Minggu, 10 April 2011

Kita Ribut Karena...

Sekarang banyak orang sibuk membicarakan seorang anggota DPR yang menonton video dewasa saat sidang paripurna. Orang itu tak sadar bahwa kegiatannya dapat diamati oleh wartawan di balkon dengan peralatan yang tepat!

Benar sekali kalau banyak orang yang tak suka karena ternyata anggota dewan yang terhormat tersebut berasal dari partai pendukung Undang-Undang Anti Pornografi yang sebenarnya banyak ditentang masyarakat (tentunya banyak juga yang mendukung). Kelakuannya seperti manifestasi keadaan sekarang ini, begitu banyak orang munafik yang menyalahkan dan meneriakkan dosa orang-orang tetapi ternyata melakukan hal yang sama atau setidaknya sepadan!

Menjadi masalah karena kentara sekali ada standar ganda dalam penegakan hukum dan perlakuan antara rakyat biasa, pesohor, maupun anggota dewan, eksekutif, dan penegak hukum! Memuakkan tetapi ini fakta yang terjadi. Ada begitu banyaknya orang yang merasa memiliki aib dan berusaha menutup-nutupinya dengan mengumbar aib atau kesalahan orang lain. Tindakan self-preservation yang tidak mempedulikan etika, keadilan, kesetaraan, maupun hak orang lain.

Rasanya heboh anggota dewan bokep ini tidak akan berlanjut sampai ke pengadilan meskipun jelas-jelas beliau melanggar Undang-Undang Anti Pornografi karena tentu saja yang berlaku adalah:
Peraturan berlaku untuk semua orang kecuali bagi pembuat peraturan tersebut.
Memuakkan? Memang!

Rabu, 15 September 2010

Indonesia Jangan Menjadi Seperti Afganistan

Aku sangat mengharapkan negara kita ini, Indonesia, tak akan menjadi seperti Afganistan.

Baru kemarin melihat berita bahwa di Palu telah ditangkap sekian puluh imigran gelap asal Afganistan. Mereka ini menjadikan Indonesia sebagai tempat transit dalam perjalanan mereka menuju Australia.

Bayangkan seperti apa kondisi negara Indonesia jika ada sekian ratus orang dalam setahun melarikan diri dari sini? Tentu saja keadaan di sini sudah tak memadai lagi untuk mempertahankan penghidupan, bukan? Tapi rasanya sampai sekarang masih tertahankan hidup di tanah air sehingga tak ada kisah eksodus -- atau selama ini ditutup-tutupi?

Entahlah.

Perpindahan penduduk keluar negeri selama ini lebih banyak terkait soal masalah lapangan kerja. Bukan sampai karena merasa tak dapat hidup karena nyawanya terancam. Kecuali kalau misalnya kita membicarakan Papua yang sempat ada kabar pengungsi ke Australia. Itu aku kurang paham.

Janganlah sampai Indonesia seperti Afganistan yang penduduknya menjadi imigran ilegal yang menimbulkan masalah. Entah itu kalau sudah terjadi dengan negara Malaysia, aku kurang paham hal seperti ini.

Tetapi kemudian membaca berita tentang betapa luas dan sistemiknya korupsi di sana sampai bisa saja melumpuhkan negara? Wah, ini membuatku benar-benar cemas membayangkan kalau hal yang sama sampai terjadi di Indonesia. Pemerintahan yang korup, dan Taliban. Entah sampai kapan negara dan pemerintahannya dapat bertahan mengalami gangguan internal dan gempuran dari pihak bersenjata yang tak menyukai pemerintahan yang sedang berdiri dan menjadi penyelenggara negara. Yang jelas rakyatlah yang sengsara dan entah kepada siapa mendapatkan bantuan bila pemerintah yang berkuasa tak dapat diharapkan pertolongannya.

Jangan sampai Indonesia menjadi seperti Afganistan.

Kamis, 09 September 2010

Mungkin Ada Cara Lain

Mungkin ada cara lain yang lebih tepat untuk menyelamatkan generasi muda bangsa Indonesia. Dengan menuntut pemerintah daerah yang mengatur (baca: membatasi) warnet dan pusat permainan online terasa seperti hal yang kurang pas untuk dilakukan.

Memang dengan niat baik tetapi dengan cara yang paling gampang yang dapat dipikirkan untuk dilakukan, hal ini terdengar sebagai sebuah upaya mundur. Bukankah paling tepat itu adalah orangtua dan lingkunganlah yang mendidik/mengajari anak-anak? Menyalahkan pihak sekolah yang membiarkan pemakaian handphone di sekolah dan pemerintah daerah yang tak mengatur keberadaan warnet atau pusat online games seperti tak mengakui peran diri sendiri dalam membesarkan anak.

Bila ada anak yang tak mau mendengarkan kata-kata orangtuanya, bukannya ada peran orangtua dan lingkungannya sendiri yang menyebabkan hal semacam ini sampai terjadi tanpa ada perbaikan?

Kamis, 01 Juli 2010

Adopsi Video, Belum Saatnya

Mumpung sekarang sedang musim ramai-ramainya tentang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, bolehlah kita mengomentari dua kejadian dramatis yang diributkan banyak fans kesebelasan timnas terkait. Yang pertama adalah gol Lampard yang tidak disahkan oleh wasit yang kebetulan tidak melihat bola masuk melewati garis gawang; serta gol Teves yang disahkan biarpun posisinya saat itu lebih dulu offside.

Banyak orang meributkan, kenapa sampai sekarang FIFA tidak juga mengesahkan peraturan bahwa wasit -- saat dalam keadaan membutuhkan konfirmasi soal suatu peristiwa -- dapat dibantu rekaman video agar keputusannya tepat dan adil.

Let me tell you why video recording assistance is not applicable.

Setidaknya ini menurut pendapatku pribadi, aturan yang dibuat FIFA harus dapat diterapkan oleh seluruh organisasi induk sepakbola negara anggotanya. Sekarang saat kita meminta, sebagian mungkin menuntut, agar penggunaan rekaman video dapat dipergunakan, kita perlu bertanya balik ke diri sendiri:

Mampukah PSSI menerapkan aturan baru ini?

Kalau kita merasa bahwa PSSI mungkin masih belum mampu menerapkannya, tak bisalah kita meminta FIFA agar memberlakukan aturan penggunaan rekaman video pertandingan. Ingat: aturan FIFA harus dapat diaplikasikan tanpa kecuali, tanpa dispensasi, pada para anggotanya. Ada seratus sekian negara anggota FIFA lalu berapa persen yang mampu mengadopsi standar penggunaan rekaman video pada pertandingannya?

Rabu, 30 Juni 2010

Tidak Menjawab Substansi

Bukankah ini menyenangkan?

Bayangkan saja, seorang Brigadir Jendral di Kepolisian Republik Indonesia menjawab laporan investigasi majalah Tempo dengan hanya mempersoalkan cover depan majalah tersebut tetapi tidak mengomentari soal substansi isi laporan utama yang dijadikan cover tersebut.

Ridiculous AND suspicious.

Bukannya menyatakan hal yang membuat rasa keadilan masyarakat terbantu, seperti: "Kami akan segera mengusut hal ini," malah berusaha menggambarkan para aparat penegak hukum (ha!) sebagai korban ketidakadilan dan prasangka.

Menurutku ini malah menyedihkan karena hanya mempersoalkan citra tanpa mengakui bahwa ada hal yang sepertinya salah dan perlu dikoreksi.

Sekarang bagaimana negara ini bisa diharapkan menjadi bersih dari korupsi dan the so-called mafia hukum?

Rabu, 23 Juni 2010

Si Ikan Paus Yang Menyusahkan

Ada berapa banyak dari kalian yang menggunakan layanan micro-blogging bernama twitter?

Sadarkah pada saat seperti sekarang ini ketika BANYAK perhatian penduduk dunia tertuju pada suatu peristiwa, atau rentetan acara, yang kita semua kenal dan tahu, apalagi sebagai penduduk di Indonesia: Piala Dunia 2010.

Kaitannya twitter dengan Piala Dunia 2010 apa kalau begitu?


Tiap kali ada pertandingan antara dua kesebelasan yang memiliki banyak penonton atau menyedot perhatian penduduk bumi yang kebetulan juga memiliki akun di twitter, sudah dapat diyakini akan kemunculan si ikan paus yang menyusahkan server twitter! Selalu saja muncul pesan "Twitter is over capacity." karena semua orang sibuk me-tweet opininya atau kata-katanya sendiri atau malah saling berbalasan.

Seperti ketika Slovenia vs. Inggris dan Amerika Serikat vs. Aljazair yang hasilnya dimenangi oleh Inggris dan Amerika Serikat sehingga kedua tim tersebut lolos ke babak berikutnya. Langsung saja twitter mengalami si ikan paus itu lagi.

Ada banyak pengguna layanan micro-blogging ini dan biarpun hampir selalu tak ada masalah berarti dalam penggunaan layanan ini, tetap saja terasa mengganggu kalau si ikan paus muncul pada saat kita ingin meluapkan perasaan kita dalam 140 karakter atau lebih pendek, tetapi server twitter mengalami overload.

Apakah ini berarti tim twitter kurang perhatian? Tidak juga. Apakah mereka tidak berusaha meningkatkan kapasitas server? Kurasa sudah. Buktinya frekuensi gangguan seperti ini yang kualami langsung justru makin berkurang. Memang masih ada tetapi tak sesering yang pernah kuingat dulu.

Ada perbaikan layanan itu sudah baik. Apalagi bila pengguna dan sekaligus pengembang twitter berusaha membuat program yang menarik untuk disiarkan kepada masyarakat luas.

Baiklah, mari kita kembali me-tweet!