Kamis, 01 Juli 2010

Adopsi Video, Belum Saatnya

Mumpung sekarang sedang musim ramai-ramainya tentang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, bolehlah kita mengomentari dua kejadian dramatis yang diributkan banyak fans kesebelasan timnas terkait. Yang pertama adalah gol Lampard yang tidak disahkan oleh wasit yang kebetulan tidak melihat bola masuk melewati garis gawang; serta gol Teves yang disahkan biarpun posisinya saat itu lebih dulu offside.

Banyak orang meributkan, kenapa sampai sekarang FIFA tidak juga mengesahkan peraturan bahwa wasit -- saat dalam keadaan membutuhkan konfirmasi soal suatu peristiwa -- dapat dibantu rekaman video agar keputusannya tepat dan adil.

Let me tell you why video recording assistance is not applicable.

Setidaknya ini menurut pendapatku pribadi, aturan yang dibuat FIFA harus dapat diterapkan oleh seluruh organisasi induk sepakbola negara anggotanya. Sekarang saat kita meminta, sebagian mungkin menuntut, agar penggunaan rekaman video dapat dipergunakan, kita perlu bertanya balik ke diri sendiri:

Mampukah PSSI menerapkan aturan baru ini?

Kalau kita merasa bahwa PSSI mungkin masih belum mampu menerapkannya, tak bisalah kita meminta FIFA agar memberlakukan aturan penggunaan rekaman video pertandingan. Ingat: aturan FIFA harus dapat diaplikasikan tanpa kecuali, tanpa dispensasi, pada para anggotanya. Ada seratus sekian negara anggota FIFA lalu berapa persen yang mampu mengadopsi standar penggunaan rekaman video pada pertandingannya?

Rabu, 30 Juni 2010

Tidak Menjawab Substansi

Bukankah ini menyenangkan?

Bayangkan saja, seorang Brigadir Jendral di Kepolisian Republik Indonesia menjawab laporan investigasi majalah Tempo dengan hanya mempersoalkan cover depan majalah tersebut tetapi tidak mengomentari soal substansi isi laporan utama yang dijadikan cover tersebut.

Ridiculous AND suspicious.

Bukannya menyatakan hal yang membuat rasa keadilan masyarakat terbantu, seperti: "Kami akan segera mengusut hal ini," malah berusaha menggambarkan para aparat penegak hukum (ha!) sebagai korban ketidakadilan dan prasangka.

Menurutku ini malah menyedihkan karena hanya mempersoalkan citra tanpa mengakui bahwa ada hal yang sepertinya salah dan perlu dikoreksi.

Sekarang bagaimana negara ini bisa diharapkan menjadi bersih dari korupsi dan the so-called mafia hukum?

Rabu, 23 Juni 2010

Si Ikan Paus Yang Menyusahkan

Ada berapa banyak dari kalian yang menggunakan layanan micro-blogging bernama twitter?

Sadarkah pada saat seperti sekarang ini ketika BANYAK perhatian penduduk dunia tertuju pada suatu peristiwa, atau rentetan acara, yang kita semua kenal dan tahu, apalagi sebagai penduduk di Indonesia: Piala Dunia 2010.

Kaitannya twitter dengan Piala Dunia 2010 apa kalau begitu?


Tiap kali ada pertandingan antara dua kesebelasan yang memiliki banyak penonton atau menyedot perhatian penduduk bumi yang kebetulan juga memiliki akun di twitter, sudah dapat diyakini akan kemunculan si ikan paus yang menyusahkan server twitter! Selalu saja muncul pesan "Twitter is over capacity." karena semua orang sibuk me-tweet opininya atau kata-katanya sendiri atau malah saling berbalasan.

Seperti ketika Slovenia vs. Inggris dan Amerika Serikat vs. Aljazair yang hasilnya dimenangi oleh Inggris dan Amerika Serikat sehingga kedua tim tersebut lolos ke babak berikutnya. Langsung saja twitter mengalami si ikan paus itu lagi.

Ada banyak pengguna layanan micro-blogging ini dan biarpun hampir selalu tak ada masalah berarti dalam penggunaan layanan ini, tetap saja terasa mengganggu kalau si ikan paus muncul pada saat kita ingin meluapkan perasaan kita dalam 140 karakter atau lebih pendek, tetapi server twitter mengalami overload.

Apakah ini berarti tim twitter kurang perhatian? Tidak juga. Apakah mereka tidak berusaha meningkatkan kapasitas server? Kurasa sudah. Buktinya frekuensi gangguan seperti ini yang kualami langsung justru makin berkurang. Memang masih ada tetapi tak sesering yang pernah kuingat dulu.

Ada perbaikan layanan itu sudah baik. Apalagi bila pengguna dan sekaligus pengembang twitter berusaha membuat program yang menarik untuk disiarkan kepada masyarakat luas.

Baiklah, mari kita kembali me-tweet!

Rabu, 26 Mei 2010

Err... Seseorang Mampu Menimbulkan Tsunami?

Iseng browsing dan menemukan artikel Konon, Abuya Pencipta Tsunami Aceh, yang membuatku takjub pada kemampuan imajinasi sesama manusia.

Seorang Hatijah Aam mengklaim bahwa mendiang suaminya, Asaari Muhammad alias Abuya yang pernah memimpin Darul Al Arqam di Malaysa, mampu mengangkat dan memindahkan air laut ke Aceh dengan tujuan menghentikan perang di sana.

Walaupun Abuya telah meninggal dunia tanggal 13 Mei 2010 dan telah dikuburkan tetapi karena (lagi-lagi) klaim Hatijah bahwa Abuya akan bangkit dari kubur jadi banyak pengikutnya yang menunggui makam.

Memang mengagumkan sekali kemampuan manusia untuk berimajinasi dan mengklaim hal dan peristiwa besar sebagai "karya" pribadi untuk mengagung-agungkan sosok sendiri (atau orang terdekat). Kalau boleh usul, bagaimana kalau wanita itu diisolasi di tempat yang tepat untuk kemudian dipantau perkembangan mentalnya lalu dicoba pula untuk diobati?

Senin, 19 April 2010

Pengamat Sayangkan Cara-Cara Intimidasi Ibas

 

Jakarta (ANTARA) - Seorang pengamat politik menyayangkan sikap putra Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang melakukan tekanan-tekanan kepada DPD dan DPC-DPC PD se-Jawa Timur untuk memilih calon ketua umum Andi Mallarangeng.

"Perilaku Ibas ini justru kontradiktif dengan pernyataannya sendiri, bahwa dukungannya pada Andi Malarangeng adalah dukungan pribadi dia sebagai seorang yang memiliki hak politik, seorang kader PD dan tidak berkaitan dengan sikap SBY sendiri," kata pengamat politik dari Geschellscahft fuer Techniche Zeichen (GTZ), Cecep Effendy, Cecep Effendy, di Jakarta, Senin.

Cecep menjelaskan Ibas diberikan kebebasan oleh SBY sebagai seorang kader PD dan sebagai seorang individu dewasa yang memiliki hak politik.

Menurut Cecep, sebenarnya ini sangat positif buat SBY sebagai gambaran bahwa SBY adalah sosok demokrat sejati.

"Namun, langkah Ibas menekan DPD dan DPC se-Jawa Timur untuk memilih Andi tentunya jauh dari kesan demokratis. Seharusnya DPD dan DPC itu dibiarkan memilih berdasarkan pertimbangan mereka yang rasional dan tidak boleh ada intimidasi seperti halnya kebebasan yang diberikan oleh SBY padanya," kata Cecep.

Cecep juga mengeritik langkah Andi dan timnya yang memanfaatkan Ibas untuk kepentingannya. Andi, katanya, telah memanfaatkan ketidakmatangan Ibas dalam berpolitik, dan Ibas dengan ketidakmatangannya mengikuti kemauan Andi.

Dalam pandangan Cecep, jika Ibas mendukung Andi, tidak ada yang salah, namun seharusnya hal itu dilakukan secara transparan dan tanpa tekanan.

"Ibas seharusnya sadar bahwa dukungan yang diberikan padanya harus dilakukan terbuka karena dengan keterbukaan akan menjadi preseden yang baik," katanya.

Kalau hal seperti ini dibiarkan, kata Cecp, akan terus dilakukan dan akan menjadi siklus. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena PD yang bisa dikatakan sebagai partai baru dengan politisi-politisi baru akan menjadi seperti partai lama lainnya.

Cecep mengharapkan seharusnya kongres PD dimanfaatkan untuk mengubah stigma buruk di masyarakat mengenai partai. PD harus memiliki paradigma yang berbeda dengan paradigma yang dianut oleh partai-partai lama yang tidak disukai oleh masyarakat.

"Cara tim Andi dan Ibas melakukan ini tentunya menggambarkan bahwa PD tidak ubahnya seperti partai lainnya. PD justru membuang momentum untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan masyarakat bahwa PD memang benar-benar berbeda dari partai-partai lainnya," kata Cecep.

Tekanan dan intimidasi tersebut, ujarnya, akan membuat masyarakat berpandangan omong kosong semua ucapan demokrasi. Tekanan yang dilakukan terhadap kader yang tidak sejalan dan demokrasi adalah bukti bahwa semuanya hanyalah omongan manis di mulut.

"Keluarga SBY seharusnya juga menghindar untuk didekati oleh calon-calon ketua umum. Ini seperti orde baru saja cukup mendekat ke keluarga penguasa tanpa harus kerja keras mendapatkan posisi. Seharusnya calon ketua umum itu bekerja untuk partai dan bukan hanya bekerja untuk menarik perhatian dukungan keluarga," katanya.

Sementara Ketua Tim sukses Anas Urbaningrum, Achmad Mubarok, meminta kubu Andi Mallarangeng menghentikan tekanan politik kepada sejumlah DPD dan DPC Partai Demokrat yang ingin mendukung pencalonan Anas Urbaningrum.

"Kami ingin persaingan ini berjalan fair. Hentikan tekanan politik kepada DPD dan DPC. Hentikan kampanye hitam. Biarkan persaingan berjalan fair seperti diamanatkan Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono," kata Mubarok

Mubarok mengakui tim Anas merespon tekanan politik yang semakin gencar dilakukan kubu Andi Mallarangeng terhadap DPC dan DPD yang mendukung Anas.

Dalam beberapa kesempatan, ujar Mubarok, tekanan terhadap DPC dan DPD jelas sekali dirasakan.

Mubarok mencontohkan, saat acara silaturahmi antara Anas dan DPC dan DPD, ada salah satu DPC dari Propinsi Banten yang dilarang mengikuti acara tersebut, karena mendapat perintah dari DPD yang mendukung Andi Mallarangeng.

Begitupun saat acara deklarasi yang digelar pekan lalu, menurut Mubarok, ada sejumlah DPC yang tidak bisa menghadiri acara itu karena adanya tekanan politik.

"Kami juga mendeteksi tekanan di propinsi Jawa Timur. Tapi saya yakin tidak akan berpengaruh banyak, karena Jatim sudah kompak mendukung Anas," katanya.

Meski mendapatkan tekanan dari kubu Andi, Mubarok mengatakan, pihaknya tetap akan menyikapi hal itu secara proporsional dan tidak menyerang balik, karena Anas lebih mengutamakan nilai-nilai kesantunan dalam berkampanye dan meraih dukungan.

"Kami ingin menjadikan soft power sebagai kekuatan," katanya.

Mengenai ketidakhadiran anggota keluarga Cikeas dalam deklarasi Anas, Mubarok membantah bahwa hal itu adalah cerminan bahwa dirinya tidak direstui. Ketidakhadiran keluarga Cikeas termasuk Ketua Pembina Partai Demokrat, Presiden Susilo.

Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti tidak direstui SBY, sebagaimana dipersepsikan sebagian pengamat politik di media massa. Yang benar adalah SBY mendukung semua kader Demokrat untuk kemajuan partai, stabilitas politik dan kehidupan berdemokrasi yang bermutu," kata Mubarok.

* * * * *

Well, what do you expect? Indonesia gitu lho.

Rabu, 17 Maret 2010

Asuransi Jiwa dan Pertaruhan

Tidak begitu banyak orang yang menyadari kebutuhan akan asuransi dan mengingat ada begitu banyak jenis asuransi tentu bisa saja membuat orang yang awam menjadi bingung sehingga mungkin saja memutuskan untuk tidak mengambil polis apapun.

Padahal ada banyak kemungkinan peristiwa yang berpotensi merugikan bisa terjadi pada siapa saja. Cuma memang karena kebiasaan optimistis kita bahwa hal itu tak akan terjadi atau kebiasaan kita untuk pasrah pada Yang Di Atas sehingga merasa sudah suratan takdir maka tidak merasa perlu mengambil polis asuransi untuk berjaga (bertaruh?) terhadap kemungkinan sesuatu peristiwa naas terjadi atau tidak pada diri kita sendiri.

Mungkin yang paling umum ditawarkan dan kita dengar adalah asuransi jiwa dan membaca soal perhitungan sederhana asuransi jiwa membuatku tersadar sesuatu hal:

Mungkin nilai asuransi jiwa yang kuambil terlalu kecil.

Begini: agen pertama yang membuatku tertarik membeli asuransi jiwa menawarkan nilai sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang pada saat itu kuanggap sudah cukup untuk permulaan karena premi yang harus kubayarkan tidak akan "terasa" pengaruhnya pada alokasi pengeluaran dana tiap bulan. Menurutku sebagai seorang pemula asuransi, adalah lebih penting untuk tidak sampai "menurunkan" kualitas hidup hanya karena bertaruh bahwa aku akan meninggal dalam sepuluh tahun ke depan. Pilihan yang saat itu kuanggap cerdas.

Kemudian aku tersadar, setelah membaca sebuah artikel koran, bahwa bila diandaikan penghasilanku per tahun adalah Rp. 50.000.000,00 (limapuluh juta rupiah) maka nilai nyawa yang kupertaruhkan di asuransi itu adalah hanya sebesar dua tahun kerja!

Bayangkan, nilaiku setelah mati hanya seharga dua tahun hidup bekerja membanting tulang.

Sungguh menjadi terasa sangat tidak layak.

Bayangkan lagi bila aku memiliki keluarga yang selama ini hanya mengandalkan sumber penghasilanku saja untuk menopang kehidupan. Artinya setelah aku meninggal mereka hanya akan bisa bertahan selama dua tahun saja (tentu kita tidak mempertimbangkan pengaruh inflasi kepada nilai uang dari asuransi tersebut). Pemikiran yang mengerikan.

Apakah aku yakin dengan bekal hidup selama dua tahun saja berarti keluarga yang kutinggalkan telah mampu menemukan sumber penghasilan baru untuk menopang kebutuhan hidup mereka? Aku tidak tahu dan aku tidak yakin.

Bahkan bila diandaikan kalau aku meninggal pada usia 30 tahun dan diandaikan masih tetap produktif dan bekerja sampai usia 65 tahun, artinya mereka (keluarga yang ditinggalkan) akan kehilangan potensi penghasilan sampai dengan 35 tahun! Lalu mereka hanya akan ter-sustain selama dua tahun saja dan selama 33 tahun sisanya entah apa yang akan terjadi pada mereka! Memang mengerikan.

(Note: 65 tahun - 30 tahun = 35 tahun)

Memang ini hanya semacam hipotesis sebagai cara menggugah pikiran untuk kembali mempertimbangkan besarnya nilai asuransi yang kita ambil. Apakah dengan memperbesar nilai pertanggungan asuransi -- yang berarti memperbesar nilai premi -- atau dengan cara lain yang mungkin bisa dicari tahu sendiri. Mungkin sudah saatnya mempertimbangkan untuk menghubungi agen asuransi untuk menanyakan nilai pertanggungan yang memadai dan perhitungan premi yang harus dibayarkan selama masa pertanggungan tersebut.

Dan tentu saja selama masa "pertaruhan" ini berlangsung, gaya hidup harus menyesuaikan terhadap pos pengeluaran tambahan yaitu premi asuransi.

Setidaknya bisa menambah sebuah peribahasa:

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan uang asuransi.

Atau mungkin urutan penulisannya salah. Entahlah. Tolong dikoreksi.