Kamis, 01 Juli 2010
Adopsi Video, Belum Saatnya
Rabu, 30 Juni 2010
Tidak Menjawab Substansi
Rabu, 23 Juni 2010
Si Ikan Paus Yang Menyusahkan

Rabu, 26 Mei 2010
Err... Seseorang Mampu Menimbulkan Tsunami?
Senin, 19 April 2010
Pengamat Sayangkan Cara-Cara Intimidasi Ibas
Jakarta (ANTARA) - Seorang pengamat politik menyayangkan sikap putra Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang melakukan tekanan-tekanan kepada DPD dan DPC-DPC PD se-Jawa Timur untuk memilih calon ketua umum Andi Mallarangeng.
"Perilaku Ibas ini justru kontradiktif dengan pernyataannya sendiri, bahwa dukungannya pada Andi Malarangeng adalah dukungan pribadi dia sebagai seorang yang memiliki hak politik, seorang kader PD dan tidak berkaitan dengan sikap SBY sendiri," kata pengamat politik dari Geschellscahft fuer Techniche Zeichen (GTZ), Cecep Effendy, Cecep Effendy, di Jakarta, Senin.
Cecep menjelaskan Ibas diberikan kebebasan oleh SBY sebagai seorang kader PD dan sebagai seorang individu dewasa yang memiliki hak politik.
Menurut Cecep, sebenarnya ini sangat positif buat SBY sebagai gambaran bahwa SBY adalah sosok demokrat sejati.
"Namun, langkah Ibas menekan DPD dan DPC se-Jawa Timur untuk memilih Andi tentunya jauh dari kesan demokratis. Seharusnya DPD dan DPC itu dibiarkan memilih berdasarkan pertimbangan mereka yang rasional dan tidak boleh ada intimidasi seperti halnya kebebasan yang diberikan oleh SBY padanya," kata Cecep.
Cecep juga mengeritik langkah Andi dan timnya yang memanfaatkan Ibas untuk kepentingannya. Andi, katanya, telah memanfaatkan ketidakmatangan Ibas dalam berpolitik, dan Ibas dengan ketidakmatangannya mengikuti kemauan Andi.
Dalam pandangan Cecep, jika Ibas mendukung Andi, tidak ada yang salah, namun seharusnya hal itu dilakukan secara transparan dan tanpa tekanan.
"Ibas seharusnya sadar bahwa dukungan yang diberikan padanya harus dilakukan terbuka karena dengan keterbukaan akan menjadi preseden yang baik," katanya.
Kalau hal seperti ini dibiarkan, kata Cecp, akan terus dilakukan dan akan menjadi siklus. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena PD yang bisa dikatakan sebagai partai baru dengan politisi-politisi baru akan menjadi seperti partai lama lainnya.
Cecep mengharapkan seharusnya kongres PD dimanfaatkan untuk mengubah stigma buruk di masyarakat mengenai partai. PD harus memiliki paradigma yang berbeda dengan paradigma yang dianut oleh partai-partai lama yang tidak disukai oleh masyarakat.
"Cara tim Andi dan Ibas melakukan ini tentunya menggambarkan bahwa PD tidak ubahnya seperti partai lainnya. PD justru membuang momentum untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan masyarakat bahwa PD memang benar-benar berbeda dari partai-partai lainnya," kata Cecep.
Tekanan dan intimidasi tersebut, ujarnya, akan membuat masyarakat berpandangan omong kosong semua ucapan demokrasi. Tekanan yang dilakukan terhadap kader yang tidak sejalan dan demokrasi adalah bukti bahwa semuanya hanyalah omongan manis di mulut.
"Keluarga SBY seharusnya juga menghindar untuk didekati oleh calon-calon ketua umum. Ini seperti orde baru saja cukup mendekat ke keluarga penguasa tanpa harus kerja keras mendapatkan posisi. Seharusnya calon ketua umum itu bekerja untuk partai dan bukan hanya bekerja untuk menarik perhatian dukungan keluarga," katanya.
Sementara Ketua Tim sukses Anas Urbaningrum, Achmad Mubarok, meminta kubu Andi Mallarangeng menghentikan tekanan politik kepada sejumlah DPD dan DPC Partai Demokrat yang ingin mendukung pencalonan Anas Urbaningrum.
"Kami ingin persaingan ini berjalan fair. Hentikan tekanan politik kepada DPD dan DPC. Hentikan kampanye hitam. Biarkan persaingan berjalan fair seperti diamanatkan Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono," kata Mubarok
Mubarok mengakui tim Anas merespon tekanan politik yang semakin gencar dilakukan kubu Andi Mallarangeng terhadap DPC dan DPD yang mendukung Anas.
Dalam beberapa kesempatan, ujar Mubarok, tekanan terhadap DPC dan DPD jelas sekali dirasakan.
Mubarok mencontohkan, saat acara silaturahmi antara Anas dan DPC dan DPD, ada salah satu DPC dari Propinsi Banten yang dilarang mengikuti acara tersebut, karena mendapat perintah dari DPD yang mendukung Andi Mallarangeng.
Begitupun saat acara deklarasi yang digelar pekan lalu, menurut Mubarok, ada sejumlah DPC yang tidak bisa menghadiri acara itu karena adanya tekanan politik.
"Kami juga mendeteksi tekanan di propinsi Jawa Timur. Tapi saya yakin tidak akan berpengaruh banyak, karena Jatim sudah kompak mendukung Anas," katanya.
Meski mendapatkan tekanan dari kubu Andi, Mubarok mengatakan, pihaknya tetap akan menyikapi hal itu secara proporsional dan tidak menyerang balik, karena Anas lebih mengutamakan nilai-nilai kesantunan dalam berkampanye dan meraih dukungan.
"Kami ingin menjadikan soft power sebagai kekuatan," katanya.
Mengenai ketidakhadiran anggota keluarga Cikeas dalam deklarasi Anas, Mubarok membantah bahwa hal itu adalah cerminan bahwa dirinya tidak direstui. Ketidakhadiran keluarga Cikeas termasuk Ketua Pembina Partai Demokrat, Presiden Susilo.
Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti tidak direstui SBY, sebagaimana dipersepsikan sebagian pengamat politik di media massa. Yang benar adalah SBY mendukung semua kader Demokrat untuk kemajuan partai, stabilitas politik dan kehidupan berdemokrasi yang bermutu," kata Mubarok.
* * * * *
Well, what do you expect? Indonesia gitu lho.
Rabu, 17 Maret 2010
Asuransi Jiwa dan Pertaruhan
Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan uang asuransi.
Jumat, 22 Januari 2010
Sampaikah Doaku?
Dengan GPS dan dipermudah Google Earth-lah, posisi Ka’bah di Mekkah, Arab Saudi, kini dengan mudahnya dijejak. Seperti ditunjukkan dari Goole Earth, koordinat letak Ka’bah adalah 21º 25′ 21.05” Lintang Utara dan 39º 49’ 34.31” Bujur Timur. Koordinat inilah yang memudahkan untuk melihat apakah posisi kiblat masjid yang ada di Indonesia sekarang ini melenceng atau tidak.
Aku jadi teringat tentang ketidakpercayaan orang saat tempat ibadah yang didirikannya dinyatakan meleset dari kiblat yang seharusnya. Apalagi bila kemudian umat merasakan khawatir bahwa selama ini ibadahnya di tempat tersebut, karena arahnya tidak tepat, menjadi tidak sampai kepada Yang Maha Kuasa. Penolakan penilaian dan pernyataan kalau tempat ibadah mereka melenceng kiblatnya menjadi kuat justru karena dengan demikian teknik yang dimiliki dan digunakan para pendiri tempat ibadat itu ternyata belum tepat benar! Ditambah lagi, pengakuan akan kiblat yang melenceng itu bisa mengganggu ketenangan beribadat umat atau malah dirasakan menyinggung ketokohan figur-figur tertentu dalam kelompok masyarakat. Artinya, ada potensi gesekan horizontal.
Urusan kepercayaan memang sangat sensitif di Indonesia apalagi bila sampai dikait-kaitkan dengan harga diri dan martabat keluarga tertentu. Sayang sekali. Menurutku, bila memang ada kiblat yang kurang tepat, cukup dengan menggeser alas sholat ke kiblat yang tepat ke Ka'bah saja (suatu cara yang dianggap menggampangkan semua hal). Menurutku lagi, urusan doa-doa yang kita panjatkan kepada Sang Pencipta adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan dan aku yakin, dimanapun kita berada, ke arah manapun kita menghadap, Dia mendengarkan doa-doa kita.
Dengan tidak meyakini dan mengkhawatirkan bahwa doa dan permintaan kita sampai kepada-Nya, lalu dari siapa lagi berkah dan keberuntungan yang kita terima selama ini?