Rabu, 30 Desember 2009

Rest In Peace: Gus Dur

Hmm...

Tadi sore ada kabar tentang meninggalnya Gus Dur. Turut berduka cita.

Seorang lagi tokoh yang penuh warna di Indonesia telah pergi. Bisa-bisa sebentar lagi tokoh yang beredar bisa-bisa berwarna biru semua.

Gus Dur, memang aku tak pernah beruntung bertemu dirimu. Aku juga mungkin tak selalu setuju dengan gaya dan pernyataanmu. Aku juga rasanya pernah merasa antipati pada figurmu yang sepertinya dimanfaatkan dan membiarkan dirinya dimanfaatkan.

Tapi aku merasa bahwa pada dasarnya dirimu orang baik.

Juga, kuharap amalmu diterima Tuhan yang akan menerima tiap amal kita, menerima jiwamu seperti Dia menerima jiwa kita manusia yang punya baik dan salah.

Semoga istirahatmu tenang untuk selamanya.

Amin.

Senin, 28 Desember 2009

Rekor Yang Tak Pantas

Sebuah berita di televisi tadi sore menyebutkan tentang sebuah daerah di wilayah timur Indonesia yang mendapat penghargaan dari MURI karena tercatat sebagai penyelenggara nikah massal terbanyak di Indonesia.

Alasan kenapa begitu banyaknya peserta nikah massal adalah -- berdasarkan keterangan pejabat berwenang -- karena ternyata banyak pasangan yang telah menikah di daerah tersebut tapi tak mendaftarkan dan tak memiliki surat nikah resmi karena berbagai macam alasan, terutama karena tak ada biaya untuk itu. Jadi banyak peserta yang memanfaatkan acara ini untuk mendapatkan surat nikah resmi karena tak dipungut biaya. Acara ini bisa begitu ramai karena para peserta juga membawa anak bahkan cucu(!) ke lokasi. Sungguh meriah.

Begitu banyaknya peserta, dikatakan di berita itu, bahkan petugas MURI dan panitia sempat kesulitan mencatat jumlah peserta sebenarnya.

Kemudian ditunjukkan Piagam MURI yang dipegang dan dipamerkan dengan penuh kebanggaan oleh pejabat dan/atau pihak-pihak terkait(?).

Bodoh.

Di balik penghargaan Piagam MURI itu yang dipegang dan dipamerkan dengan bangga karena merasa berprestasi, sangat menohok perasaan bahwa orang-orang itu tidak menyadari bahwa selembar kertas itu juga berarti bukti buruknya kondisi bertahun-tahun di sana.

Bayangkan, sepasang suami-istri bisa sampai punya cucu tapi tak memiliki surat nikah resmi yang berarti keturunan mereka selama ini tak dianggap negara sebagai keturunan sah dari pernikahan tersebut dan biarpun mungkin pernikahan mereka diakui agama tapi menurut negara mereka dianggap tidak sah dan itu sama saja dengan pasangan kumpul kebo.

Selembar kertas Piagam MURI untuk rekor pelaksanaan nikah massal dengan peserta terbanyak itu bukanlah prestasi bila alasan pesertanya adalah karena ketiadaan biaya untuk menempuh prosedur resmi dengan biaya yang tercantum sesuai peraturan negara.

Itu dapat diartikan bahwa begitu banyaknya orang yang tidak mampu untuk mengikuti peraturan dari negara karena memberatkan secara ekonomi. Itu dapat diartikan bahwa banyak orang miskin di sana.

Itu dapat diartikan bahwa kesadaran untuk pencatatan pernikahannya sesuai peraturan yang berlaku di negara ini tidak dianggap penting oleh masyarakat. Itu dapat diartikan bahwa entah kesadaran -- mungkin, tingkat pendidikan? -- orang dewasa yang menikah di sana kurang memadai.

Itu dapat diartikan bahwa petugas dan pejabat instansi terkait abai terhadap peraturan atau undang-undang yang berlaku. Tidak ada pengertian dan usaha dari pejabat sebelumnya untuk menerobos kebuntuan akibat peraturan yang dirasa memberatkan banyak anggota masyarakat. Itu dapat diartikan pejabat yang sebelumnya tidak peka dan sudah selayaknya tidak diberikan renumerasi atau bahkan mungkin pensiun karena tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

Seharusnyalah pejabat pelaksana penyelenggara negara bertindak lebih baik dan proaktif serta berani melakukan terobosan yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam hal ini penghargaan MURI ini adalah untuk (akhirnya) ketanggapan pembuat keputusan di bidang pencatatan pernikahan daerah. Bukan untuk orang-orang terdahulu dan jelas bukan untuk pemerintah daerah yang dulu dan sekarang.

Kemiskinan, pengabaian undang-undang, ketidakpedulian, mendapat "penghargaan" yang dibanggakan.

Bukti ketidakcerdasan?

Selasa, 08 Desember 2009

Rokok Yang Aman

Ini menarik, mengutip dari artikel koran Tribun Jabar hari Senin, 7 Desembar 2009, halaman 10.

= = = = = = =

Proses Produksi Disertai Doa
(Para Kiai Launching Rokok Buatan Sendiri)

Sebuah produk rokok buatan santri di Malang, Jatim, launching pemasaran di pondok pesantren (pontren) besar Kota Tasikmalaya, Pontren Silalaltul Huda, Jalan Paseh, Minggu (6/12). Rokok bermerk Zid Plus (ZP) ini diklaim sebagai rokok hikmat.
Launching dilakukan di Tasikmalaya, karena daerah ini dikenal sebagai gudangnya pontren, kiai, ajengan dan santri. Rokok ZP tidak mengandung bahan kimia. Semua bahannya dari bahan herbal serta setiap proses pembuatannya, diberi doa secara khusus untuk kesehatan pemakainya.

Selain diklaim bisa menyehatkan badan, juga pada setiap keuntungan penjualan rokok akan disisihkan sebesar 10 persen untuk kepentingan syiar Islam. Hadir pada launching itu, pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin, pimpinan Perusahaan Rokok ZP H Muhammad Khirzuddin, sejumlah kiai dan ajengan serta puluhan santri.

Pimpinan ZP mengatakan, setelah launching di Pontren Silalatul Huda, jajaran armada pemasaran akan langsung bergerak. Tahap awal adalah mengirim produk ke pontren-pontren di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang menyatakan siap bekerjasama dalam hal pemasaran.

Pengambilan 10 persen dari keuntungan penjualan, bisa dilakukan pontren atau lembaga lain untuk diberikan kepada orang atau lembaga yang membutuhkan. Utamanya untuk biaya pendidikan dan infak kepada fakir miskin. Karena itu peran pembukuan sangat penting untuk mengetahui total keuntungan dan berapa yang disisihkan untuk infak.

"Saya optimistis rokok ini akan laku di kalangan pontren dan pasar umum karena walau berguna untuk kesehatan namun harganya jauh lebih murah ketimbang rokok biasa," ujar H Didin, panggilan akrab Pimpinan ZP, jebolan sebuah pontren terkenal di Malang. Untuk rokok kretek misalnya dijual hanya dengan harga RP 3.250 per bungkus isi 12 batang.

Sementara Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan sepanjang produk ini maslahatnya lebih besar untuk dipasarkan. "Diharapkan juga bisa meningkatkan ekonomi umat," ujarnya.



Inset Box: "Baca Basmalah Sebelum Merokok"
Uniknya, tolok ukur bahwa rokok ini aman untuk kesehatan dan bahkan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan dari hasil tes laboratorium. Tapi berdasar keyakinan jajaran ustad yang turut terlibat dalam pembuatan rokok herbal ini. Setiap tahapan pembuatan rokok selalu diberi doa.

"Doa demi doa inilah yang menjadi kekuatan hikmah yang terkandung dalam rokok. Makanya sebelum merokok, disarankan membaca basmalah sambil di dalam hati berharap penyakit yang diderita bisa sembuh. Nas doa Insya Allah akan sampai. jadi kami memandang tidak perlu lagi ada tes medis," jelas H Didin.

Pimpinan Pontren Silalatul Huda KH Aminudin mengatakan, terkait dengan hukum merokok diakuinya masih belum ada hukum kuat. "Khusus untuk produk rokok herbal ini, malah saya memandang maslahatnya akan jauh lebih banyak ketimbang mudaratnya. Karenanya, saya sendiri akan mencoba turut mengembangkan usaha ini," ujarnya.

Menurut KH Aminudin, jika dikelola dengan baik perusahaan rokok ZOd akan bisa meraih posisi berskala nasional. Pasalnya, rokok ini diproduksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama sehingga akan menarik minat umat untuk menggunakan rokok ini sebagai rokok sehari-hari.

"Lebih jauh juka sukses dikelola dna menjadi perusahaan rokok nasional, dipastikan akan turut mendongkrak ekonomi umat. Penyisihan sebesar 10 persen dari keuntungan yang diperoleh dari setiap penjualan, tentu saja nominalnya akan sangat besar. Itu tentu saja akan memberikan kontribusi bagi ekonomi umat," paparnya, sembari mengimbau umat Islam mulai melirik produk-produk yang berbasis agama.


= = = = = = =

Menurutmu?