu, bahkan petugas MURI dan panitia sempat kesulitan mencatat jumlah peserta sebenarnya.
Kemudian ditunjukkan Piagam MURI yang dipegang dan dipamerkan dengan penuh kebanggaan oleh pejabat dan/atau pihak-pihak terkait(?).
Bodoh.
Di balik penghargaan Piagam MURI itu yang dipegang dan dipamerkan dengan bangga karena merasa berprestasi, sangat menohok perasaan bahwa orang-orang itu tidak menyadari bahwa selembar kertas itu juga berarti bukti buruknya kondisi bertahun-tahun di sana.
Bayangkan, sepasang suami-istri bisa sampai punya cucu tapi tak memiliki surat nikah resmi yang berarti keturunan mereka selama ini tak dianggap negara sebagai keturunan sah dari pernikahan tersebut dan biarpun mungkin pernikahan mereka diakui agama tapi menurut negara mereka dianggap tidak sah dan itu sama saja dengan pasangan kumpul kebo.
Selembar kertas Piagam MURI untuk rekor pelaksanaan nikah massal dengan peserta terbanyak itu bukanlah prestasi bila alasan pesertanya adalah karena ketiadaan biaya untuk menempuh prosedur resmi dengan biaya yang tercantum sesuai peraturan negara.
Itu dapat diartikan bahwa begitu banyaknya orang yang tidak mampu untuk mengikuti peraturan dari negara karena memberatkan secara ekonomi. Itu dapat diartikan bahwa banyak orang miskin di sana.
Itu dapat diartikan bahwa kesadaran untuk pencatatan pernikahannya sesuai peraturan yang berlaku di negara ini tidak dianggap penting oleh masyarakat. Itu dapat diartikan bahwa entah kesadaran -- mungkin, tingkat pendidikan? -- orang dewasa yang menikah di sana kurang memadai.
Itu dapat diartikan bahwa petugas dan pejabat instansi terkait abai terhadap peraturan atau undang-undang yang berlaku. Tidak ada pengertian dan usaha dari pejabat sebelumnya untuk menerobos kebuntuan akibat peraturan yang dirasa memberatkan banyak anggota masyarakat. Itu dapat diartikan pejabat yang sebelumnya tidak peka dan sudah selayaknya tidak diberikan renumerasi atau bahkan mungkin pensiun karena tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
Seharusnyalah pejabat pelaksana penyelenggara negara bertindak lebih baik dan proaktif serta berani melakukan terobosan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam hal ini penghargaan MURI ini adalah untuk (akhirnya) ketanggapan pembuat keputusan di bidang pencatatan pernikahan daerah. Bukan untuk orang-orang terdahulu dan jelas bukan untuk pemerintah daerah yang dulu dan sekarang.
Kemiskinan, pengabaian undang-undang, ketidakpedulian, mendapat "penghargaan" yang dibanggakan.
Bukti ketidakcerdasan?
Alasan kenapa begitu banyaknya peserta nikah massal adalah -- berdasarkan keterangan pejabat berwenang -- karena ternyata banyak pasangan yang telah menikah di daerah tersebut tapi tak mendaftarkan dan tak memiliki surat nikah resmi karena berbagai macam alasan, terutama karena tak ada biaya untuk itu. Jadi banyak peserta yang memanfaatkan acara ini untuk mendapatkan surat nikah resmi karena tak dipungut biaya. Acara ini bisa begitu ramai karena para peserta juga membawa anak bahkan cucu(!) ke lokasi. Sungguh meriah.
Begitu banyaknya peserta, dikatakan di berita itu, bahkan petugas MURI dan panitia sempat kesulitan mencatat jumlah peserta sebenarnya.
Kemudian ditunjukkan Piagam MURI yang dipegang dan dipamerkan dengan penuh kebanggaan oleh pejabat dan/atau pihak-pihak terkait(?).
Bodoh.
Di balik penghargaan Piagam MURI itu yang dipegang dan dipamerkan dengan bangga karena merasa berprestasi, sangat menohok perasaan bahwa orang-orang itu tidak menyadari bahwa selembar kertas itu juga berarti bukti buruknya kondisi bertahun-tahun di sana.
Bayangkan, sepasang suami-istri bisa sampai punya cucu tapi tak memiliki surat nikah resmi yang berarti keturunan mereka selama ini tak dianggap negara sebagai keturunan sah dari pernikahan tersebut dan biarpun mungkin pernikahan mereka diakui agama tapi menurut negara mereka dianggap tidak sah dan itu sama saja dengan pasangan kumpul kebo.
Selembar kertas Piagam MURI untuk rekor pelaksanaan nikah massal dengan peserta terbanyak itu bukanlah prestasi bila alasan pesertanya adalah karena ketiadaan biaya untuk menempuh prosedur resmi dengan biaya yang tercantum sesuai peraturan negara.
Itu dapat diartikan bahwa begitu banyaknya orang yang tidak mampu untuk mengikuti peraturan dari negara karena memberatkan secara ekonomi. Itu dapat diartikan bahwa banyak orang miskin di sana.
Itu dapat diartikan bahwa kesadaran untuk pencatatan pernikahannya sesuai peraturan yang berlaku di negara ini tidak dianggap penting oleh masyarakat. Itu dapat diartikan bahwa entah kesadaran -- mungkin, tingkat pendidikan? -- orang dewasa yang menikah di sana kurang memadai.
Itu dapat diartikan bahwa petugas dan pejabat instansi terkait abai terhadap peraturan atau undang-undang yang berlaku. Tidak ada pengertian dan usaha dari pejabat sebelumnya untuk menerobos kebuntuan akibat peraturan yang dirasa memberatkan banyak anggota masyarakat. Itu dapat diartikan pejabat yang sebelumnya tidak peka dan sudah selayaknya tidak diberikan renumerasi atau bahkan mungkin pensiun karena tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
Seharusnyalah pejabat pelaksana penyelenggara negara bertindak lebih baik dan proaktif serta berani melakukan terobosan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam hal ini penghargaan MURI ini adalah untuk (akhirnya) ketanggapan pembuat keputusan di bidang pencatatan pernikahan daerah. Bukan untuk orang-orang terdahulu dan jelas bukan untuk pemerintah daerah yang dulu dan sekarang.
Kemiskinan, pengabaian undang-undang, ketidakpedulian, mendapat "penghargaan" yang dibanggakan.
Bukti ketidakcerdasan?
Label:
MURI,
nikah massal,
penghargaan,
prestasi
Selasa, 08 Desember 2009
Rokok Yang Aman
Ini menarik, mengutip dari artikel koran Tribun Jabar hari Senin, 7 Desembar 2009, halaman 10.
= = = = = = =
Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)
Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.
Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.
Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.
Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.
"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.
Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.
Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.
"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.
Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.
Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.
"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.
= = = = = = =
Menurutmu?
= = = = = = =
Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)
Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.
Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.
Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.
Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.
"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.
Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.
Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.
"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.
Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.
Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.
"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.
= = = = = = =
Menurutmu?
Label:
doa,
herbal,
manfaat rokok,
nasional,
pondok pesantren,
pontren,
rokok,
Tasikmalaya,
Tribun Jabar
Selasa, 03 November 2009
Pesimis Atas Indonesia, Wajarkah?
Saat ini berita yang paling banyak menyedot perhatian dan paling banyak ditayangkan di media elektronik dan di radio dalam wawancara dan talk show adalah soal pembukaan rekaman sadapan telepon seorang pengusaha dengan beberapa orang yang dikatakan berusaha mengatur dalam sebuah konspirasi, usaha-usaha penjebakan dan pelemahan sebuah institusi penegakan hukum anti-korupsi.
Begitu banyak pendapat orang dalam peristiwa ini tak perlulah rasanya diulang lagi di dalam posting ini.
Hanya saja yang kurasa perlu diutarakan adalah, menilik sejarah penegakan hukum dan langkah korektif terhadap penyimpangan yang dilakukan banyak oknum terutama high-level profile di institusi penegakan hukum di Indonesia, tidak akan mengejutkanku bila ternyata orang-orang yang dicurigai melakukan penyimpangan itu tidak akan mendapat sanksi yang memenuhi rasa keadilan kita.
Begitu banyak pendapat orang dalam peristiwa ini tak perlulah rasanya diulang lagi di dalam posting ini.
Hanya saja yang kurasa perlu diutarakan adalah, menilik sejarah penegakan hukum dan langkah korektif terhadap penyimpangan yang dilakukan banyak oknum terutama high-level profile di institusi penegakan hukum di Indonesia, tidak akan mengejutkanku bila ternyata orang-orang yang dicurigai melakukan penyimpangan itu tidak akan mendapat sanksi yang memenuhi rasa keadilan kita.
Maksudku, paling banter oknum-oknum itu akan dimutasi ke jabatan lain tanpa ada proses pemecatan dengan tidak hormat bahkan bila ternyata benar mereka melakukan penyimpangan seperti yang terkuak di media massa. Atau bila ada dibawa ke hadapan semacam dewan etik, paling banter mereka hanya diberikan hukuman administratif karena dianggap indisipliner atau alasan remeh lainnya.
Semangat membela anggota korps diantara para penegak hukum di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding niat penegakan keadilan. I'll cover your ass if you cover mine. Mereka merasa wajar saling melindungi biarpun jelas-jelas teman sejawat melakukan kesalahan bahkan tindak pidana.
Itulah Indonesia.
Jadi oknum-oknum itu paling akan dimutasikan ke tempat yang tak akan memancing terlalu banyak perhatian masyarakat sambil berharap bahwa kita semua pada akhirnya akan lupa pada kasus ini. Pemecatan apalagi diproses di pengadilan hanyalah mimpi kita di siang bolong. Tak signifikan dan dengan mudah dapat diabaikan.
Itulah Indonesia.
Bahkan ketidakbecusan para pemimpin institusi tersebut yang tak mampu melakukan pembersihan internal di dalam badan yang mereka pimpin tak akan menyebabkan pemimpin pemerintahan kita tergerak untuk memberikan sanksi atau teguran keras! Jadi jelas mengharapkan pemecatan kepada para pejabat tak kompeten itu adalah hal yang tak usah disebut-sebut karena sudah ketahuan tidak akan terjadi.
Itulah Indonesia.
Lalu aku jadi bertanya-tanya, mau jadi apa Indonesia? Akan selamanyakah kita hanya akan disuguhi drama (seakan-akan ada) proses penegakan hukum (yang adil) di masyarakat? Akankah kita bisa berharap pada pemberantasan korupsi di Indonesia? Wajarkah bila kita mengharapkan masa depan Indonesia yang lebih baik dan berkeadilan sosial?
Indonesia, masih adakah asa untuk kami?
Label:
indonesia,
kompetensi,
korupsi,
penegakan hukum,
politic
Selasa, 20 Oktober 2009
Bisakah Kita Optimis?
Hari ini, 20 Oktober 2009, presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono akan diambil sumpahnya dan dilantik untuk masa jabatan kedua, masa jabatan terakhirnya sebagai presiden RI.
Selain kenyataan bahwa acara ini akan menyebabkan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta dengan potensi kemacetan parah yang tinggi, memang sebaiknya menghindari ruas jalan tertentu agar urusan kita yang tak ada kaitannya dengan upacara pelantikan ini ikut terkena imbasnya dan terganggu.
Tetapi bukan itu maksudku kali ini, karena aku ingin sebenarnya ingin mengajukan sebuah pertanyaan: Masih bisakah kita optimis mendapatkan Indonesia yang lebih baik, lebih berkeadilan sosial, dan lebih demokratis?
Sejujurnya, segala macam berita yang (rasanya terlalu banyak) kukonsumsi akhir-akhir ini membuatku semakin pesimis tentang masa depan Indonesia yang lebih baik. Saking pesimisnya, bahkan paragraf ini aku edit beberapa kali dan keseluruhan posting kali ini aku ubah agar tidak mengandung hal-hal yang berpotensi menyeretku ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Atau perbuatan tidak menyenangkan. Atau hal lainnya yang mungkin tak jelas apa tapi tetap dijadikan alasan untuk menuntut di pengadilan atau minimal pelaporan ke pihak yang berwajib.
Sebegitu mengkuatirkannya kondisi sekarang ini? Sebegitu muramnya masa depan bangsaku ini?
Entahlah. Mungkin aku hanya memandang gelas di depanku ini separuh kosong.
Selain kenyataan bahwa acara ini akan menyebabkan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta dengan potensi kemacetan parah yang tinggi, memang sebaiknya menghindari ruas jalan tertentu agar urusan kita yang tak ada kaitannya dengan upacara pelantikan ini ikut terkena imbasnya dan terganggu.
Tetapi bukan itu maksudku kali ini, karena aku ingin sebenarnya ingin mengajukan sebuah pertanyaan: Masih bisakah kita optimis mendapatkan Indonesia yang lebih baik, lebih berkeadilan sosial, dan lebih demokratis?
Sejujurnya, segala macam berita yang (rasanya terlalu banyak) kukonsumsi akhir-akhir ini membuatku semakin pesimis tentang masa depan Indonesia yang lebih baik. Saking pesimisnya, bahkan paragraf ini aku edit beberapa kali dan keseluruhan posting kali ini aku ubah agar tidak mengandung hal-hal yang berpotensi menyeretku ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Atau perbuatan tidak menyenangkan. Atau hal lainnya yang mungkin tak jelas apa tapi tetap dijadikan alasan untuk menuntut di pengadilan atau minimal pelaporan ke pihak yang berwajib.
Sebegitu mengkuatirkannya kondisi sekarang ini? Sebegitu muramnya masa depan bangsaku ini?
Entahlah. Mungkin aku hanya memandang gelas di depanku ini separuh kosong.
Label:
demokrasi,
indonesia,
keadilan sosial,
pelantikan,
presiden
Sabtu, 19 September 2009
Ritual (Belanja) Tahunan
Setiap tahunnya selalu saja terjadi kegiatan belanja besar-besaran pada saat menjelang hari besar keagamaan -- setidaknya beberapa agama yang kutahu dan yang diakui oleh pemerintah di Indonesia. Aktivitas ini tentu saja dipandang sebagai kesempatan besar bagi para penjual produk untuk berusaha mati-matian menarik perhatian para (calon) konsumen membelanjakan uangnya pada produk barang dan jasa.
Tidak ada yang unik dari hal ini karena kebiasaan berbelanja besar-besaran ini terjadi di banyak negara di seluruh planet. Hanya saja kegiatan ini membuat seorang casual buyer seperti saya yang hendak membeli beberapa barang kebutuhan sehari-hari menjadi harus mengantri lebih lama sebelum dilayani di kasir -- suatu keadaan yang menjengkelkan -- tetapi harus dimaklumi karena mau bagaimana lagi?
Ada begitu banyak orang malam itu, suatu pemandangan yang jarang terjadi di tempatku biasa berbelanja.
Setidaknya keramaian ini mengingatkanku pada keramaian tiap tanggal muda dimana banyak keluarga melakukan belanja bulanan. Sebuah momen yang selalu kuhindari dengan sengaja tidak datang ke tempat itu atau tempat lain yang sejenis karena keramaian berbelanja membuat aktivitas itu sendiri menjadi tidak nyaman.


Kasir yang bertugas ketika kutanyakan soal kondisi ramai seperti ini memberitahuku kalau jam kerja mereka bertambah panjang -- bisa sampai tengah malam -- karena ada begitu banyak orang datang untuk melakukan last-minute shopping.
Yah, karena tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membuatnya tidak terlalu merasa "tertekan" maka aku mengucapkan selamat melaksanakan tugas saja kepada kasir tersebut.
Label:
hypermarket,
life,
preparation,
ritual,
shopping
Jumat, 24 Juli 2009
About Security Checking
Following the bombs at JW Marriott / Ritz Carlton on July 17th, 2009, there were increasing level of security checking everywhere, including and not limited to offices and all public places like shopping malls.
Some people, including me, think that these increasing checking is useless. Because they don't check thoroughly anyway. Instead of opening people's hand-carries but doesn't really check what are the contents inside, it's better for these places to equip themselves with an X-ray scanner, like the ones they have at the airports. If, the intention is really for security reason. I suspect this is only to show that hey, we security people do our work! We check people's bags, you know???
Anyway...
Enjoy this picture below, freshly taken at a place I won't disclose here.
If you can't see the funny thing about it, you're really hopeless.
Some people, including me, think that these increasing checking is useless. Because they don't check thoroughly anyway. Instead of opening people's hand-carries but doesn't really check what are the contents inside, it's better for these places to equip themselves with an X-ray scanner, like the ones they have at the airports. If, the intention is really for security reason. I suspect this is only to show that hey, we security people do our work! We check people's bags, you know???
Anyway...
Enjoy this picture below, freshly taken at a place I won't disclose here.
If you can't see the funny thing about it, you're really hopeless.
Label:
bombs,
Jakarta,
JW Marriott,
national security,
Ritz-Carlton
Langganan:
Postingan (Atom)




