Rabu, 17 Maret 2010

Asuransi Jiwa dan Pertaruhan

Tidak begitu banyak orang yang menyadari kebutuhan akan asuransi dan mengingat ada begitu banyak jenis asuransi tentu bisa saja membuat orang yang awam menjadi bingung sehingga mungkin saja memutuskan untuk tidak mengambil polis apapun.

Padahal ada banyak kemungkinan peristiwa yang berpotensi merugikan bisa terjadi pada siapa saja. Cuma memang karena kebiasaan optimistis kita bahwa hal itu tak akan terjadi atau kebiasaan kita untuk pasrah pada Yang Di Atas sehingga merasa sudah suratan takdir maka tidak merasa perlu mengambil polis asuransi untuk berjaga (bertaruh?) terhadap kemungkinan sesuatu peristiwa naas terjadi atau tidak pada diri kita sendiri.

Mungkin yang paling umum ditawarkan dan kita dengar adalah asuransi jiwa dan membaca soal perhitungan sederhana asuransi jiwa membuatku tersadar sesuatu hal:

Mungkin nilai asuransi jiwa yang kuambil terlalu kecil.

Begini: agen pertama yang membuatku tertarik membeli asuransi jiwa menawarkan nilai sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang pada saat itu kuanggap sudah cukup untuk permulaan karena premi yang harus kubayarkan tidak akan "terasa" pengaruhnya pada alokasi pengeluaran dana tiap bulan. Menurutku sebagai seorang pemula asuransi, adalah lebih penting untuk tidak sampai "menurunkan" kualitas hidup hanya karena bertaruh bahwa aku akan meninggal dalam sepuluh tahun ke depan. Pilihan yang saat itu kuanggap cerdas.

Kemudian aku tersadar, setelah membaca sebuah artikel koran, bahwa bila diandaikan penghasilanku per tahun adalah Rp. 50.000.000,00 (limapuluh juta rupiah) maka nilai nyawa yang kupertaruhkan di asuransi itu adalah hanya sebesar dua tahun kerja!

Bayangkan, nilaiku setelah mati hanya seharga dua tahun hidup bekerja membanting tulang.

Sungguh menjadi terasa sangat tidak layak.

Bayangkan lagi bila aku memiliki keluarga yang selama ini hanya mengandalkan sumber penghasilanku saja untuk menopang kehidupan. Artinya setelah aku meninggal mereka hanya akan bisa bertahan selama dua tahun saja (tentu kita tidak mempertimbangkan pengaruh inflasi kepada nilai uang dari asuransi tersebut). Pemikiran yang mengerikan.

Apakah aku yakin dengan bekal hidup selama dua tahun saja berarti keluarga yang kutinggalkan telah mampu menemukan sumber penghasilan baru untuk menopang kebutuhan hidup mereka? Aku tidak tahu dan aku tidak yakin.

Bahkan bila diandaikan kalau aku meninggal pada usia 30 tahun dan diandaikan masih tetap produktif dan bekerja sampai usia 65 tahun, artinya mereka (keluarga yang ditinggalkan) akan kehilangan potensi penghasilan sampai dengan 35 tahun! Lalu mereka hanya akan ter-sustain selama dua tahun saja dan selama 33 tahun sisanya entah apa yang akan terjadi pada mereka! Memang mengerikan.

(Note: 65 tahun - 30 tahun = 35 tahun)

Memang ini hanya semacam hipotesis sebagai cara menggugah pikiran untuk kembali mempertimbangkan besarnya nilai asuransi yang kita ambil. Apakah dengan memperbesar nilai pertanggungan asuransi -- yang berarti memperbesar nilai premi -- atau dengan cara lain yang mungkin bisa dicari tahu sendiri. Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk menghubungi agen asuransi untuk menanyakan nilai pertanggungan yang memadai dan perhitungan premi yang harus dibayarkan selama masa pertanggungan tersebut.

Dan tentu saja selama masa "pertaruhan" ini berlangsung, gaya hidup harus menyesuaikan terhadap pos pengeluaran tambahan yaitu premi asuransi.

Setidaknya bisa menambah sebuah peribahasa:

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan uang asuransi.

Atau mungkin urutan penulisannya salah. Entahlah. Tolong dikoreksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar