Hari ini, 20 Oktober 2009, presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono akan diambil sumpahnya dan dilantik untuk masa jabatan kedua, masa jabatan terakhirnya sebagai presiden RI.
Selain kenyataan bahwa acara ini akan menyebabkan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta dengan potensi kemacetan parah yang tinggi, memang sebaiknya menghindari ruas jalan tertentu agar urusan kita yang tak ada kaitannya dengan upacara pelantikan ini ikut terkena imbasnya dan terganggu.
Tetapi bukan itu maksudku kali ini, karena aku ingin sebenarnya ingin mengajukan sebuah pertanyaan: Masih bisakah kita optimis mendapatkan Indonesia yang lebih baik, lebih berkeadilan sosial, dan lebih demokratis?
Sejujurnya, segala macam berita yang (rasanya terlalu banyak) kukonsumsi akhir-akhir ini membuatku semakin pesimis tentang masa depan Indonesia yang lebih baik. Saking pesimisnya, bahkan paragraf ini aku edit beberapa kali dan keseluruhan posting kali ini aku ubah agar tidak mengandung hal-hal yang berpotensi menyeretku ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Atau perbuatan tidak menyenangkan. Atau hal lainnya yang mungkin tak jelas apa tapi tetap dijadikan alasan untuk menuntut di pengadilan atau minimal pelaporan ke pihak yang berwajib.
Sebegitu mengkuatirkannya kondisi sekarang ini? Sebegitu muramnya masa depan bangsaku ini?
Entahlah. Mungkin aku hanya memandang gelas di depanku ini separuh kosong.
Selasa, 20 Oktober 2009
Sabtu, 19 September 2009
Ritual (Belanja) Tahunan
Setiap tahunnya selalu saja terjadi kegiatan belanja besar-besaran pada saat menjelang hari besar keagamaan -- setidaknya beberapa agama yang kutahu dan yang diakui oleh pemerintah di Indonesia. Aktivitas ini tentu saja dipandang sebagai kesempatan besar bagi para penjual produk untuk berusaha mati-matian menarik perhatian para (calon) konsumen membelanjakan uangnya pada produk barang dan jasa.
Tidak ada yang unik dari hal ini karena kebiasaan berbelanja besar-besaran ini terjadi di banyak negara di seluruh planet. Hanya saja kegiatan ini membuat seorang casual buyer seperti saya yang hendak membeli beberapa barang kebutuhan sehari-hari menjadi harus mengantri lebih lama sebelum dilayani di kasir -- suatu keadaan yang menjengkelkan -- tetapi harus dimaklumi karena mau bagaimana lagi?
Ada begitu banyak orang malam itu, suatu pemandangan yang jarang terjadi di tempatku biasa berbelanja.
Setidaknya keramaian ini mengingatkanku pada keramaian tiap tanggal muda dimana banyak keluarga melakukan belanja bulanan. Sebuah momen yang selalu kuhindari dengan sengaja tidak datang ke tempat itu atau tempat lain yang sejenis karena keramaian berbelanja membuat aktivitas itu sendiri menjadi tidak nyaman.


Kasir yang bertugas ketika kutanyakan soal kondisi ramai seperti ini memberitahuku kalau jam kerja mereka bertambah panjang -- bisa sampai tengah malam -- karena ada begitu banyak orang datang untuk melakukan last-minute shopping.
Yah, karena tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membuatnya tidak terlalu merasa "tertekan" maka aku mengucapkan selamat melaksanakan tugas saja kepada kasir tersebut.
Label:
hypermarket,
life,
preparation,
ritual,
shopping
Jumat, 24 Juli 2009
About Security Checking
Following the bombs at JW Marriott / Ritz Carlton on July 17th, 2009, there were increasing level of security checking everywhere, including and not limited to offices and all public places like shopping malls.
Some people, including me, think that these increasing checking is useless. Because they don't check thoroughly anyway. Instead of opening people's hand-carries but doesn't really check what are the contents inside, it's better for these places to equip themselves with an X-ray scanner, like the ones they have at the airports. If, the intention is really for security reason. I suspect this is only to show that hey, we security people do our work! We check people's bags, you know???
Anyway...
Enjoy this picture below, freshly taken at a place I won't disclose here.
If you can't see the funny thing about it, you're really hopeless.
Some people, including me, think that these increasing checking is useless. Because they don't check thoroughly anyway. Instead of opening people's hand-carries but doesn't really check what are the contents inside, it's better for these places to equip themselves with an X-ray scanner, like the ones they have at the airports. If, the intention is really for security reason. I suspect this is only to show that hey, we security people do our work! We check people's bags, you know???
Anyway...
Enjoy this picture below, freshly taken at a place I won't disclose here.
If you can't see the funny thing about it, you're really hopeless.
Label:
bombs,
Jakarta,
JW Marriott,
national security,
Ritz-Carlton
Jumat, 17 Juli 2009
Aksesibilitas Terbatas?
Bayangkan, pada saat ada breaking news seperti ini, mengenai ledakan di dua tempat berbeda di kawasan Mega Kuningan (di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton), beberapa portal berita sama sekali tak bisa diakses, beberapa bisa diakses tapi lambat. Beberapa masih bisa diakses dengan kecepatan yang memadai.
Portal Detik, Liputan 6, dan Metro TV tak bisa diakses. Kompas bisa diakses cukup lancar. Apakah ini karena lebih banyak pengunjung yang berusaha mengakses di beberapa portal (sehingga menerima hit yang lebih banyak) membuat server mereka kewalahan? Entahlah.
Yang dapat kita harapkan bahwa situs-situs dan portal berita yang mengalami lonjakan pengunjung setelah adanya berita ini akan melakukan evaluasi dan menambah kemampuan dan kapasitas server mereka. Tentu saja ini demi kebaikan mereka sendiri yang pada akhirnya akan menguntungkan mereka dan para pemasang iklan.
Sementara itu, kita bisa saja bersiap menghadapi kegiatan pemeriksaan di hotel-hotel berbintang dan mal-mal semakin (sok) ketat seperti pengalaman kemarin-kemarin pasca ledakan bom. Begitulah sepertinya kondisi yang jamak di Indonesia. Kita harus mengalami serangan lagi baru kewaspadaan (seakan-akan) ditambah dan ditingkatkan.
Portal Detik, Liputan 6, dan Metro TV tak bisa diakses. Kompas bisa diakses cukup lancar. Apakah ini karena lebih banyak pengunjung yang berusaha mengakses di beberapa portal (sehingga menerima hit yang lebih banyak) membuat server mereka kewalahan? Entahlah.
Yang dapat kita harapkan bahwa situs-situs dan portal berita yang mengalami lonjakan pengunjung setelah adanya berita ini akan melakukan evaluasi dan menambah kemampuan dan kapasitas server mereka. Tentu saja ini demi kebaikan mereka sendiri yang pada akhirnya akan menguntungkan mereka dan para pemasang iklan.
Sementara itu, kita bisa saja bersiap menghadapi kegiatan pemeriksaan di hotel-hotel berbintang dan mal-mal semakin (sok) ketat seperti pengalaman kemarin-kemarin pasca ledakan bom. Begitulah sepertinya kondisi yang jamak di Indonesia. Kita harus mengalami serangan lagi baru kewaspadaan (seakan-akan) ditambah dan ditingkatkan.
Label:
bandwidth,
explosion,
indonesia,
mega kuningan,
news,
news portal
Jumat, 03 Juli 2009
Masa Depan Suram
Dalam tahun ini dan tahun depan prediksi kondisi pinjaman kartu kredit institusi keuangan Amerika Serikat begitu suram. Bahkan Citigroup yang juga memiliki cabang usaha di Indonesia diperkirakan mengalami kredit macet sampai 23% sebesar $19,9 milyar! Bila keadaan perekonomian dalam negeri Amerika Serikat makin menurun, besar kredit macet akan semakin besar lagi.
Bagaimana dengan di Indonesia? Berapa besar nilai utang kartu kredit yang macet sampai sekarang dan berapa prediksi tahun ini dan tahun depan?
Awalnya aku berharap, sebagai seorang pemakai produk keuangan Citibank, aku berharap Citigroup akan memperlakukan kastemernya lebih baik lagi. Aku mengharapkan ada peningkatan pelayanan dan perhatian dari institusi keuangan ini agar pelanggan mereka tetap setia.
Tapi sepertinya aku salah.
Yang akan dilakukan mereka kemungkinan adalah menawarkan makin banyak promosi dan program belanja; program cicilan yang makin agresif; tapi menaikkan suku bunga pinjaman dan cicilan! Bahkan iuran tahunan kartu kredit mereka kalau tak salah sudah dinaikkan efektif per Juli 2009!
Artinya kita sebagai konsumen dibujuk dan diiming-imingi promosi untuk spend more and more tetapi semua biaya dan beban dinaikkan.
Artinya kalau kita sampai berhutang kepada mereka, bayar bunganya akan semakin mencekik leher.
Mengerikan.
Bagaimana dengan di Indonesia? Berapa besar nilai utang kartu kredit yang macet sampai sekarang dan berapa prediksi tahun ini dan tahun depan?
Awalnya aku berharap, sebagai seorang pemakai produk keuangan Citibank, aku berharap Citigroup akan memperlakukan kastemernya lebih baik lagi. Aku mengharapkan ada peningkatan pelayanan dan perhatian dari institusi keuangan ini agar pelanggan mereka tetap setia.
Tapi sepertinya aku salah.
Yang akan dilakukan mereka kemungkinan adalah menawarkan makin banyak promosi dan program belanja; program cicilan yang makin agresif; tapi menaikkan suku bunga pinjaman dan cicilan! Bahkan iuran tahunan kartu kredit mereka kalau tak salah sudah dinaikkan efektif per Juli 2009!
Artinya kita sebagai konsumen dibujuk dan diiming-imingi promosi untuk spend more and more tetapi semua biaya dan beban dinaikkan.
Artinya kalau kita sampai berhutang kepada mereka, bayar bunganya akan semakin mencekik leher.
Mengerikan.
Label:
citibank,
citigroup,
credit card,
finance
Jumat, 29 Mei 2009
"Orang Miskin Pasti Korupsi"
Kemaren aku menonton berita yang menampilkan kutipan ucapan seorang politikus terkenal. Cukup mengejutkan memang, mendengar kata-kata seperti itu keluar dari dirinya yang selama ini kuanggap lebih arif daripada itu.
"Orang miskin itu pasti korupsi!"
Tapi sebenarnya bila dipikir-pikir lagi, aku setuju 100% dengan ucapan beliau, bahwa setiap orang miskin pasti akan korupsi.
Sayang sekali pernyataan tersebut direduksi dengan anggapan bahwa orang miskin harta ketika mendapatkan jabatan akan berusaha memperkaya dirinya sendiri. Sedangkan bila orang yang sudah kaya menjadi penjabat tidak akan tergoda menjadi koruptor.
Tentu saja pernyataan ini dikeluarkan beliau untuk mendukung dan membela salah seorang cawapres di partai mana beliau bergabung, karena cawapres tersebut mendapatkan serangan yang mempermasalahkan aset yang dimilikinya.
Bagiku, tidak cocok juga bila dikatakan kalau orang miskin (harta) itu pasti korupsi. Bagiku, korupsi itu terkait mental dan budaya.
Yang aku setujui dari kalimat "Orang miskin itu pasti korupsi!" bukan terkait dengan miskin harta/aset. Orang yang korupsi itu -- biarpun sudah kaya seperti si Qarun* -- bila miskin moralnya, akan tetap korupsi.
Jadi alangkah baiknya bila perbuatan korupsi dan miskin aset tidak dikaitkan dan dinyatakan dengan kata pasti yang definitif dan tak bisa digugat.
++++++++
NOTE: * Istilah "harta karun" AFAIK berasal dari kisah si Qarun yang begitu kayanya tetapi pada akhirnya dihukum Allah sehingga semua asetnya itu ditelan bumi. Jadi bila orang menggali tanah lalu ketemu harta emas, berlian, dll itu disebut harta karun karena bertujuan untuk mengingatkan manusia bahwa harta yang ditemukannya itu berasal dari pemberian Allah semata yang bisa diambil lagi kapan saja Dia mau.
Selasa, 28 April 2009
Mano Who?
Kebiasaan bangun pagi nyalain televisi.
Sekarang yang lagi banyak muncul di infotainment adalah tentang Manohara.
Mano who?
Sebenarnya cukup menggelitik. Ada persamaan "kasus" yang satu ini dengan kasus lainnya yang terjadi di wilayah Semarang.
Yup, Syech Puji. Masih ingat?
Outline:
Ada perempuan (yang dianggap) cantik masih dibawah umur.
Ada laki-laki yang jauh lebih tua tapi (dikabarkan) kaya raya (dan/atau berkedudukan terhormat).
Ada orangtua yang menyetujui terjadinya pernikahan antara si perempuan dan si laki-laki.
Ada (dugaan) motif insentif ekonomi sehingga pernikahan disetujui orangtua perempuan.
Jadi tentu saja aku merasa sulit untuk merasa iba pada airmata seorang ibu dan kakak perempuan dari Manohara. Aku bisa mengomentari lebih sinis lagi, tapi lebih baik kuhentikan dulu di sini.
Paling cuma bisa kuteruskan sebuah pesan dari orang bijak:
Kalau sudah memilih, terimalah konsekuensinya. Kalau pahit, pelajari dan jangan ulangi. Kalau manis, mungkin bisa diulangi.
Langganan:
Postingan (Atom)




