Selasa, 30 Desember 2008

Hotel Melati = Perilaku Asusila?

Beberapa hari yg lalu, sambil bengong karena libur tapi tidak punya agenda jelas, aku nonton tipi aja. Flipping through several channels, ga ada yg menarik, sampai tiba2 ada berita singkat.

Beritanya tentang Operasi Lilin di daerah Depok yg dilakukan di hotel melati.

Yang menarik buatku disini, rasanya ini bukan pertama kalinya berita razia yg dilakukan di hotel2 kelas melati. Malah, di bulan April lalu, juga ada razia sejenis di Garut.

Pertanyaannya : kenapa razianya hanya dilakukan di hotel kelas melati?
Dan yg menarik adalah komentar kepala Satpol PP Kabupaten Garut yg menyatakan perilaku asusila kerap dilakukan kelas melati bukan hotel berbintang. Mungkin maksudnya, kerap dilakukan DI hotel melati DAN BUKAN di hotel berbintang?

Alangkah naifnya komentar seperti itu ya!

Bukankah yg membedakan hanyalah kemampuan kantong para pelakunya? Tanpa mengomentari dari segi moralitas pelakunya, dalam hal ini, hanya isi kocek para pelaku yg membedakan "nasib" mereka : yg berduit pas-pasan hanya mampu menyewa kamar hotel melati utk melakukan keinginannya, sedangkan yg berkocek tebal bisa melakukannya di hotel-hotel mewah berbintang.

Lalu alangkah sialnya para pelaku kelas hotel melati itu, yg tertangkap hanya karena aparat telah berpraduga bahwa perilaku asusila hanya hanya kerap terjadi di hotel kelas melati. Dan betapa senangnya para pelaku yg tidur (atau "tidur") aman nyaman tentram di kamar hotel ber-AC dng selimut (dan "selimut") tebal yg menghangatkan, karena mereka tahu pasti mereka aman dari razia. Padahal yg mereka lakukan sama2 perbuatan yg jauh dari batas-batas susila.

Walaupun terdengar menggelikan, namun bukankah ini suatu bentuk ketidakadilan juga?

Kalau memang tujuan operasi ini adalah utk merazia orang-orang yg dianggap "tidak bermartabat, berperilaku yg melanggar batas2 susila", kenapa tidak merazia hotel-hotel berbintang juga? Selain hotel-hotel juga banyak tempat2 lain yg bisa dirazia : club, lounge, kafe-kafe. Sebagian (besar) dari tempat-tempat tersebut juga pasti banyak pengunjungnya yg melanggar batas susila. Dan pastinya, kalau kamar-kamar hotel berbintang di razia, PASTI TERAMAT BANYAK pasangan bukan pasutri yg menginap bersama entah utk melakukan apa.

Kenapa malah hanya merazia org2 yg mampunya cuma kelas melati, lalu nantinya utk bebas dari tahanan mereka harus "membayar" sejumlah tertentu lagi? Bukankah ini namanya "menimpakan tangga pada yg sudah terjatuh"?

Bagaimana kalau para pelaku kelas hotel melati itu bersatu padu mengumpulkan uangnya lalu menyewa satu kamar hotel berbintang, lalu melakukan orgy party beramai2 di kamar tersebut? Ga akan ketangkap kan? hahaha....Ide menarik bukan?

Bukannya aku menentang razia semacam ini, tapi please deh....klo memang mau adil, jgn cuma merazia hotel2 kelas melati. Ekstrimnya, buat kalangan bawah mereka mampunya memang cuma kelas melati, malah "direbut" pula kesenangan mereka yg terbatas itu (hahaha...). Kenapa tidak merebut kesenangan masyarakat golongan atas juga?

Tentunya seru kan melihat razia di hotel2 berbintang lima? :D

Tapi, kita semua sudah tahu jawabannya bukan? Tidak mungkin akan terjadi razia di hotel2 tersebut, dng alasan2 yg tidak perlulah disebutkan disini. Selama ini tidak pernah terjadi, dan tidak akan pernah terjadi juga, razia di hotel2 kelas atas dan tempat2 hiburan kelas atas. Jadi, orang2 yg berkocek tebal tetap saja dng tenang membooking kamar2 hotel2 kelas atas selama libur panjang ini, doing God knows what.

Sekali lagi, ini bukan menghakimi moralitas para pelakunya. Siapa yg berdosa dan siapa yg tidak, hanya Tuhan yg berhak menghakimi sesungguhnya. Yg ingin kukemukakan hanyalah, apakah selama ini operasi2 demikian hanya supaya terlihat supaya aparat melaksanakan tugasnya? Sebab, sesungguhnya, setiap hari di berbagai tempat, perbuatan asusila terjadi dimana2 dan bisa saja dirazia sejak kapan kapan. Tapi yg terlihat hanyalah, operasi demikian cuma terjadi saat dekat hari-hari besar keagamaan atau menjelang akhir tahun seperti sekarang.

Intinya, basi deeehhh...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar