Aku sangat mengharapkan negara kita ini, Indonesia, tak akan menjadi seperti Afganistan.
Baru kemarin melihat berita bahwa di Palu telah ditangkap sekian puluh imigran gelap asal Afganistan. Mereka ini menjadikan Indonesia sebagai tempat transit dalam perjalanan mereka menuju Australia.
Bayangkan seperti apa kondisi negara Indonesia jika ada sekian ratus orang dalam setahun melarikan diri dari sini? Tentu saja keadaan di sini sudah tak memadai lagi untuk mempertahankan penghidupan, bukan? Tapi rasanya sampai sekarang masih tertahankan hidup di tanah air sehingga tak ada kisah eksodus -- atau selama ini ditutup-tutupi?
Entahlah.
Perpindahan penduduk keluar negeri selama ini lebih banyak terkait soal masalah lapangan kerja. Bukan sampai karena merasa tak dapat hidup karena nyawanya terancam. Kecuali kalau misalnya kita membicarakan Papua yang sempat ada kabar pengungsi ke Australia. Itu aku kurang paham.
Janganlah sampai Indonesia seperti Afganistan yang penduduknya menjadi imigran ilegal yang menimbulkan masalah. Entah itu kalau sudah terjadi dengan negara Malaysia, aku kurang paham hal seperti ini.
Tetapi kemudian membaca berita tentang betapa luas dan sistemiknya korupsi di sana sampai bisa saja melumpuhkan negara? Wah, ini membuatku benar-benar cemas membayangkan kalau hal yang sama sampai terjadi di Indonesia. Pemerintahan yang korup, dan Taliban. Entah sampai kapan negara dan pemerintahannya dapat bertahan mengalami gangguan internal dan gempuran dari pihak bersenjata yang tak menyukai pemerintahan yang sedang berdiri dan menjadi penyelenggara negara. Yang jelas rakyatlah yang sengsara dan entah kepada siapa mendapatkan bantuan bila pemerintah yang berkuasa tak dapat diharapkan pertolongannya.
Jangan sampai Indonesia menjadi seperti Afganistan.
Rabu, 15 September 2010
Kamis, 09 September 2010
Mungkin Ada Cara Lain
Mungkin ada cara lain yang lebih tepat untuk menyelamatkan generasi muda bangsa Indonesia. Dengan menuntut pemerintah daerah membuat perda yang mengatur (baca: membatasi) warnet dan pusat permainan online terasa seperti hal yang kurang pas untuk dilakukan.
Memang dengan niat baik tetapi dengan cara yang paling gampang yang dapat dipikirkan untuk dilakukan, hal ini terdengar sebagai sebuah upaya mundur. Bukankah paling tepat itu adalah orangtua dan lingkunganlah yang mendidik/mengajari anak-anak? Menyalahkan pihak sekolah yang membiarkan pemakaian handphone di sekolah dan pemerintah daerah yang tak mengatur keberadaan warnet atau pusat online games seperti tak mengakui peran diri sendiri dalam membesarkan anak.
Bila ada anak yang tak mau mendengarkan kata-kata orangtuanya, bukannya ada peran orangtua dan lingkungannya sendiri yang menyebabkan hal semacam ini sampai terjadi tanpa ada perbaikan?
Memang dengan niat baik tetapi dengan cara yang paling gampang yang dapat dipikirkan untuk dilakukan, hal ini terdengar sebagai sebuah upaya mundur. Bukankah paling tepat itu adalah orangtua dan lingkunganlah yang mendidik/mengajari anak-anak? Menyalahkan pihak sekolah yang membiarkan pemakaian handphone di sekolah dan pemerintah daerah yang tak mengatur keberadaan warnet atau pusat online games seperti tak mengakui peran diri sendiri dalam membesarkan anak.
Bila ada anak yang tak mau mendengarkan kata-kata orangtuanya, bukannya ada peran orangtua dan lingkungannya sendiri yang menyebabkan hal semacam ini sampai terjadi tanpa ada perbaikan?
Label:
backward,
kerja,
kompetensi,
korupsi,
news,
Peraturan Daerah,
sekolah
Minggu, 15 Agustus 2010
Kamis, 01 Juli 2010
Adopsi Video, Belum Saatnya
Mumpung sekarang sedang musim ramai-ramainya tentang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, bolehlah kita mengomentari dua kejadian dramatis yang diributkan banyak fans kesebelasan timnas terkait. Yang pertama adalah gol Lampard yang tidak disahkan oleh wasit yang kebetulan tidak melihat bola masuk melewati garis gawang; serta gol Teves yang disahkan biarpun posisinya saat itu lebih dulu offside.
Banyak orang meributkan, kenapa sampai sekarang FIFA tidak juga mengesahkan peraturan bahwa wasit -- saat dalam keadaan membutuhkan konfirmasi soal suatu peristiwa -- dapat dibantu rekaman video agar keputusannya tepat dan adil.
Let me tell you why video recording assistance is not applicable.
Setidaknya ini menurut pendapatku pribadi, aturan yang dibuat FIFA harus dapat diterapkan oleh seluruh organisasi induk sepakbola negara anggotanya. Sekarang saat kita meminta, sebagian mungkin menuntut, agar penggunaan rekaman video dapat dipergunakan, kita perlu bertanya balik ke diri sendiri:
Mampukah PSSI menerapkan aturan baru ini?
Kalau kita merasa bahwa PSSI mungkin masih belum mampu menerapkannya, tak bisalah kita meminta FIFA agar memberlakukan aturan penggunaan rekaman video pertandingan. Ingat: aturan FIFA harus dapat diaplikasikan tanpa kecuali, tanpa dispensasi, pada para anggotanya. Ada seratus sekian negara anggota FIFA lalu berapa persen yang mampu mengadopsi standar penggunaan rekaman video pada pertandingannya?
Rabu, 30 Juni 2010
Tidak Menjawab Substansi
Bukankah ini menyenangkan?
Bayangkan saja, seorang Brigadir Jendral di Kepolisian Republik Indonesia menjawab laporan investigasi majalah Tempo dengan hanya mempersoalkan cover depan majalah tersebut tetapi tidak mengomentari soal substansi isi laporan utama yang dijadikan cover tersebut.
Ridiculous AND suspicious.
Bukannya menyatakan hal yang membuat rasa keadilan masyarakat terbantu, seperti: "Kami akan segera mengusut hal ini," malah berusaha menggambarkan para aparat penegak hukum (ha!) sebagai korban ketidakadilan dan prasangka.
Menurutku ini malah menyedihkan karena hanya mempersoalkan citra tanpa mengakui bahwa ada hal yang sepertinya salah dan perlu dikoreksi.
Sekarang bagaimana negara ini bisa diharapkan menjadi bersih dari korupsi dan the so-called mafia hukum?
Label:
investigasi,
keadilan sosial,
laporan utama,
majalah,
media massa,
polisi,
Tempo
Rabu, 23 Juni 2010
Si Ikan Paus Yang Menyusahkan
Ada berapa banyak dari kalian yang menggunakan layanan micro-blogging bernama twitter?

Sadarkah pada saat seperti sekarang ini ketika BANYAK perhatian penduduk dunia tertuju pada suatu peristiwa, atau rentetan acara, yang kita semua kenal dan tahu, apalagi sebagai penduduk di Indonesia: Piala Dunia 2010.
Kaitannya twitter dengan Piala Dunia 2010 apa kalau begitu?

Tiap kali ada pertandingan antara dua kesebelasan yang memiliki banyak penonton atau menyedot perhatian penduduk bumi yang kebetulan juga memiliki akun di twitter, sudah dapat diyakini akan kemunculan si ikan paus yang menyusahkan server twitter! Selalu saja muncul pesan "Twitter is over capacity." karena semua orang sibuk me-tweet opininya atau kata-katanya sendiri atau malah saling berbalasan.
Seperti ketika Slovenia vs. Inggris dan Amerika Serikat vs. Aljazair yang hasilnya dimenangi oleh Inggris dan Amerika Serikat sehingga kedua tim tersebut lolos ke babak berikutnya. Langsung saja twitter mengalami si ikan paus itu lagi.
Ada banyak pengguna layanan micro-blogging ini dan biarpun hampir selalu tak ada masalah berarti dalam penggunaan layanan ini, tetap saja terasa mengganggu kalau si ikan paus muncul pada saat kita ingin meluapkan perasaan kita dalam 140 karakter atau lebih pendek, tetapi server twitter mengalami overload.
Apakah ini berarti tim twitter kurang perhatian? Tidak juga. Apakah mereka tidak berusaha meningkatkan kapasitas server? Kurasa sudah. Buktinya frekuensi gangguan seperti ini yang kualami langsung justru makin berkurang. Memang masih ada tetapi tak sesering yang pernah kuingat dulu.
Ada perbaikan layanan itu sudah baik. Apalagi bila pengguna dan sekaligus pengembang twitter berusaha membuat program yang menarik untuk disiarkan kepada masyarakat luas.
Baiklah, mari kita kembali me-tweet!
Rabu, 26 Mei 2010
Err... Seseorang Mampu Menimbulkan Tsunami?
Iseng browsing dan menemukan artikel Konon, Abuya Pencipta Tsunami Aceh, yang membuatku takjub pada kemampuan imajinasi sesama manusia.
Seorang Hatijah Aam mengklaim bahwa mendiang suaminya, Asaari Muhammad alias Abuya yang pernah memimpin Darul Al Arqam di Malaysa, mampu mengangkat dan memindahkan air laut ke Aceh dengan tujuan menghentikan perang di sana.
Walaupun Abuya telah meninggal dunia tanggal 13 Mei 2010 dan telah dikuburkan tetapi karena (lagi-lagi) klaim Hatijah bahwa Abuya akan bangkit dari kubur jadi banyak pengikutnya yang menunggui makam.
Memang mengagumkan sekali kemampuan manusia untuk berimajinasi dan mengklaim hal dan peristiwa besar sebagai "karya" pribadi untuk mengagung-agungkan sosok sendiri (atau orang terdekat). Kalau boleh usul, bagaimana kalau wanita itu diisolasi di tempat yang tepat untuk kemudian dipantau perkembangan mentalnya lalu dicoba pula untuk diobati?
Label:
imanjinasi,
indonesia,
klaim,
malaysia,
tsunami
Langganan:
Postingan (Atom)