Rabu, 25 Februari 2009

Antisipasi Rabies???

Membaca arikel berita di sini, aku jadi bingung.

CMIIW, setahuku cara memastikan seorang (atau seekor) mamalia terkena rabies hanyalah dengan memeriksa jaringan syarafnya, dalam hal ini dengan mengambil sampel otak.

Lalu bagaimana caranya Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang bisa memastikan kalau anjing dan kucing yang mereka periksa dinyatakn negatif rabies pada saat itu? Memangnya mereka membelah tengkorak para hewan itu lalu mengambil sampel otak (the definitive way) atau sekedar memeriksa ciri-ciri fisiologis yang terlihat dari luar saja? Dalam hal ini misalnya air liur yang terus-menerus menetes?

Lalu kalau tak ada tanda-tanda itu, memangnya negatif? Siapa yang tahu kalau sebenarnya saat itu virus sedang dalam "masa pertumbuhan"?

Lalu apakah binatang-binatang itu divaksinasi? Tak ada dijelaskan di artikel tersebut. Artinya mungkin saja memberikan sense of false security.

Selasa, 24 Februari 2009

Dewan Bajak Laut

Lucu sekali, para anggota dewan yang terhormat kita yang berkantor di Senayan disamakan cara kerja-(baca: trik dan akal bulus)-nya dengan bajak laut! Di sebuah televisi swasta nasional pula.

Pembelaan yang bisa disampaikan seorang wakil ketua komisi hanyalah, "Itu hanya oknum. Jangan samakan semua anggota."

Pembelaan yang lemah.

Inilah Indonesia, negeri yang semakin lama semakin mengurangi alasan untuk tetap kita cintai dan kita bela. Para wakil rakyat yang mengaku mewakili rakyat, justru menjadi -- ingat: cuma oknum! -- kelompok orang yang berusaha dengan segala upaya memperkaya diri sendiri dan kelompoknya tanpa memperdulikan bahwa yang mereka lakukan itu tidak adil kepada rakyat Indonesia.

Bukankah dalam hal ini mereka justru melanggar dasar negara UUD 1945 dan Pancasila? Bukannya berarti mereka berkhianat terhadap negara? Bukankah seharusnya pengkhianatan seperti itu dihukum mati?

Sama dengan hukuman yang dilakukan zaman maritim dulu kepada kelompok orang yang berprofesi sebagai bajak laut: hukuman mati.

Kamis, 19 Februari 2009

Bank Swiss Tak Lagi Serahasia Dulu

Dari Portfolio.com

Dirjen Pajaknya Amerika Serikat (IRS) telah berhasil membuat bank terbesar Swiss, UBS, membayar denda sebesar USD 780 juta dan menyerahkan daftar nama warga negara Amerika nasabah mereka yang menyimpan dana di intitusi tersebut untuk menghindari pajak.

Diperkirakan ada USD 20 milyar dana tersimpan di UBS sehingga potensi pajak yang hilang sekitar USD 300 juta.

Jadi mikir, bisa tidak ya Ditjen Pajak kita memiliki cukup taring untuk berbuat hal yang sama? Tak usah jauh-jauh ke Swiss. Dimulai dari tetangga Indonesia yang dekat saja: Singapura.

Bila memang disinyalir adanya dana yang disimpan di sana untuk menghindari pajak, bisa tidak Ditjen Pajak mengusahakan hal yang mirip dengan kesuksesan IRS ke bank di Swiss?

Entah kenapa tapi sepertinya kita tahu jawabannya.

Kapan Kita Memberikan Jasa Gratis?

Kusadur dari artikel When To Work for Nothing oleh Michele Goodman.

Kita memberikan jasa gratis bila:

Kita tak punya klien atau portfolio. Ambil proyek jangka pendek yang dapat selesai dalam beberapa hari. Bila lebih lama daripada itu, kemungkinan waktu kita akan tersita untuk menyelesaikan pekerjaan gratis padahal kita juga memiliki pekerjaan yang ada bayarannya.

Klien idaman kita cekak. Misalnya majalah indie yang hanya bisa membantu kita dengan eksposure atas karya-karya kita tetapi bisa membuka jalan ke pekerjaan yang ada bayarannya. Pastikan saja kalau kita (tetap) tidak membuang terlalu banyak waktu mengerjakan project yang hanya memberikan manfaat dalam bentuk eksposure.

Kita menyumbangkan waktu untuk tujuan mulia. Misalnya untuk kerja sosial. Walaupun begitu, usahakan bahwa kita tetap memiliki kontrak -- meskipun informal -- yang menyatakan dengan jelas apa yang bisa dan tak akan bisa kita lakukan, dan kapan.

* * *

Namun, bila kita ditawarkan pekerjaan dalam bentuk pembayaran sebagai berikut, sebaiknya kita tak ambil pekerjaan tersebut:

Kredit untuk hasil pekerjaanmu (dan tak ada dalam bentuk lainnya). Kredit yang ditawarkan dalam hal ini tentu saja hanyalah berupa pencantuman nama saja. Sebagai catatan: kecuali bila dibayar untuk suatu pekerjaan, tentu saja kita berhak atas kredit/pencantuman nama pada hasil pekerjaan tersebut.

Situs bidding pekerjaan. Tentu saja seperti proses bidding lainnya, akan condong ke pihak yang menawar paling rendah. Lebih baik investasikan waktu dan usaha pengembangan bisnis pada cara lama: mengenal para pemilik usaha dan profesional lainnya.

Dibayar sesuai spesifikasi. Adalah buruk bagi para freelancer untuk bekerja pada klien yang ingin kita membuat karya lebih dahulu sesuai spesifikasi yang mereka inginkan sebelum mereka memutuskan cukup puas untuk membayar. Hasil yang lebih sering didapat dari ini adalah bayaran yang jauh lebih rendah dari yang sepantasnya didapatkan.

"When you agree to work free, you reinforce people’s misguided ideas that the self-employed are independently wealthy hobbyist. Don’t degrade your profession by letting a cheap client take advantage of you."

Jumat, 13 Februari 2009

Awali Dari Bawah

Siapa sih yang sekarang ini tidak bisa lepas dari alas kaki yang disebut sepatu? Siapa pula yang bisa menyangkal bahwa sepatu tidak berguna? Ya memang kalau sehari-harinya memakai sandal, setidaknya orang-orang di kota dan di desa wajar menggunakan sepatu. Setidaknya orang kebanyakan memiliki minimal satu pasang sepatu. Aku sendiri memiliki setidaknya dua pasang boots; dua pasang keds; dua pasang sneakers; total: enam pasang.

Padahal aku cuma memiliki sepasang kaki -- yang artinya dalam satu waktu yang sama aku cuma bisa memakai sepasang sepatu. Konsumtif? Tidak juga. Setidaknya aku tidak menilai diriku konsumtif dalam hal persepatuan.

Namun bukan itu yang ingin kubahas kali ini.

Harus kita akui kalau sekarang ini sepatu telah berkembang menjadi industri yang penting bagi kita. Ada banyak produsen merk luar negeri membuat produk sepatunya di Indonesia. Saking pentingnya sepatu, sesuatu yang sehari-hari berada di bawah dan kadang kita lupakan (kecuali kalau kita menginjak "ranjau darat") , bahkan seorang menteri pun ikut mengurus sepatu. Yap, maksudku adalah Menteri Perindustrian yang sekarang ini. 

Trend yang hendak diterapkan pemerintah kita kali ini sepertinya adalah anjuran (atau keharusan?) untuk menggunakan produksi dalam negeri dengan memulai dari bawah. Benar-benar dimulai dari bawah. Dimulai dari memakai sepatu buatan dalam negeri.

Sejak dari beberapa waktu yang lalu kali ini pemerintah berusaha menggerakkan perekonomian kita dengan cara yang terkadang membuatku bertanya-tanya: Adakah strategi pemerintah ataukah hanya sekedar taktik yang berubah-ubah dengan pertimbangan kepentingan jangka pendek?

Entahlah.

Tapi imbauan/peraturan ini menarik: Memulai mencintai produksi dalam negeri dengan diawali dari bawah. Dari kaki. Dimulai dari sepatu.

Menggunakan sepatu buatan dalam negeri digambarkan seakan-akan sebagai nasionalisme dan patriotisme yang membuatku ingin tertawa. Setidaknya aku sebagai seorang warga negara Republik Indonesia, bukannya tidak ingin menggunakan sepatu produksi dalam negeri. Hanya saja sebagai seorang konsumen, tentunya aku ingin membelanjakan uangku pribadi untuk membeli produk dengan kualitas yang memadai yang terjangkau!

Aku mendukung ajakan yang ini: Menggunakan produksi dalam negeri.

Aku cuma ingin memberi catatan kecil: Pastikan produknya berkualitas dengan harga yang terjangkau!