Selasa, 20 Januari 2009

Milk That Makes You(r Kid(s)) Immortal!

Apparently, when you reach the age above 5 years, you become immortal.

Or, if your kid(s) drink this particular brand of milk, they will become immortal, because automatically they are able to do anything, even activities that will probably risk their lives, like swimming in a pool without lifebuoy or anything. Probably they can jump off buildings and fly around like Superman too! Wouldn't that be very COOL? No, I mean, TOTALLY COOL?? AWESOME!!!

If I had known, I would've drunk this milk since I was toddler, so I wouldn't have had to learn swimming, which failed anyway, and by now I would've been able to swim!

Jumat, 16 Januari 2009

(Bisa Jadi) Tambahan Alasan Menolak Legalisasi Judi di Kep. Seribu (?)‏

Akhir-akhir ini kalau ada waktu luang aku sempatkan baca koran online.
Salah satu artikel menarik yang kutemukan di The New York Times, tentang perjudian di Makau, membuatku langsung teringat pada issue tentang keinginan beberapa pihak untuk melegalisasikan kegiatan perjudian dengan melokalisasikannya ke (misalnya) salah satu pulau di Kepulauan Seribu.

Aku bukan menentang ide lokalisasinya. Menurutku ini lebih baik. Kegiatan-kegiatan sejenis yang dilokalisasikan akan membuat aparat yang berwenang lebih gampang mengontrol kegiatan yang dibatasi tersebut. Lebih gampang dalam perizinan. Lebih gampang pula bagi kita mengaksesnya, tak perlu mutar-mutar di jalan dengan penunjuk jalan untuk menemukan tempat-tempat yang bisa dikategorikan "underground". Dan sederet kegampangan lainnya.

Yang membuatku prihatin adalah kebiasaan pejabat-pejabat Cina yang bisa jadi mirip dengan pejabat kita. Misalkan Li Weimin, walikota yang menggelapkan USD 12 juta dari APBD untuk berjudi. Atau berdasarkan hasil studi, dari 99 penjudi kakap, 59 diantaranya punya kaitan dengan pemerintahan: 33 pejabat pemerintahan; 19 senior manajer BUMN; 7 bendahara unit bisnis negara.

Rata-rata kekalahan pejabat USD 2,4 juta; manajer USD 1,9 juta; bendahara USD 500 ribu. Kebanyakan sudah berjudi selama empat tahun sebelum ditangkap dan dihukum. Aksi mereka bahkan sudah membuat bangkrut setidaknya 10 perusahaan milik negara.

Gila juga ya. Bahkan disinyalir kalau uang rakyat yang dihabiskan di meja judi di Makau masih lebih banyak lagi!

Nah, inilah yang membuatku membayangkan, seandainya judi dilegalkan di Indonesia dan dilokalisasi. Untuk negara seperti Cina yang tak segan menghukum mati para koruptor, kejahatan penggelapan uang negara masih bisa terjadi... Bagaimana dengan di Indonesia dimana sering sekali rasa keadilan kita terusik karena seakan-akan para koruptor justru dilindungi dan diusahakan tidak sampai dihukum berat?

Balik lagi ke mental orang per orangnya kali ya...

Kamis, 15 Januari 2009

Sinetron yang Membodohi Kita

Tadi malam, aku nonton sinetron "Rafika". Bukannya aku penggemar berat sinetron (walaupun sekarang lagi mengikut sinetron "Alisa" dan sebelumnya "Yasmin" yang sudah tamat), tapi daripada bengong menunggu kantuk, lebih baik nonton TV dan tayangan apalagi yang ada di stasiun televisi sekarang selain sinetron? Jadi, sambil baca Harry Potter dan Relikui Kematian, aku menyetel RCTI yang sedang menayangkan "Rafika".

Sebenarnya sih aku juga ingin melihat, seberapa liter airmata lagi yang mau ditumpahkan, karena sejak episode 1 (tadi malam adalah eps. 3), si Rafika ini selalu menangis, menangis, dan MENANGIS! Rasanya tiap 5 atau 10 menit, Rafika menangis lagi dan lagi. Herannya, matanya tetap cemerlang dan tidak bengkak!

Jadi, ceritanya si Rafika (aku tidak mau cerita dari eps.1, terlalu panjang...) itu berusaha mengambil hati ibu mertuanya yg sangat membencinya dengan membuatkan bubur manado kesukaan si ibu. Dasar emang si ibu benci sama dia, itu mangkok bubur ditepiskan sampai jatuh ke atas meja makan (hebatnya, tidak tumpah lho!). Si ibu mengomel dan mencaci usaha Fika utk mengambil hatinya, lalu mau beranjak pergi ada acara diluar rumah. Datanglah si kakak ipar Fika (kakak dari suaminya, anak si ibu mertua juga dong...), yg menyarankan si ibu utk mengganti sepatunya dng warna hitam supaya matching dng tampilan si ibu, dan meminta Fika yg mengambil. Sebelumnya, si kakak ipar sudah "mengerjai" sepatu hitam si ibu di lemari sepatu. Fika yg mengira ini kesempatan baik utk menyenangkan hati si ibu, bergegas pergi mengambil, dan dipakai si ibu. Baru sampai teras, si ibu terjatuh sampai anak tangga paling bawah (cuma 3 anak tangga sih hehe...) karena tumit sepatu yg sudah "dikerjain" tadi tentu saja langsung patah. Si ibu lalu dibawa kerumah sakit.

Di RS, seorang dokter memberitahukan kondisi si ibu kepada anak lelakinya (suami Fika). Karena aku tidak pay attention di detik2 ini , aku tidak mendengar persis bagaimana kondisi si ibu. Yg jelas, aku menangkap soal kondisinya diperparah oleh pengapuran tulang (?) yg memang sudah diidap si ibu. Lalu si suami bertanya kepada dokter, kenapa ini bisa terjadi? Si dokter menjawab dng meminta si suami utk memperhatikan sepatu yg dikenakan si ibu. Si suami mengangkat sepatu si ibu dan melihat tumitnya yg patah sebelah, dan bingung, ragu2 bertanya apakah maksud si dokter ada yg mengerjain sepatu si ibu? Si dokter bilang ke si suami utk mengingat2 apakah ada org2 di rumah yg tidak senang dng si ibu dan mencoba mencelakainya. Lalu tentunya semua tudingan tertuju ke Rafika seorang, dikaitkan dng kejadian bubur dan fakta bahwa si ibu mertua memang benci dng Rafika, dan hasilnya, Rafika di usir dari rumah mertuanya.

Merasa ada yg aneh tidak?
Biar kujelaskan apa yg ada di otakku pas nonton adegan diatas.

1. Si suami yg superbodoh bertanya ke si dokter APA YG TERJADI? Hellooo...jelas2 yg terjadi adalah ibunya jatuh kan! Dan dia bertanya demikian SETELAH si dokter menjelaskan kondisi si ibu, bukan sebelumnya. Maksudnya apa sih bertanya apa yg terjadi, ke si DOKTER, yg jelas2 tidak ada ditempat kejadian (jatuhnya si ibu) berlangsung? Memangnya si dokter adalah detektif atau polisi yg bisa mereka-reka kejadian kriminal?

2. Si dokter hebat yg mungkin pekerjaan sampingannya adalah detektif sekaligus jaksa sekaligus hakim. Dengan hebatnya, dia mengarahkan si suami utk memeriksa sepatu si ibu yg patah, lalu menyimpulkan bahwa patahnya tumitnya itu pasti disengaja (dikerjain tumitnya), lalu tentunya ada yg bermaksud mencelakakan si ibu dng cara demikian. Dan semua itu diungkapkan TANPA menyebutkan kalau keliatannya patahan tumit sepatu itu tidak wajar, terlalu rapi (karena dikerjain bukan patah karena beban tubuh). Kurasa si dokter ini mungkin pernah jadi ahli forensik semacam di serial CSI juga.

3. Dan berkaitan dng point no.2 diatas, kok bisa sih si dokter menyimpulkan demikian? Tumit sepatu yg patah bisa terjadi dng berbagai alasan :
- sudut penempatan kaki yg tidak tepat menyebabkan beban tubuh di titik yg salah sehingga tumit sepatu yg kecil tidak mampu menahan beban tubuh sehingga akhirnya patah
- si ibu mungkin pas turun tangga kurang hati2, sama dng point diatas juga hasilnya
- memang tumit sepatunya sudah rapuh, dipakai berjalan beberapa langkah juga akan patah
- dan lain lain alasan

4. Seorang dokter, menurutku, tidak pada tempatnya menyampaikan hal2 diluar konteks seperti itu. Mustinya, dia cukup menjelaskan kondisi kesehatan si ibu setelah terjatuh, lalu pertanyaan si suami soal apa yg terjadi (mungkin maksudnya apa yg menyebabkan si ibu terjatuh), bisa dijawab dng bijak atau malah dia bisa jawab tidak tahu, toh dia tidak ada disitu pas si ibu terjatuh kan? Apapun opini yg dimilikinya, apapun dugaannya dia (mungkin dia "ngeh" bahwa si ibu terjatuh gara2 tumit patah), tidak sepatutnya disampaikan ke keluarga si ibu. Bukan tugasnya, dan tidak pada tempatnya. Apalagi sampai menjadikan keluarga si ibu berprasangka yg bukan bukan.


Aku pernah kok mengalami tumit sepatuku patah di kantor yg berkarpet empuk, karena cara berdiriku salah. Lalu apakah aku berpikir : "Wah ada yg mengerjain tumit sepatuku nih, ada yg mau aku celaka nih...."? TIDAK KAN???

Seharusnya, ada cara lain utk menggiring si suami dan keluarganya utk berpikir bahwa ini gara2 Rafika sampai si ibu terjatuh, tanpa melibatkan si dokter / jaksa/ hakim / detektif / CSI itu. Kan bisa saja, dibuat adegan si suami tanpa sengaja melihat sepatu si ibu yg tumitnya patah lalu membuat kesimpulan sendiri dlm otaknya. Gampang kan? Dan tidak perlu membodohi seluruh pemirsa sinetron tersebut. Atau memang pemirsa sinetron Indonesia (dianggap) sebodoh itu, sampai tidak akan "ngeh" dng anehnya adegan tersebut?

Entahlah.

Yg jelas, menurutku, akting Carissa Putri sebagai Rafika kok agak mengecewakan ya. Kebanding waktu dia jadi Maria di Ayat-Ayat Cinta, ini mah ga ada apa-apanya. Mana setiap 5 menit adegannya nangis melulu. Nangis yg bercucuran airmata lho, bukan cuma berkaca-kaca. Terlalu banyak airmata, menurutku. Malah jadi tidak mengharukan, tapi menyebalkan.

Tapi kok aku tetap mau nonton ya?

Karena aku mau melihat lebih banyak adegan tidak masuk akal dan membodohi lainnya hehehe...Supaya bisa kucela-cela nantinya :D

Senin, 12 Januari 2009

Mengapa Ajakan "Boikot Produk Israel!" Tak Akan Berdampak

Izinkan aku sedikit sinis dengan mengajukan pertanyaan: "Ada berapa banyak produk Made in Israel yang kau gunakan sehari-hari?"
Pribadi, aku tahu jawabannya: Zero. Nothing.
Sesadar-sadarnya aku mengecek negara produsen produk impor yang kupakai sehari-hari -- ataupun yang jarang aku pergunakan tapi aku beli -- sering mengacu pada satu negara: Cina. Atau Taiwan.

Beberapa barang mungkin diproduksi di Malaysia atau Thailand.
Bahkan bila dikumpulkan dalam beberapa tahun terakhir, produk impor yang kugunakan adalah berasal dari negara Cina, Taiwan, dan kawasan regional ASEAN.
Jadi, ketika ada demonstrasi besar-besaran pada hari Minggu kemaren dengan ajakan memboikot produk Israel, aku cuma tertawa.

Aku tidak tahu apakah kau yang membaca ini ikut serta dalam "kemeriahan pawai" tersebut tetapi yang aku tahu, impact dari aksi kalian itu tidaklah signifikan. Untuk mengatakan aksi kalian itu sia-sia, rasanya berlebihan (walau mungkin beberapa kalangan akan menjustifikasi penilaian alternatif seperti ini).

Yang cukup menggelitik, TAK ADA SEORANGPUN yang berani secara terang-terangan mengajak memboikot penggunaan produk barang atau jasa negara sekutu Israel yang terkuat: Amerika Serikat. Justru kebungkaman orang soal satu ini membuatku merasa miris.

Lalu aku melakukan tindakan yang logis, mengajukan pertanyaan mengapa: "Mengapa tidak ada seorang di antara ribuan orang berpawai yang mengajak untuk memboikot produk Amerika?" Disusul dengan tindak lanjut logikal, mencoba menjawab sendiri pertanyaan tadi.

"Mungkin kita gampang berteriak BOIKOT ISRAEL DAN PRODUKNYA tapi tidak BOIKOT ISRAEL DAN AMERIKA DAN PRODUKNYA karena... Kita dijajah oleh Amerika tapi tidak (secara eksplisit) oleh Israel."

Ajakan boikot yang satu itu TAK AKAN TERCETUS oleh penduduk Indonesia yang berpikiran waras karena jelas tidak ada seorang pun yang bisa konsekuen mengikuti boikot itu.

Jelas saja, sebagian besar (atau bahkan semua!) kalian yang membaca tulisanku ini MENGGUNAKAN PRODUK AMERIKA.

Membacanya melalui desktop atau laptop? Apa OS-nya? Microsoft Windows? MacOS? Itu produk Amerika.

Kalau mencari tugas atau apapun di internet pakai search engine Google? 100% hasil orang Amerika.

Punya iPod? iPhone? Produk Amerika.

Suka nongkrong di Starbucks, makan Burger King atau McDonalds? Itu SANGAT AMERIKA.

Kalau weekend sering konvoi pakai moge Harley-Davidson? Representasi jiwa kebebasan Amerika.

Nonton bioskop di Blitz atau jaringan 21? Paling juga film Holywood (yang juga Amerika).

Aku bisa menulis panjang sekali produk dan jasa dari Amerika apa saja yang kita gunakan di dalam negeri. Bahkan hidup kita di Indonesia tak bisa dilepaskan dari keterikatan dengan Amerika. Bisa dibilang, jiwa, semangat, dan budaya Amerika sudah berkelindan dengan kita di Indonesia.

Tapi hal yang sama akan sangat sulit dilakukan untuk Israel dan produk mereka karena bahkan setelah break dari menulis ini untuk berpikir keras tentang produk Israel, aku tetap tidak menemukan apapun yang bisa kusebutkan tentang produk Israel yang ada di Indonesia.

Itulah sebabnya mengapa pawai dan ajakan untuk memboikot produk Israel di Indonesia tidak ada dampaknya -- dan merupakan waste of creative energy! (Ups, kalimat berbahasa Inggris -- yang dipakai sebagai bahasa nasional Amerika Serikat.)

=====

P.S.: Tolong koreksi aku bila ada kesalahan.

Jumat, 09 Januari 2009

Orang Ketiga - Membantu, atau Mencampuri?

Beberapa minggu lalu, aku kebetulan nonton suatu acara reality show di salah satu stasiun TV swasta yg berjudul "Orang Ketiga".

Tadinya kukira ini adalah semacam reality show tentang pasangan kekasih yg salah satunya berselingkuh atau sejenisnya. Ternyata, well, tidak sepenuhnya salah. Acara ini ternyata adalah semacam penyelidikan terhadap seseorang yg diminta utk diselidiki oleh klien acara ini. Alasannya pun bisa bermacam, terserah si klien.

Kenapa diberi judul Orang Ketiga?

Kalau aku tidak salah tangkap, Orang Ketiga maksudnya disini adalah orang diluar para "pelaku" (klien dan org yg dilaporkannya), yakni presenter dan kru acara ini. Mereka harus berlaku se"fair" mungkin, tidak menyampaikan opini mereka sendiri, melainkan hanya mengumpulkan fakta-fakta utk mencari tahu apa sesungguhnya yg terjadi dengan si orang yg dilaporkan klien.

Jadi mungkin untuk mudahnya, kucontohkan saja salah satu episode yg kutonton :

Ada seorang perempuan, umurnya mungkin tidak lebih dari 22 tahun (karena katanya masih kuliah S-1 dan wajahnya juga masih terlihat sangat muda), katakanlah bernama Ani. Si Ani ini melaporkan temannya, misalnya si Santi, yang katanya akhir-akhir ini berlaku aneh. Menurut Ani, Santi ini tadinya adalah teman dekatnya, tapi beberapa bulan terakhir ini Santi seperti menghindari Ani dan tidak berkontak-kontak sedekat biasanya. Santi penasaran dan ingin mencari tahu kenapa. Dan menurut Ani, sepupunya yg tinggal serumah dengannya (misalnya namanya Dewi, wajahnya dikaburkan sepanjang acara) menceritakan kepada Ani bahwa sudah beberapa kali Santi datang kerumah Ani pada saat Ani tidak ada dirumah. Kebetulan si Dewi ini memang tinggal di rumah Ani juga.

Info tambahan, Ani ini tinggal bersama Ayahnya dan Dewi.

Ani jadi curiga, lalu meminta tim Orang Ketiga utk membuntuti gerak gerik Santi. Ternyata dari hasil penyelidikan tim Orang Ketiga (OT), Santi (wajahnya juga dikaburkan) itu datang ke rumah Ani pada saat Ani tidak ada, dan menemui ayahnya. Tapi mendapati Dewi ada dirumah, si Santi jadi kaget, beralasan dia mencari Ani tapi tidak ada dan buru2 pergi. Padahal, beberapa saat sebelumnya, Ani baru menelpon Santi dan memberitahu dia (Ani) lagi di Bandung dan tidak ada dirumah, dan Santi mengaku lagi mau pergi ke rumah saudaranya.

Sampai disini, pemirsa rasanya sudah bisa menebak kejadian berikutnya, atau menebak apa sebenarnya yg terjadi.

Di salah satu potongan rekaman video tersembunyi (di pena kamera -> pencam) yg diletakkan Dewi diruang tamu atas permintaan tim OT, ternyata Santi datang lagi pada saat Ani tidak ada dirumah lagi (memang Ani sengaja tidak ada dirumah utk memancing Santi datang), dan bertemu si bapaknya Ani (wajah si bapak dikaburkan juga), lalu ada pembicaraan singkat memastikan tidak ada orang dirumah dan soal transferan ke rekeningnya Santi, sebelum si bapak menggendong (!) Santi ke kamar.

Nah, sudah ketebak kan, apa yg terjadi?

Ani yg diperlihatkan rekaman ini tentunya emosi berat. Apalagi sebelumnya ia bersama tim OT sudah membuntuti Santi dan ayahnya Ani ke sebuah hotel yg mana diperlihatkan Santi dan ayahnya Ani baru keluar setelah beberapa jam dari hotel tersebut. Apa yg terjadi di dalam hotel, entahlah.

Jadi akhirnya, Ani menggerebek ayahnya sendiri dan Santi, didalam kamar ayahnya. Terjadilah adegan jerit menjerit, teriak2, si Santi yg tadinya mencoba memeluk Ani mungkin utk minta maaf tapi akhirnya marah2 mengatakan Ani tidak mengerti, Ani yg menjerit2 marah kepada ayahnya dan temannya sendiri, si ayah yg berteriak2 melihat ada kamera dan lain lain.

Wah, rasanya reality show yg seru sekali ya..! Penuh bumbu sensasional, affair tersembunyi, dan mungkin juga tindak pidana kesusilaan!

Tapi, ada pertanyaan yg menggantung di benakku setelah menontonnya :

1. Kenapa Ani mau dan rela liputan ini ditayangkan? Ingat, wajahnya Ani tidak dikaburkan, hanya wajah Ayahnya, Santi, dan Dewi. Ini liputan yg sensasional, apakah Ani karena sudah emosi tidak peduli lagi bahwa jutaan pemirsa di Indonesia sekarang tahu bahwa Ayahnya berselingkuh dengan teman kuliahnya sendiri?

2. Ini adalah siaran rekaman. Dan menilik kejadiannya, tentunya ini kejadian yg sangat bikin shock siapapun yg terlibat didalamnya, apalagi Ani si anak yg mendapati ayahnya sendiri melakukan hal tersebut. Tapi, pada saat adegan2 terpisah dimana Ani memberikan komentar2, ada saat2 dimana dia terlihat datar2 saja. Padahal dia lagi menceritakan suatu hal yg sangat BESAR dalam hidupnya bukan? Bahwa ayahnya ternyata tidur dengan teman kuliahnya sendiri?

3. Pada saat Ani menggerebek kedalam kamar ayahnya, Santi bersembunyi dibawah selimut sebelum ketahuan oleh Ani yg menarik paksa selimut itu setelah tidak mendapati Santi di kamar mandi dlm kamar tidur tersebut. Anehnya, Santi dan ayahnya Ani berpakaian lengkap loh....hehehe...Kukira sampai disini, semua pemirsa pasti sudah berasumsi kalau Santi telah melakukan hubungan seksual dng si ayah Ani, dan tentunya baik Santi maupun ayahnya Ani tidak menyangka akan digerebek. Jadi, kok sempat2nya mereka berpakaian lengkap yah? Atau mereka memanfaatkan beberapa detik sebelum membuka pintu utk berpakaian lebih dulu? Hmm...

Menurutku, ini jenis tayangan yg agak aneh. Dan rasanya orang2 yg melapor itu juga aneh. Kalau mereka mau menyelidiki tentang orang2 terdekatnya yg dirasa berkelakuan aneh, kenapa tidak mencari jasa penyelidik swasta saja? Hasilnya bisa diandalkan, dan tidak diliput lalu ditayangkan diseluruh Indonesia. Kenapa mereka memilih utk menghubungi tim reality show ini? Bukankah kejadian2 yg terjadi kebanyakan adalah hal2 memalukan yg sebenarnya pastinya ingin ditutupi dari mata masyarakat? Kenapa malah mereka merelakan di ekspose ke muka publik seperti itu? Apakah mereka dibayar? Numpang ngetop masuk TV?

Atau sebenarnya semua kejadian ini cuma rekayasa saja, alias tidak benar2 terjadi?

Ada satu episode lagi yg juga mengherankanku. Tentang seorang perempuan yg mencurigai kakaknya sendiri. Dia curiga kakaknya bukanlah seorang penerjemah bahasa asing seperti yg diakui kakaknya kepadanya. Katanya dia pernah mencoba menanyai kakaknya tapi kakaknya menghindari menjawab dengan detil. Lalu dia meminta tim OT utk menyelidiki.

Hasilnya, setelah dikonfrontasi dengan berbagai rekaman video, kakaknya mengaku (dengan berteriak histeris) bahwa dia adalah penari striptease. Kakaknya marah kepada si adik, dng mengatakan adiknya tidak mikir darimana kakaknya bisa membiayai hidup mereka berdua. Kenapa si adik harus melibatkan orang luar dari stasiun TV pula, hanya utk tahu hal ini. Dan sebagainya.

Menurutku, memang benar kata2 si kakak. Terlepas dari apa pekerjaannya, si adik mustinya bisa menanyakan secara pribadi ke si kakak. Atau mencoba membuntuti si kakak sendiri, tidak perlu sampai minta tim OT yg jelas2 adalah dari stasiun TV dan akan ditayangkan. Pada saat nonton saja, aku sampe ikut berseru : "Iya dong mikir dong mikirrr....", pada saat si kakak berteriak2 kepada adiknya yg tidak berpikir lebih jauh bagaimana si kakak selama ini bisa menghidupi mereka berdua.

Diakhir acara, si adik menangis dan bilang dia meminta kakaknya berhenti bekerja demikian, dia tidak perlu semua barang2 dan lain2, dia minta kakaknya mencari pekerjaan lain yg "halal".

Sampai disini aku merasa si adik tentunya masih sangat muda (kalau diliat mukanya, umurnya mungkin 20 maksimal), dan amat sangat naif, kalau bukan pura-pura naif. Rasanya, tidak ada perempuan yg mau bekerja "haram" kalau memang bisa. Tapi, nasib dan keadaan tidak segampang itu bukan? Dan lagi, selaam ini si adik sudah menikmati berbagai kemudahan hidup berkat kakaknya, kenapa kok baru terpikir sekarang gitu lho, apa sih sebenarnya kerjaan kakaknya? Lagipula, sekali lagi, sebagai adik, kenapa tidak berusaha mencari tahu sendiri langsung ke kakaknya sebenarnya apa kerjaan kakaknya? Menurutku, si adik kurang berusaha mendekat kakaknya, sampai perlu melibatkan orang luar pula.

Jadinya, aku tidak bersimpati pada si adik. Aku malah bersimpati pada si kakak. Kalau jadi si kakak, mungkin aku marah sekali pada adik yg tidak tahu diri ini. Walaupun wajahnya si kakak dikaburkan, tapi wajah si adik sebagai klien acara ini tidak mungkin dikaburkan, dan pastinya beberapa penghuni Jakarta ini kenal dng si adik, dan apa yg ada di otak mereka pada saat lain kesempatan mereka bertemu dia, atau malah bertemu kakaknya?

"Oh dia nih yg kakaknya penari striptease itu..."
"Oh kakaknya penari striptease nih...mau ga ya klo gw bayar buat nari di acara bachelor party gw?"
"Wah...kakaknya penari striptease nih...jangan2 bisa di"pakai" juga nih?"
"Eh...ini kan yg kakaknya penari striptease itu...hm, sapa tau dia juga ikut jejak kakaknya nih?"

Memang semua itu pikiran2 negatif, dan mungkin pikiranku negatif juga.
Tapi please deh, ini Jakarta gitu lho, itu sebabnya kubilang si adik memang sangat naif sekali bahkan bodoh sampai mau menjadikan dirinya "korban" sukarela dng ikut reality show seperti ini. Dan wajar saja si kakak marah besar karena pastinya orang2 yg kenal dng mereka selama ini tapi tidak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaannya, sekarang menjadi tahu, thanks to her idiot sister.

Orang bisa bilang, mungkin ini sudah jalannya, siapa tahu inilah tanda dari Diatas buat si kakak merubah pekerjaannya. Well, itu positive thinkingnya.

Entah kenapa kok aku malah merasa reality show Orang Ketiga ini malah jadi seperti media resmi dan terbuka utk dengan sah ikut "mencampuri" kehidupan pribadi orang, dengan bantuan orang terdekatnya pula. Sungguh menyakitkan. Entah apa imbalan yg didapat para klien, selain kemasyhuran mendadak (tapi bukan oleh hal terhormat) dan sakit hati berkepanjangan dan menyebabkan terlukanya hati orang-orang dekatnya. Karena toh semua rekaman ditayangkan dengan seijin orang2 yg terlibat didalamnya.

Rabu, 07 Januari 2009

Cerita Hari Ini

Kadang kita menjadi saksi dari suatu peristiwa yang kebetulan kita sempat merekamnya baik dalam video maupun dalam rangkaian foto.

Bila kita beruntung, video yang kita ambil bisa menjelaskan rangkaian peristiwa, mulai sebab hingga akibatnya. Berbeda dengan video, kita butuh penyertaan semacam narasi yang lebih gamblang untuk menjelaskan sebuah foto sehingga orang yang melihatnya bisa mengerti.

Tetapi bila kita kebetulan bisa merekam rangkaian peristiwa dalam beberapa foto, kita dapat meminimalkan kebutuhan kata-kata penyerta -- bahkan dalam beberapa hal teks penyerta tidak lagi perlu.

Berikut ini contohnya.

Note: Teks penyerta dibutuhkan pada awal rangkaian foto dan untuk menjelaskan "loncatan" rangkaian peristiwa yang tertangkap dalam rangkaian foto.


Seorang pengemudi sepeda motor menerobos celah pada median karena merasa putaran balik resmi di depannya masih terlalu jauh. Dia tidak peduli bahwa jalan pintas yang digunakannya itu berbahya bagi diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

=====


Pengemudi lain yang melihat tindakan itu terinspirasi untuk meniru kecerobohan tersebut.

=====



=====


Pengemudi sepeda motor lain yang melaju dengan kecepatan tinggi tidak sempat menghindar sehingga tabrakan terjadi. Setelah berhasil menguasai sepeda motor sehingga tidak jatuh, dengan menepi di median, dia mendatangi si pemutar jalan ilegal.

=====


Perdebatan terjadi karena kedua belah pihak sama-sama merasa tidak bersalah.

=====


Seorang polisi lalu lintas mendatangi lokasi, menyuruh mereka menepi, lalu berusaha memediasi sengketa tersebut.

=====


Karena belum tercapai kesepakatan, petugas mengambil surat-surat kedua belah pihak dan meminta mereka menyusulnya ke pos jaga.

===============================================

Tapi sebenarnya pelanggaran lalu lintas seperti itu tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai dan kekeluargaan. Penyelesaian seperti itu belum tentu memunculkan efek jera. Sudah seharusnya pelanggaran lalu lintas -- yang adalah pengabaian disiplin berkendara -- diberi hukuman yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Justru kebiasaan penyelesaian dengan jalan damai ini menyulitkan edukasi pada pengemudi dan para pengguna jalan raya untuk berdisiplin lalu lintas.

Kesimpulan #1: Fotografi itu menarik. Usahakan selalu siap dimanapun dengan sebuah kamera! Momen yang sama tidak terjadi dua kali.

Kesimpulan #2: Seandainya berkendaraan, selalu bawa uang lebih untuk "damai" di jalan bisa terjadi kecelakan seperti ini (tidak ada cedera serius yang membutuhkan perawatan medis juga tidak memakan korban jiwa).

Selasa, 06 Januari 2009

Seandainya Saja Pelajaran Sejarah Jauh Lebih Menarik

Kita yang pernah mengalami masa sekolah dasar bersama tentu pernah mendapatkan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa atau PSPB. Seingatku, CMIIW, ketika itu yang membuatku bingung adalah kita diajarkan mata pelajaran Sejarah dan juga PSPB yang sama-sama mempelajari hal yang sama: sejarah. Bedanya PSPB lebih menekankan pada sejarah lokal kita sebagai bangsa Indonesia.

Harus aku akui, sejarah dan PSPB hampir sama tidak menariknya -- sejak pendidikan dasar sampai menengah atas -- karena rasanya penekanannya pada aspek kronologis (penanggalan peristiwa) dan intepretasi tunggal dari sebuah peristiwa masa lalu. Memang benar sekali aksiom(?) seseorang yang pernah kubaca, bahwa sejarah masa lalu ditulis oleh pihak yang menang. Tafsir tunggal ini jugalah yang membuatku merasa pembelajaran sejarah -- dan PSPB -- adalah sebuah beban tambahan yang tidak menarik.

Mungkin hal semacam inilah yang menarikku membaca novel-novel sejarah. Ada prosa di sana, penganimasian tokoh-tokoh yang dalam buku kurikulum ajar digambarkan secara dua dimensi saja, fakta sejarah yang tercatat dan waktu terjadinya. Ada dialog (imajinatif pengarang) yang memberikan dimensi lain pada tokoh-tokoh itu: kedalaman karakter. Bagiku, novel sejarah jauh lebih memikat daripada kumpulan data yang disusun dalam buku-buku tebal yang tiap tahun harus berganti -- walaupun garis besar isinya sama -- itu. Belum lagi waktu yang diberikan untuk pendalaman suatu peristiwa dalam sejarah hanya dibatasi dalam dua kali empat puluh lima menit waktu jam belajar kita. Terlalu singkat dan padat sehingga rasanya kita hanya diberi waktu singkat dan dipaksa menjadi jago menghafal.

Yang tentu saja tidak berhasil kulakukan karena aku paling sulit menghafal tanggal. Aku lebih mudah mengingat siapa membunuh siapa di mana dan dengan cara apa. Atau bagaimana seorang tokoh dieksekusi. Atau siapa yang melakukan pengkhianatan dan siapa yang ditangkap dan dihukum karenanya. Tapi begitulah dalam buku pelajaran sejarah kita: Si bangsawan A didukung VOC menggantikan bangsawan B yang kemudian melakukan perlawanan dari pengasingan sebelum akhirnya tertangkap juga dan kemudian dihukum mati atau dibuang ke Tanah Merah (atau lokasi lainnya).

Kita diajarkan kalau si bangsawan A adalah penjahat dan pengkhianat dan si bangsawan B adalah pahlawan nasional. Segamblang sinetron Indonesia masa kini: hitam dan putih. Tidak ada abu-abu. Tidak ada catatan atau penjelasan, bisa saja si bangsawan A memilih VOC karena dengan itu ada kesempatan untuk pendidikan dan peningkatan kecerdasan -- pihak penjajah juga membuka sekolah walau kesempatan belajar sangat terbatas pada kaum tertentu -- dibandingkan saudaranya si bangsawan B yang lebih percaya cara-cara gaib mistis dan klenik serta anti terhadap inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang ilmiah.

Itulah yang membuat aku menikmati sepotong sejarah atau rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam novelisasi karena bagiku jauh lebih mudah mengingat suatu hubungan sebab akibat atau dinamika peristiwa walaupun mungkin itu hanya rekaan si pengarang belaka. Atau bisa disebut rekonstruksi peristiwa dengan bantuan imajinasi penulis.

Juga mungkin itulah mengapa aku pada akhirnya bisa menerima mengapa seorang John Patrick Ryan bisa memiliki karir sebagai analis sampai menjadi kepala CIA sebelum kemudian menjadi POTUS (President Of The United States). Kemampuan seorang pengarang seperti Tom Clancy dalam story-telling bahkan sudah mengikatku sejak kita masih berseragam putih-biru.

Sekarang ini aku berusaha mulai membaca Executive Order dalam edisi paperback bahasa Inggris yang kubeli bekas dari sebuah toko buku. Mungkin itulah yang mendorongku menuliskan ini.

Seandainya saja pelajaran sejarah sekarang lebih menarik lagi.