Jumat, 24 Juli 2009

About Security Checking

Following the bombs at JW Marriott / Ritz Carlton on July 17th, 2009, there were increasing level of security checking everywhere, including and not limited to offices and all public places like shopping malls.

Some people, including me, think that these increasing checking is useless. Because they don't check thoroughly anyway. Instead of opening people's hand-carries but doesn't really check what are the contents inside, it's better for these places to equip themselves with an X-ray scanner, like the ones they have at the airports. If, the intention is really for security reason. I suspect this is only to show that hey, we security people do our work! We check people's bags, you know???

Anyway...
Enjoy this picture below, freshly taken at a place I won't disclose here.
If you can't see the funny thing about it, you're really hopeless.


Jumat, 17 Juli 2009

Aksesibilitas Terbatas?

Bayangkan, pada saat ada breaking news seperti ini, mengenai ledakan di dua tempat berbeda di kawasan Mega Kuningan (di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton), beberapa portal berita sama sekali tak bisa diakses, beberapa bisa diakses tapi lambat. Beberapa masih bisa diakses dengan kecepatan yang memadai.

Portal Detik, Liputan 6, dan Metro TV tak bisa diakses. Kompas bisa diakses cukup lancar. Apakah ini karena lebih banyak pengunjung yang berusaha mengakses di beberapa portal (sehingga menerima hit yang lebih banyak) membuat server mereka kewalahan? Entahlah.

Yang dapat kita harapkan bahwa situs-situs dan portal berita yang mengalami lonjakan pengunjung setelah adanya berita ini akan melakukan evaluasi dan menambah kemampuan dan kapasitas server mereka. Tentu saja ini demi kebaikan mereka sendiri yang pada akhirnya akan menguntungkan mereka dan para pemasang iklan.

Sementara itu, kita bisa saja bersiap menghadapi kegiatan pemeriksaan di hotel-hotel berbintang dan mal-mal semakin (sok) ketat seperti pengalaman kemarin-kemarin pasca ledakan bom. Begitulah sepertinya kondisi yang jamak di Indonesia. Kita harus mengalami serangan lagi baru kewaspadaan (seakan-akan) ditambah dan ditingkatkan.

Jumat, 03 Juli 2009

Masa Depan Suram

Dalam tahun ini dan tahun depan prediksi kondisi pinjaman kartu kredit institusi keuangan Amerika Serikat begitu suram. Bahkan Citigroup yang juga memiliki cabang usaha di Indonesia diperkirakan mengalami kredit macet sampai 23% sebesar $19,9 milyar! Bila keadaan perekonomian dalam negeri Amerika Serikat makin menurun, besar kredit macet akan semakin besar lagi.

Bagaimana dengan di Indonesia? Berapa besar nilai utang kartu kredit yang macet sampai sekarang dan berapa prediksi tahun ini dan tahun depan?

Awalnya aku berharap, sebagai seorang pemakai produk keuangan Citibank, aku berharap Citigroup akan memperlakukan kastemernya lebih baik lagi. Aku mengharapkan ada peningkatan pelayanan dan perhatian dari institusi keuangan ini agar pelanggan mereka tetap setia.

Tapi sepertinya aku salah.

Yang akan dilakukan mereka kemungkinan adalah menawarkan makin banyak promosi dan program belanja; program cicilan yang makin agresif; tapi menaikkan suku bunga pinjaman dan cicilan! Bahkan iuran tahunan kartu kredit mereka kalau tak salah sudah dinaikkan efektif per Juli 2009!

Artinya kita sebagai konsumen dibujuk dan diiming-imingi promosi untuk spend more and more tetapi semua biaya dan beban dinaikkan.

Artinya kalau kita sampai berhutang kepada mereka, bayar bunganya akan semakin mencekik leher.

Mengerikan.

Jumat, 29 Mei 2009

"Orang Miskin Pasti Korupsi"

Kemaren aku menonton berita yang menampilkan kutipan ucapan seorang politikus terkenal. Cukup mengejutkan memang, mendengar kata-kata seperti itu keluar dari dirinya yang selama ini kuanggap lebih arif daripada itu.


"Orang miskin itu pasti korupsi!"


Tapi sebenarnya bila dipikir-pikir lagi, aku setuju 100% dengan ucapan beliau, bahwa setiap orang miskin pasti akan korupsi.


Sayang sekali pernyataan tersebut direduksi dengan anggapan bahwa orang miskin harta ketika mendapatkan jabatan akan berusaha memperkaya dirinya sendiri. Sedangkan bila orang yang sudah kaya menjadi penjabat tidak akan tergoda menjadi koruptor.


Tentu saja pernyataan ini dikeluarkan beliau untuk mendukung dan membela salah seorang cawapres di partai mana beliau bergabung, karena cawapres tersebut mendapatkan serangan yang mempermasalahkan aset yang dimilikinya.


Bagiku, tidak cocok juga bila dikatakan kalau orang miskin (harta) itu pasti korupsi. Bagiku, korupsi itu terkait mental dan budaya.


Yang aku setujui dari kalimat "Orang miskin itu pasti korupsi!" bukan terkait dengan miskin harta/aset. Orang yang korupsi itu -- biarpun sudah kaya seperti si Qarun* -- bila miskin moralnya, akan tetap korupsi.


Jadi alangkah baiknya bila perbuatan korupsi dan miskin aset tidak dikaitkan dan dinyatakan dengan kata pasti yang definitif dan tak bisa digugat.

++++++++

NOTE: * Istilah "harta karun" AFAIK berasal dari kisah si Qarun yang begitu kayanya tetapi pada akhirnya dihukum Allah sehingga semua asetnya itu ditelan bumi. Jadi bila orang menggali tanah lalu ketemu harta emas, berlian, dll itu disebut harta karun karena bertujuan untuk mengingatkan manusia bahwa harta yang ditemukannya itu berasal dari pemberian Allah semata yang bisa diambil lagi kapan saja Dia mau.

Selasa, 28 April 2009

Mano Who?

Kebiasaan bangun pagi nyalain televisi.

Sekarang yang lagi banyak muncul di infotainment adalah tentang Manohara.

Mano who?

Sebenarnya cukup menggelitik. Ada persamaan "kasus" yang satu ini dengan kasus lainnya yang terjadi di wilayah Semarang.

Yup, Syech Puji. Masih ingat?

Outline:

Ada perempuan (yang dianggap) cantik masih dibawah umur.
Ada laki-laki yang jauh lebih tua tapi (dikabarkan) kaya raya (dan/atau berkedudukan terhormat).
Ada orangtua yang menyetujui terjadinya pernikahan antara si perempuan dan si laki-laki.
Ada (dugaan) motif insentif ekonomi sehingga pernikahan disetujui orangtua perempuan.

Jadi tentu saja aku merasa sulit untuk merasa iba pada airmata seorang ibu dan kakak perempuan dari Manohara. Aku bisa mengomentari lebih sinis lagi, tapi lebih baik kuhentikan dulu di sini.

Paling cuma bisa kuteruskan sebuah pesan dari orang bijak:

Kalau sudah memilih, terimalah konsekuensinya. Kalau pahit, pelajari dan jangan ulangi. Kalau manis, mungkin bisa diulangi.

Jumat, 17 April 2009

Taxi with Receipt

So, it's been quite some time since my last post here. And I wasn't being so productive either. My contribution to this blog is so much less than the other contributor's, so in order to secure my position here, I gotta post something!

Or, at least that was what requested by the other contributor, you-know-who.
Nope, no threat whatsoever from him, just a simple "Please post something, I'm so sick of seeing my own name appear again and again on the last 10 posts or something.."
Ha..ha..

So, I was very confused what to post, I have been very "dry" on ideas, I was beginning to sweat, what am I gonna post here?? And then, BANG! This thing came up! It must be a sign from the Lord above that I still have some ability to write, I haven't lost it at all.

You know what this is?
For you who are not regular taxi-hopper, might not even remember there's a certain taxi in Jakarta called TRANSCAB, which provides not only good services, nice cars that are properly air-conditioned, and mini-TV unit inside their cars so we can enjoy some entertainment while trapped in traffic jam (and thus, ignoring the climbing figures on the meter...), they also provide receipt!

I repeat that, RECEIPT!

Why, it's something very usual for you?
Not for us here in Jakarta. Most taxis in Jakarta, I would've said ALL if I haven't experienced this just this morning, don't provide receipt. If we should charge the fee to our offices, we are forgiven to not provide the receipts, something that is going to make the accountants getting headache on justifying.

I've boarded TRANSCAB several times, and all these times I never noticed they do provide receipt, until this morning when I peeked at the meter before I paid, I saw some roll of paper right beside the meter, and I asked the driver was that paper for receipt? And he said yes, and then I asked him to print out one piece of receipt for me. Not that I'm going to charge it to my office, but what I was thinking was that : THERE! MY POST THIS MORNING! THANK GOD!!!

There is one weird thing about the time printed on the receipt, though. It said my travel time is 25 mins (08.57 - 09.22 AM), but then on lower row it said TIME is 06 mins and 21 secs. I guess the 6 mins 21 secs are the stop time, time counted when the car had to stop at redlights or other areas that it had to slow down to 0 KM/h. Probably...

So, for you who might need to have receipt to justify your trip inside Jakarta, you might want to use TRANSCAB if you see one on the street. I'm not advertising or anything, nor I suggest that this one is better on the security aspect, as I know I'd still prefer that other taxi that has the logo of a certain bird with certain color you-know-which for providing security feeling.

And, I'm done here! Hahaha....

Selasa, 03 Maret 2009

Pungutan 10% Dari Omzet?

Kaget juga membaca berita bahwa Pemerintah Kota Serang menetapkan pungutan kepada restoran di daerahnya sebesar 10% dari omzet.

Uhuk uhuk.

Bukannya tak mau membayar pajak atau pungutan, tetapi menetapkan nilai 10% dari omzet -- dimana nilainya dalam rupiah ditetapkan sendiri semau gue -- bukannya tergolong terlalu besar?