Senin, 19 April 2010

Pengamat Sayangkan Cara-Cara Intimidasi Ibas

 

Jakarta (ANTARA) - Seorang pengamat politik menyayangkan sikap putra Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang melakukan tekanan-tekanan kepada DPD dan DPC-DPC PD se-Jawa Timur untuk memilih calon ketua umum Andi Mallarangeng.

"Perilaku Ibas ini justru kontradiktif dengan pernyataannya sendiri, bahwa dukungannya pada Andi Malarangeng adalah dukungan pribadi dia sebagai seorang yang memiliki hak politik, seorang kader PD dan tidak berkaitan dengan sikap SBY sendiri," kata pengamat politik dari Geschellscahft fuer Techniche Zeichen (GTZ), Cecep Effendy, Cecep Effendy, di Jakarta, Senin.

Cecep menjelaskan Ibas diberikan kebebasan oleh SBY sebagai seorang kader PD dan sebagai seorang individu dewasa yang memiliki hak politik.

Menurut Cecep, sebenarnya ini sangat positif buat SBY sebagai gambaran bahwa SBY adalah sosok demokrat sejati.

"Namun, langkah Ibas menekan DPD dan DPC se-Jawa Timur untuk memilih Andi tentunya jauh dari kesan demokratis. Seharusnya DPD dan DPC itu dibiarkan memilih berdasarkan pertimbangan mereka yang rasional dan tidak boleh ada intimidasi seperti halnya kebebasan yang diberikan oleh SBY padanya," kata Cecep.

Cecep juga mengeritik langkah Andi dan timnya yang memanfaatkan Ibas untuk kepentingannya. Andi, katanya, telah memanfaatkan ketidakmatangan Ibas dalam berpolitik, dan Ibas dengan ketidakmatangannya mengikuti kemauan Andi.

Dalam pandangan Cecep, jika Ibas mendukung Andi, tidak ada yang salah, namun seharusnya hal itu dilakukan secara transparan dan tanpa tekanan.

"Ibas seharusnya sadar bahwa dukungan yang diberikan padanya harus dilakukan terbuka karena dengan keterbukaan akan menjadi preseden yang baik," katanya.

Kalau hal seperti ini dibiarkan, kata Cecp, akan terus dilakukan dan akan menjadi siklus. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena PD yang bisa dikatakan sebagai partai baru dengan politisi-politisi baru akan menjadi seperti partai lama lainnya.

Cecep mengharapkan seharusnya kongres PD dimanfaatkan untuk mengubah stigma buruk di masyarakat mengenai partai. PD harus memiliki paradigma yang berbeda dengan paradigma yang dianut oleh partai-partai lama yang tidak disukai oleh masyarakat.

"Cara tim Andi dan Ibas melakukan ini tentunya menggambarkan bahwa PD tidak ubahnya seperti partai lainnya. PD justru membuang momentum untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan masyarakat bahwa PD memang benar-benar berbeda dari partai-partai lainnya," kata Cecep.

Tekanan dan intimidasi tersebut, ujarnya, akan membuat masyarakat berpandangan omong kosong semua ucapan demokrasi. Tekanan yang dilakukan terhadap kader yang tidak sejalan dan demokrasi adalah bukti bahwa semuanya hanyalah omongan manis di mulut.

"Keluarga SBY seharusnya juga menghindar untuk didekati oleh calon-calon ketua umum. Ini seperti orde baru saja cukup mendekat ke keluarga penguasa tanpa harus kerja keras mendapatkan posisi. Seharusnya calon ketua umum itu bekerja untuk partai dan bukan hanya bekerja untuk menarik perhatian dukungan keluarga," katanya.

Sementara Ketua Tim sukses Anas Urbaningrum, Achmad Mubarok, meminta kubu Andi Mallarangeng menghentikan tekanan politik kepada sejumlah DPD dan DPC Partai Demokrat yang ingin mendukung pencalonan Anas Urbaningrum.

"Kami ingin persaingan ini berjalan fair. Hentikan tekanan politik kepada DPD dan DPC. Hentikan kampanye hitam. Biarkan persaingan berjalan fair seperti diamanatkan Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono," kata Mubarok

Mubarok mengakui tim Anas merespon tekanan politik yang semakin gencar dilakukan kubu Andi Mallarangeng terhadap DPC dan DPD yang mendukung Anas.

Dalam beberapa kesempatan, ujar Mubarok, tekanan terhadap DPC dan DPD jelas sekali dirasakan.

Mubarok mencontohkan, saat acara silaturahmi antara Anas dan DPC dan DPD, ada salah satu DPC dari Propinsi Banten yang dilarang mengikuti acara tersebut, karena mendapat perintah dari DPD yang mendukung Andi Mallarangeng.

Begitupun saat acara deklarasi yang digelar pekan lalu, menurut Mubarok, ada sejumlah DPC yang tidak bisa menghadiri acara itu karena adanya tekanan politik.

"Kami juga mendeteksi tekanan di propinsi Jawa Timur. Tapi saya yakin tidak akan berpengaruh banyak, karena Jatim sudah kompak mendukung Anas," katanya.

Meski mendapatkan tekanan dari kubu Andi, Mubarok mengatakan, pihaknya tetap akan menyikapi hal itu secara proporsional dan tidak menyerang balik, karena Anas lebih mengutamakan nilai-nilai kesantunan dalam berkampanye dan meraih dukungan.

"Kami ingin menjadikan soft power sebagai kekuatan," katanya.

Mengenai ketidakhadiran anggota keluarga Cikeas dalam deklarasi Anas, Mubarok membantah bahwa hal itu adalah cerminan bahwa dirinya tidak direstui. Ketidakhadiran keluarga Cikeas termasuk Ketua Pembina Partai Demokrat, Presiden Susilo.

Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti tidak direstui SBY, sebagaimana dipersepsikan sebagian pengamat politik di media massa. Yang benar adalah SBY mendukung semua kader Demokrat untuk kemajuan partai, stabilitas politik dan kehidupan berdemokrasi yang bermutu," kata Mubarok.

* * * * *

Well, what do you expect? Indonesia gitu lho.

Rabu, 17 Maret 2010

Asuransi Jiwa dan Pertaruhan

Tidak begitu banyak orang yang menyadari kebutuhan akan asuransi dan mengingat ada begitu banyak jenis asuransi tentu bisa saja membuat orang yang awam menjadi bingung sehingga mungkin saja memutuskan untuk tidak mengambil polis apapun.

Padahal ada banyak kemungkinan peristiwa yang berpotensi merugikan bisa terjadi pada siapa saja. Cuma memang karena kebiasaan optimistis kita bahwa hal itu tak akan terjadi atau kebiasaan kita untuk pasrah pada Yang Di Atas sehingga merasa sudah suratan takdir maka tidak merasa perlu mengambil polis asuransi untuk berjaga (bertaruh?) terhadap kemungkinan sesuatu peristiwa naas terjadi atau tidak pada diri kita sendiri.

Mungkin yang paling umum ditawarkan dan kita dengar adalah asuransi jiwa dan membaca soal perhitungan sederhana asuransi jiwa membuatku tersadar sesuatu hal:

Mungkin nilai asuransi jiwa yang kuambil terlalu kecil.

Begini: agen pertama yang membuatku tertarik membeli asuransi jiwa menawarkan nilai sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang pada saat itu kuanggap sudah cukup untuk permulaan karena premi yang harus kubayarkan tidak akan "terasa" pengaruhnya pada alokasi pengeluaran dana tiap bulan. Menurutku sebagai seorang pemula asuransi, adalah lebih penting untuk tidak sampai "menurunkan" kualitas hidup hanya karena bertaruh bahwa aku akan meninggal dalam sepuluh tahun ke depan. Pilihan yang saat itu kuanggap cerdas.

Kemudian aku tersadar, setelah membaca sebuah artikel koran, bahwa bila diandaikan penghasilanku per tahun adalah Rp. 50.000.000,00 (limapuluh juta rupiah) maka nilai nyawa yang kupertaruhkan di asuransi itu adalah hanya sebesar dua tahun kerja!

Bayangkan, nilaiku setelah mati hanya seharga dua tahun hidup bekerja membanting tulang.

Sungguh menjadi terasa sangat tidak layak.

Bayangkan lagi bila aku memiliki keluarga yang selama ini hanya mengandalkan sumber penghasilanku saja untuk menopang kehidupan. Artinya setelah aku meninggal mereka hanya akan bisa bertahan selama dua tahun saja (tentu kita tidak mempertimbangkan pengaruh inflasi kepada nilai uang dari asuransi tersebut). Pemikiran yang mengerikan.

Apakah aku yakin dengan bekal hidup selama dua tahun saja berarti keluarga yang kutinggalkan telah mampu menemukan sumber penghasilan baru untuk menopang kebutuhan hidup mereka? Aku tidak tahu dan aku tidak yakin.

Bahkan bila diandaikan kalau aku meninggal pada usia 30 tahun dan diandaikan masih tetap produktif dan bekerja sampai usia 65 tahun, artinya mereka (keluarga yang ditinggalkan) akan kehilangan potensi penghasilan sampai dengan 35 tahun! Lalu mereka hanya akan ter-sustain selama dua tahun saja dan selama 33 tahun sisanya entah apa yang akan terjadi pada mereka! Memang mengerikan.

(Note: 65 tahun - 30 tahun = 35 tahun)

Memang ini hanya semacam hipotesis sebagai cara menggugah pikiran untuk kembali mempertimbangkan besarnya nilai asuransi yang kita ambil. Apakah dengan memperbesar nilai pertanggungan asuransi -- yang berarti memperbesar nilai premi -- atau dengan cara lain yang mungkin bisa dicari tahu sendiri. Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk menghubungi agen asuransi untuk menanyakan nilai pertanggungan yang memadai dan perhitungan premi yang harus dibayarkan selama masa pertanggungan tersebut.

Dan tentu saja selama masa "pertaruhan" ini berlangsung, gaya hidup harus menyesuaikan terhadap pos pengeluaran tambahan yaitu premi asuransi.

Setidaknya bisa menambah sebuah peribahasa:

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan uang asuransi.

Atau mungkin urutan penulisannya salah. Entahlah. Tolong dikoreksi.

Jumat, 22 Januari 2010

Sampaikah Doaku?

Artikel aslinya bisa dibaca di sini.

Dengan GPS dan dipermudah Google Earth-lah, posisi Ka’bah di Mekkah, Arab Saudi, kini dengan mudahnya dijejak. Seperti ditunjukkan dari Goole Earth, koordinat letak Ka’bah adalah 21º 25′ 21.05” Lintang Utara dan 39º 49’ 34.31” Bujur Timur. Koordinat inilah yang memudahkan untuk melihat apakah posisi kiblat masjid yang ada di Indonesia sekarang ini melenceng atau tidak.


Aku jadi teringat tentang ketidakpercayaan orang saat tempat ibadah yang didirikannya dinyatakan meleset dari kiblat yang seharusnya. Apalagi bila kemudian umat merasakan khawatir bahwa selama ini ibadahnya di tempat tersebut, karena arahnya tidak tepat, menjadi tidak sampai kepada Yang Maha Kuasa. Penolakan penilaian dan pernyataan kalau tempat ibadah mereka melenceng kiblatnya menjadi kuat justru karena dengan demikian teknik yang dimiliki dan digunakan para pendiri tempat ibadat itu ternyata belum tepat benar! Ditambah lagi, pengakuan akan kiblat yang melenceng itu bisa mengganggu ketenangan beribadat umat atau malah dirasakan menyinggung ketokohan figur-figur tertentu dalam kelompok masyarakat. Artinya, ada potensi gesekan horizontal.

Urusan kepercayaan memang sangat sensitif di Indonesia apalagi bila sampai dikait-kaitkan dengan harga diri dan martabat keluarga tertentu. Sayang sekali. Menurutku, bila memang ada kiblat yang kurang tepat, cukup dengan menggeser alas sholat ke kiblat yang tepat ke Ka'bah saja (suatu cara yang dianggap menggampangkan semua hal). Menurutku lagi, urusan doa-doa yang kita panjatkan kepada Sang Pencipta adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan dan aku yakin, dimanapun kita berada, ke arah manapun kita menghadap, Dia mendengarkan doa-doa kita.

Dengan tidak meyakini dan mengkhawatirkan bahwa doa dan permintaan kita sampai kepada-Nya, lalu dari siapa lagi berkah dan keberuntungan yang kita terima selama ini?

Rabu, 06 Januari 2010

Anda Kira Saya Tolol?

Dear Friends,

Sudah sepantasnya kita selalu berhati-hati dan waspada terhadap segala macam cara penipuan yang menyamarkan usaha liciknya dengan seakan-akan itu hal yang resmi, wajar, atau lumrah.

Ada berapa banyak dari kita yang pernah menerima pesan dari orang/institusi yang tak dikenal yang menawarkan uang? Atau video lucu? Atau foto/video cabul? Atau hal lainnya? Aku sendiri pernah dapat dari Y!M berupa pesan baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia untuk mengklik tautan (link) tertentu yang disediakan karena akan ada "kejutan menyenangkan". Atau ada pesan ke inbox e-mail berupa tawaran uang, diploma, alat bantu seks, dan lainnya. Atau pesan dalam inbox Facebook dari seorang teman, berupa pesan yang anehnya berbeda dengan cara biasanya dia berkomunikasi dengan kita dan biasanya pemberitahuan untuk mengklik link tertentu. Atau sebuah komen di foto (lagi-lagi) Facebook yang dengan bahasa Indonesia yang akrab atau "gaul" meminta kita (lagi-lagi) mengklik link tertentu.

Atau pesan singkat ke inbox handphone kita, seperti yang terjadi pada pagi ini, sebagai berikut:

Pengirim: +6287841556480
Diterima: 10:11:20 06-10-2010
Pesan:
Anda mendapat 9 PESAN GAMBAR& SUARA dr +6287841556480 untuk mengetahui ketik: BAGI0878415564803000 kirim ke:168 kirim langsung sebanyak 9X. 99/sms


Tentu saja sebagai orang yang penuh curiga, aku menelepon ke 817 sebagai nomor informasi penyedia jasa selulerku. Pertanyaanku pada petugas adalah: "Apakah perintah BAGInomor teleponxxxx adalah cara pemberian pulsa?"
Petugas membenarkan, dengan menambahkan kalau pada saat ini hanya tersedia dua nilai nominal, yaitu 1500 dan 3000 yang berarti kita mentransfer pulsa prabayar kita sebesar nilai tersebut ke nomor yang diketik. Biayanya adalah Rp. 99,-/SMS yang akan dipotong dari nilai pulsa yang dikirim (dibebankan ke penerima).

Artinya, si pengirim pesan gelap itu mengharapkan aku dengan RASA PENASARAN akan melakukan perintah BAGInomor3000 sebanyak 9 kali yang akan menyebabkan pulsaku terpotong sebesar 27.000 dan dia akan mendapatkan pulsa sebesar 26.109!!!

Sayangnya, usahanya belum berhasil karena:
1. aku tidak kenal nomor itu dan jelas tidak mengharapkan ada pesan gambar dari nomor tak dikenal
2. aku orang yang membiasakan diri untuk curiga
3. aku pemakai nomor pascabayar (jadi kode itu tak akan berhasil)
4. aku lebih baik membayar biaya percakapan ke 817 (Rp. 350,-/panggilan exclude PPN) daripada melakukan instruksi dari pihak tak dikenal

Kali ini aku tidak berhasil kena tipu. Yang kulakukan sekarang adalah mengabaikan pesan tersebut. Bila teman-teman ada yang menerima pesan sejenis, sebaiknya TIDAK MELAKUKAN APA-APA DAN LANGSUNG HAPUS SAJA PESAN SEPERTI ITU.

Tetaplah berhati-hati; tetap waspada; dan mari saling berbagi pengalaman untuk melindungi sesama.

Rabu, 30 Desember 2009

Rest In Peace: Gus Dur

Hmm...

Tadi sore ada kabar tentang meninggalnya Gus Dur. Turut berduka cita.

Seorang lagi tokoh yang penuh warna di Indonesia telah pergi. Bisa-bisa sebentar lagi tokoh yang beredar bisa-bisa berwarna biru semua.

Gus Dur, memang aku tak pernah beruntung bertemu dirimu. Aku juga mungkin tak selalu setuju dengan gaya dan pernyataanmu. Aku juga rasanya pernah merasa antipati pada figurmu yang sepertinya dimanfaatkan dan membiarkan dirinya dimanfaatkan.

Tapi aku merasa bahwa pada dasarnya dirimu orang baik.

Juga, kuharap amalmu diterima Tuhan yang akan menerima tiap amal kita, menerima jiwamu seperti Dia menerima jiwa kita manusia yang punya baik dan salah.

Semoga istirahatmu tenang untuk selamanya.

Amin.

Senin, 28 Desember 2009

Rekor Yang Tak Pantas

Sebuah berita di televisi tadi sore menyebutkan tentang sebuah daerah di wilayah timur Indonesia yang mendapat penghargaan dari MURI karena tercatat sebagai penyelenggara nikah massal terbanyak di Indonesia.

Alasan kenapa begitu banyaknya peserta nikah massal adalah -- berdasarkan keterangan pejabat berwenang -- karena ternyata banyak pasangan yang telah menikah di daerah tersebut tapi tak mendaftarkan dan tak memiliki surat nikah resmi karena berbagai macam alasan, terutama karena tak ada biaya untuk itu. Jadi banyak peserta yang memanfaatkan acara ini untuk mendapatkan surat nikah resmi karena tak dipungut biaya. Acara ini bisa begitu ramai karena para peserta juga membawa anak bahkan cucu(!) ke lokasi. Sungguh meriah.

Begitu banyaknya peserta, dikatakan di berita itu, bahkan petugas MURI dan panitia sempat kesulitan mencatat jumlah peserta sebenarnya.

Kemudian ditunjukkan Piagam MURI yang dipegang dan dipamerkan dengan penuh kebanggaan oleh pejabat dan/atau pihak-pihak terkait(?).

Bodoh.

Di balik penghargaan Piagam MURI itu yang dipegang dan dipamerkan dengan bangga karena merasa berprestasi, sangat menohok perasaan bahwa orang-orang itu tidak menyadari bahwa selembar kertas itu juga berarti bukti buruknya kondisi bertahun-tahun di sana.

Bayangkan, sepasang suami-istri bisa sampai punya cucu tapi tak memiliki surat nikah resmi yang berarti keturunan mereka selama ini tak dianggap negara sebagai keturunan sah dari pernikahan tersebut dan biarpun mungkin pernikahan mereka diakui agama tapi menurut negara mereka dianggap tidak sah dan itu sama saja dengan pasangan kumpul kebo.

Selembar kertas Piagam MURI untuk rekor pelaksanaan nikah massal dengan peserta terbanyak itu bukanlah prestasi bila alasan pesertanya adalah karena ketiadaan biaya untuk menempuh prosedur resmi dengan biaya yang tercantum sesuai peraturan negara.

Itu dapat diartikan bahwa begitu banyaknya orang yang tidak mampu untuk mengikuti peraturan dari negara karena memberatkan secara ekonomi. Itu dapat diartikan bahwa banyak orang miskin di sana.

Itu dapat diartikan bahwa kesadaran untuk pencatatan pernikahannya sesuai peraturan yang berlaku di negara ini tidak dianggap penting oleh masyarakat. Itu dapat diartikan bahwa entah kesadaran -- mungkin, tingkat pendidikan? -- orang dewasa yang menikah di sana kurang memadai.

Itu dapat diartikan bahwa petugas dan pejabat instansi terkait abai terhadap peraturan atau undang-undang yang berlaku. Tidak ada pengertian dan usaha dari pejabat sebelumnya untuk menerobos kebuntuan akibat peraturan yang dirasa memberatkan banyak anggota masyarakat. Itu dapat diartikan pejabat yang sebelumnya tidak peka dan sudah selayaknya tidak diberikan renumerasi atau bahkan mungkin pensiun karena tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

Seharusnyalah pejabat pelaksana penyelenggara negara bertindak lebih baik dan proaktif serta berani melakukan terobosan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam hal ini penghargaan MURI ini adalah untuk (akhirnya) ketanggapan pembuat keputusan di bidang pencatatan pernikahan daerah. Bukan untuk orang-orang terdahulu dan jelas bukan untuk pemerintah daerah yang dulu dan sekarang.

Kemiskinan, pengabaian undang-undang, ketidakpedulian, mendapat "penghargaan" yang dibanggakan.

Bukti ketidakcerdasan?

Selasa, 08 Desember 2009

Rokok Yang Aman

Ini menarik, mengutip dari artikel koran Tribun Jabar hari Senin, 7 Desembar 2009, halaman 10.

= = = = = = =

Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)

Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.

Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.

Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.

Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.

"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.

Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.



Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.

"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.

Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.

Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.

"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.


= = = = = = =

Menurutmu?